
Tidak sedikit guru yang perjalanan pengabdiannya berawal dari tempat ia pernah belajar. Salah satunya adalah Ustadzah Umi Kulsum, S.Ag., alumnus Pesantren PERSIS Bangil yang kemudian kembali mengabdikan ilmu di almamaternya.
Beliau merupakan putri asli Bangil, Pasuruan. Setelah menyelesaikan pendidikan di Pesantren PERSIS Bangil, beliau melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang. Bekal pendidikan tersebut kemudian dipadukan dengan pengalaman keilmuan pesantren dalam menjalankan amanah sebagai pendidik.
Di Pesantren PERSIS Bangil, Ustadzah Umi Kulsum mengampu Ilmu Fiqh sekaligus Ilmu Sharaf. Dua bidang tersebut memiliki peran penting dalam pembentukan kemampuan santri. Fiqh membimbing santri memahami ketentuan dan tata kehidupan seorang muslim, sementara Sharaf menjadi salah satu perangkat penting untuk memahami struktur perubahan kata dalam bahasa Arab dan membantu santri mendalami literatur keislaman.
Sebagai alumnus yang kemudian menjadi guru di tempat ia dahulu menuntut ilmu, perjalanan beliau menjadi bagian dari kesinambungan tradisi pendidikan pesantren.
Dulu beliau duduk sebagai santri di ruang-ruang belajar.
Kini beliau berdiri di hadapan generasi berikutnya, menyampaikan ilmu yang pernah beliau pelajari.
Inilah salah satu bentuk terbaik dari sebuah almamater: melahirkan murid, kemudian menyaksikan sebagian dari mereka kembali untuk mendidik generasi setelahnya.
Tinggalkan Komentar