Menu
Info Pesantren
Senin, 29 Des 2025
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. +62741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. +62742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. +62741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. +62742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur

PENGARUH TUAN A. HASSAN PADA PRESIDEN SOEKARNO

Terbit : Selasa, 10 Januari 2023 - Kategori : Guru / Kegiatan / Santri

@Pepen Irpan Fauzan
Borosngora PERSIS

Ada yang menarik isi berita Pewarta Surabaja pada 15 September 1958. Surat kabar itu memberitakan tentang Presiden Soekarno menerima tamu-tamu yang datang melayat—sehubungan dengan meninggalnya ibunda beliau, Ny. Sosrodihardjo. Anehnya, para tamu yang datang melayat itu tidak diberi makan dan minum. Para pejabat dan duta-duta besar yang datang—sekembalinya mengantarakan jenazah—tampaknya kehausan karena hari panas, namun makanan dan minuman yang dinanti itu tidak kunjung datang.

Ternyata, itu memang disengaja. Kepada mereka itu, Presiden Soekarno meminta maaf. Ia tidak dapat menyuguhkan sesuatu apa pun, karena harus mematuhi prinsip-prinsip hukum Islam. Untuk meyakinkan orang-orang yang belum mengetahuinya, Presiden kemudian berpaling kepada Menteri Sosial Muljadi Djojomartono—seorang tokoh Muhamadiyah—yang kemudian membenarkan itu.

Presiden juga bertanya pada Prawoto Mangkusasmito dari Masyumi dan mendapat penguatan. Bahkan, Presiden juga meminta pendapat dari Menteri Agama KH M. Ilyas dari Nahdlatul Ulama (NU). Menag kemudian menjelaskan, bahwa memang demikianlah aturan-aturan agama Islam. Justru orang-orang yang melayat itulah yang seharusnya memberikan sumbangan kepada keluarga yang ada kematian.

Ada juga berita lainnya. Bahwa Presiden Soekarno melarang kakak perempuan beliau sendiri, Ny. Wardojo. Sang kakak tak dapat mengantarkan jenazah almarhumah ibunda ke Taman Makam Pahlawan, karena Presiden melarang wanita-wanita untuk turut mengantarkan jenazah ke kuburan. Demikian pula, Presiden tidak memperkenankan diadakan selamatan tahlilan—sebagaimana tradisi kebanyakan kaum muslimin waktu itu di tanah air. Tentang fenomena ini, majalah Risalah (No. 9 Mei 1966, hlm. 27) merilis kembali berita itu dengan judul: “Presiden Soekarno Melaksanakan Hukum-hukum Islam.”

Fenomena itu menunjukkan, bahwa untuk urusan ritual ibadah, Presiden menganut paham puritan—yang bahkan waktu itu disebut-sebut sebagai paham Wahabi. Jika dalam konteks pemikiran kenegaraan, Presiden Soekarno dikenal sebagai seorang pendukung sekularisme, maka lain halnya dengan ritual peribadatan. Ia justru mendukung paham puritanisme.

Lalu, dari mana Presiden Soekarno mempunyai pemikiran keagamaan puritan seperti tersebut di atas?

Tokoh ulama yang memberikan pengaruh paham puritanisme itu tiada lain tiada bukan adalah Tuan Ahmad Hassan (1887-1958), guru utama Persatuan Islam (PERSIS) Bandung. PERSIS itu sendiri adalah organisasi yang dikenal sangat puritan. Sejak didirikan oleh KHM. Zamzam pada 12 September 1923, PERSIS tumbuh menjadi jam’iyyah yang mengembangkan diskursus pemikiran keislaman reformistik di Nusantara, baik melalui tabligh, perdebatan umum, hingga penerbitan surat kabar dan majalah-majalah. Di antara periodikal yang terkenal pada waktu itu adalah majalah Pembela Islam. Melalui periodikal ini pula, terjadi dialog yang mencerahkan tentang politik Islam—khususnya sistem ketatanegaraan—antara Bung Karno dengan kader-kader PERSIS.

