
Tips Mengisi Liburan Daur/ Semester 1 untuk Santri yang Tidak Pulang
Liburan bukan berarti tanpa rencana. Susun agenda sederhana: waktu ibadah, membaca, latihan hafalan, olahraga, dan istirahat. Jadwal ringan membuat hari-hari tetap bermakna tanpa terasa memberatkan.
Liburan adalah momen emas untuk mengejar ketertinggalan hafalan atau memperkokoh yang sudah ada. Sedikit tapi rutin lebih baik daripada banyak tapi sekali.
Biasanya pesantren menyediakan program seperti riyadhah, muhadharah, kajian tambahan, atau kerja bakti. Ikuti dengan semangat—ini kesempatan membangun soft skill dan menambah teman.
Gunakan waktu luang untuk membaca buku-buku yang menginspirasi: sirah, adab, motivasi, sejarah tokoh Islam. Liburan bisa menjadi masa “upgrade” wawasan.
Entah menulis, olahraga, kaligrafi, tilawah, atau memasak—jadikan hobi sebagai sarana refreshing sekaligus produktif. Hobi menyehatkan jiwa santri.
Liburan bisa menjadi ajang belajar hal-hal sederhana: desain poster kajian, dasar editing video, public speaking, atau pertolongan pertama. Keterampilan ini sangat membantu saat kembali ke aktivitas pesantren.
Perbanyak tahajud, dhuha, dzikir pagi–petang. Liburan jadi lebih berkualitas ketika hati didekatkan dengan Allah.
Makan bareng, diskusi kecil, projek kebersihan, atau olahraga bersama mempererat persaudaraan. Liburan di pesantren akan terasa hangat karena kebersamaan.
Walaupun tidak pulang, tetap kirim kabar secara rutin. Ini membuat hati orang tua tenang dan memperkuat kedekatan.
Liburan sering membuat santri lebih santai. Tetap jaga kebersihan kamar, cucian, pola tidur, dan makan. Mental sehat berawal dari lingkungan yang rapi.
Tinggalkan Komentar