
Sejak 15 Februari 2026, lima santri dari Pesantren PERSIS Bangil menjalankan amanah Program Latihan Khidmah Jam’iyyah (PLKJ) di Dusun Pondok Kobong, Desa Sumber Petung, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang. Mereka adalah Amir Zuhdi Rabbani, Bagus Adia Tahta, Daris Indra Adhyasta, Naufal Farih, dan Umar Al Faruq.
Keberangkatan mereka diantar langsung oleh Ustadz Arie Prima Rahmatullah, Lc., bersama Ustadz Muhammad Syafi’i. Insya Allah, mereka akan dijemput kembali pada 10 Maret 2026, setelah menuntaskan masa pengabdian.
Di dusun yang masih dipenuhi pepohonan besar dan udara yang terasa dingin itu, berdiri Masjid Al Muhajirin, pusat aktivitas dakwah dan pembinaan umat yang dibimbing oleh Ustadz Muhammad Amin—seorang da’i asal Bangil yang istiqamah bolak-balik Bangil–Malang demi tugas dakwah.
“Mas, di sini dinginnya beda ya,” ujar Naufal suatu pagi setelah Subuh.
Bagus tersenyum, “Dingin udaranya, tapi hangat sambutannya.”
Setiap hari, mereka mengajar anak-anak TPQ yang datang dengan wajah penuh semangat. Suara iqra’ dan lantunan Al-Qur’an memenuhi ruang masjid. Anak-anak duduk melingkar, sebagian masih terbata, sebagian mulai lancar.
“Ustadz, kalau huruf ‘ain’ bagaimana bacanya?” tanya seorang anak kecil.
Daris mencontohkan perlahan, “Coba dengarkan… ‘aa-‘ain’. Pelan-pelan saja, yang penting benar.”
Tak hanya mengajar, para santri juga ikut membersihkan masjid, menata sajadah, membantu persiapan buka puasa bersama, hingga mengisi kultum menjelang berbuka.
Suatu sore menjelang adzan Maghrib, Amir berdiri menyampaikan kultum.
“Ramadhan bukan hanya menahan lapar,” ucapnya, “tapi melatih hati agar lebih peduli.”
Warga menyimak. Anak-anak duduk di shaf depan. Ada keheningan yang penuh makna.
Ustadz Muhammad Amin suatu malam berpesan kepada mereka:
“Kalian di sini bukan hanya santri. Kalian adalah wajah pesantren. Apa yang masyarakat lihat dari kalian, itulah gambaran lembaga yang mengutus kalian.”
Pesan itu sederhana, namun mengandung makna strategis. Santri yang bertugas di kampung seperti Pondok Kobong sejatinya adalah duta besar pesantren—membawa nilai, akhlaq, dan visi pendidikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Di sinilah letak pentingnya PLKJ. Ia bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah laboratorium kehidupan. Tempat santri belajar berdialog dengan realitas umat, memahami kebutuhan masyarakat, dan menyampaikan dakwah dengan hikmah.
Kegiatan seperti ini memiliki dampak yang nyata:
Jika pesantren ingin tetap relevan dan berperan strategis dalam pembangunan umat, maka program seperti PLKJ adalah keniscayaan.
Udara Kalipare mungkin dingin. Pepohonan besar mungkin menaungi dusun kecil itu dengan sunyi. Namun di Masjid Al Muhajirin, suara anak-anak mengaji menjadi tanda bahwa peradaban sedang dirawat.
“Insya Allah nanti kalau sudah selesai tugas, kita rindu tempat ini,” ujar Umar suatu malam.
Amir menimpali pelan, “Semoga yang kita tanam di sini tumbuh, walau kita sudah kembali.”
Dari Pondok Kobong, kita belajar bahwa dakwah tidak selalu harus megah. Cukup hadir, mendengar, membersamai, dan istiqamah.
Mari kita doakan agar para santri ini diberi kekuatan hingga akhir masa tugas pada 10 Maret 2026. Dan semoga semakin banyak generasi muda yang siap menjadi duta-duta kebaikan, membawa cahaya pesantren ke pelosok negeri.
alhamdulillah bisa memberi manfaat nyata bagi perbaikan umat.
Baarakallahu fiikum.
Tinggalkan Komentar