Perkenalan Soekarno dengan Tuan Hassan diawali ketika keduanya sama-sama bertemu di percetakan milik pengusaha China di Bandung, Drukerij Economy. Soekarno hendak mencetak surat kabar “Fikiran Rakjat,” sementara Tuan Hassan juga hendak mencetak buku-buku karyanya, yang mayoritas membahas masalah-masalah agama. Dalam pertemuan di percetakan itulah, keduanya berdialog dan saling bertukar pikiran, bahkan kemudian menjalin persahabatan (Tamar Djaja, Riwayat Hidup A. Hassan, 1980: 24-25).

Keakraban Sukarno dengan kalangan PERSIS Bandung terlihat ketika tahun 1929 Soekarno berada di penjara Sukamiskin (Bandung), Tuan Hassan dan anggota-anggota PERSIS lainnya sering mengunjungi Soekarno untuk memberikan banyak buku serta brosur tentang Islam kepadanya. Demikian juga ketika Tuan Hassan dirawat di rumah sakit Malang pada tahun 1953, yang pada mulanya mendapat perhatian biasa saja dari pihak rumah sakit. Namun, entah siapa yang memberi tahu, ada kiriman untuk Tuan Hassan pos wesel sebesar Rp 12.500 (nominal yang besar waktu itu), yang tertulis dikirim oleh Ir. Sukarno Presiden RI. Tentu saja, pihak Rumah Sakit pun berubah, menjadi lebih perhatian kepada Tuan Hassan—yang baru diketahui sebagai kolega Presiden RI.

Diduga kuat, setelah dialog dengan Tuan Hassan, Bung Karno mulai tertarik pada masalah-masalah agama Islam secara lebih mendalam, termasuk aspek ibadah dan Syariah (Badri Yatim, Soekarno, Islam dan Nasionalisme, 1985: 55). Persahabatan yang diwarnai dialog dan pertukaran pikiran antara kedua tokoh tersebut semakin intensif ketika Bung Karno menjalani hukuman buang oleh Pemerintah Kolonial Belanda ke Pulau Endeh, Flores, Nusa Tenggara Timur. Dalam kesepiannya di tanah pembuangan, Bung Karno lebih banyak mendalami masalah-masalah keislaman, yang diekspresikan melalui korespondensi (surat-menyurat) dengan Tuan Hassan. Korespondensi yang sungguh memikat ini kemudian dicatat di dalam sejarah sebagai “Surat-surat Islam Endeh: Dari Ir. Sukarno kepada Tuan A. Hassan Guru Persatuan Islam Bandung”. Dari korespondensi tersebut terdapat total sebanyak 12 surat yang tercatat rapih sepanjang 21 halaman di dalam buku “Di bawah Bendera Revolusi Jilid I”, pada halaman 325-344.

Meskipun beliau belum memahami seluruh ajaran Islam secara mendalam, setidaknya Bung Karno telah membuktikan minatnya yang besar untuk melakukan kajian masalah-masalah keislaman. Salah satu indikasi minat Bung Karno dalam mempelajari Islam adalah munculnya tulisan-tulisan Bung Karno tentang Islam pada masa pengasingan, terutama “Surat-Surat Islam dari Endeh” tersebut di atas. Korespondensi Soekarno—Tuan Hassan pada awal sampai pertengahan tahun 1930an dengan jelas menunjukkan, betapa Bung Karno mengikuti dinamika dan pergumulan pemikiran Islam, bukan saja domestik tetapi juga mancanegara, terutama Mesir.

Pada suratnya yang paling awal, Bung Karno menuliskan permintaan pada Tuan Hassan. Dalam suratnya, tertulis: “Endeh, 1 Desember 1934. Assalamu’alaikum, Jikalau saudara-saudara memperkenankan, saja minta saudara mengasih hadiah kepada saja buku-buku jang tersebut di bawah ini: 1 Pengadjaran Shalat, 1 Utusan Wahabi, 1 Al-Muchtar, 1 Debat Talqien, 1 Al-Burhan compleet, I Al-Jawahir. Kemudian daripada itu, jika saudara-saudara ada sedia, saja minta sebuah risalah yang membitjarakan soal “sayid”. Ini buat saja bandingkan dengan alasan-alasan saya sendiri tentang hal ini” (Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi, hlm. 325).

Dari karangan-karangan tokoh PERSIS inilah, Bung Karno mendapatkan pencerahan. Hal itu diakui sendiri oleh Bung Karno dalam suratnya kepada Tuan Hassan, berikut ini:
“Endeh, 25 Januari 1935. Assalamu’alaikum. Kiriman buku-buku gratis beserta kartu pos, telah saja terima dengan girang hati dan terima kasih jang tiada hingga. Saja mendjadi termenung sebentar, karena merasa tak selajaknja dilimpahi kebaikan hati saudara jang sedemikian itu. Ja Allah Jang Mahamurah! Pada ini hari semua buku dari anggitan saudara jang ada pada saja, sudah habis saja baca. Saja ingin sekali membatja lain-lain buah pena saudara. Dan ingin pula membaca “Buchari dan Muslim” jang sudah tersalin dalam bahasa Indonesia atau Inggeris? Saja perlu kepada Buchari atau Muslim itu, karena disitulah dihimpunkan hadits-hadits jang dinamakan sahih….Dan adakah Persatuan Islam sedia sambungannya Al-Burhan I-II? Pengetahuan saja tentang “wet” masih kurang banyak. Pengetahuan “wet” ini, saja ingin sekali perluaskan… (Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi, hlm. 325-326).

Dari sini kita bisa memaklumi, bagaimana pengaruh Tuan Hassan terhadap Bung Karno begitu signifikan. Pengaruh itu tidak sekedar pada aspek pemikiran saja. Namun, lebih dari itu, ajaran Islam—melalui pengajaran Tuan Hassan—telah merasuki keyakinan Bung Karno itu sendiri. Tidak hanya pemikiran, namun telah menjadi tindakan nyata yang diyakini kebenarannya oleh Bung Karno. Termasuk salah satunya terkait upacara Tahlilan ketika ada kematian. Di Endeh itu pulalah, Bung Karno mulai mempraktikkan paham PERSIS, bahwa tidak boleh ada selamatan tahlilan tersebut. Bung Karno sendiri menuliskan itu dalam salah satu suratnya, tertanggal 14 Desember 1936, pada Tuan Hassan:

”Kaum kolot di Endeh, –di bawah andjuran beberapa orang Hadramaut –, belum tenteram djuga membicatjakan halnja saja tidak bikin “selamatan-tahlil” buat saja punya ibu-mertua jang baru wafat itu. Mereka berkata, bahwa saja tidak ada kasihan dan cinta pada ibu-mertua itu. Biarlahl Mereka tak tahu-menahu, bahwa saja dan saja punya isteri, sedikitnja lima kali satu hari, memohonkan ampun bagi ibu-mertua itu kepada Allah. Moga-moga ibu-mertua diampuni dosanja dan diterima iman Islamnya. Moga-moga Allah melimpahkan rahmatNya dan berkatNya, jang ia, meski sudah begitu tua, tokh mengikut saja ke dalam kesunjiannja dunia¬ interniran! Amien!” (Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi, hlm. 333).
Wallahu a’lam.

PIF
Merdeka-Grt, 100123.
Be a Bee!

Sumber Gambar: langit7.id

Artikel Lainnya

Oleh : Humas Persis Bangil

MEMASTIKAN PEMILU

Oleh : Humas Persis Bangil

HATI YANG DIGERAKKAN

Oleh : Humas Persis Bangil

SELEKSI PORSENI MADRASAH ALIYAH

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Flag Counter