
Ramadhan, Liburan, dan Latihan Kedewasaan
Menjelang Ramadhan, suasana pesantren selalu berubah. Udara terasa lebih hening, langkah terasa lebih pelan, dan hati seakan dipanggil untuk bersiap. Namun tahun ini, ada satu hal yang mengundang banyak percakapan: masa liburan yang hampir dua bulan bertepatan dengan Ramadhan. Bagi sebagian orang, ini adalah kesempatan. Bagi sebagian yang lain, ini adalah kekhawatiran.
Dari perspektif santri, liburan panjang adalah ruang bernapas. Setelah sekian bulan hidup dalam ritme disiplin pesantren—bangun sebelum fajar, jadwal pelajaran padat, hafalan, tugas, dan kegiatan organisasi—libur menjadi momen kembali kepada keluarga, merasakan kehangatan rumah, dan menyusun ulang energi. Ramadhan di rumah bisa menjadi pengalaman spiritual yang berbeda: tarawih bersama orang tua, berbuka dengan keluarga, dan merasakan peran sebagai anak yang lebih dewasa.
Namun di sisi lain, ada kegelisahan. Sebagian santri menyadari bahwa pesantren adalah lingkungan yang menjaga ritme ibadah mereka. Di rumah, godaan lebih besar: gawai tanpa batas, pola tidur yang berubah, atau kurangnya kontrol lingkungan. Ada yang takut hafalan melemah, disiplin mengendur, dan semangat menurun. Liburan panjang bisa menjadi ujian kedewasaan—apakah ibadah dilakukan karena aturan, atau karena kesadaran?
Bagi orang tua, liburan Ramadhan adalah kebahagiaan sekaligus tantangan. Kebahagiaan karena anak kembali dalam waktu yang cukup lama. Kesempatan ini bisa menjadi ruang mempererat hubungan, menyaksikan perkembangan anak, dan menanamkan nilai-nilai keluarga. Ramadhan adalah madrasah pertama dalam rumah tangga, dan kehadiran anak di rumah memberi warna yang berbeda.
Tetapi orang tua juga memikul tanggung jawab besar. Dua bulan bukan waktu yang singkat. Mereka harus memastikan bahwa ritme ibadah tetap terjaga, pergaulan terkontrol, dan waktu tidak terbuang sia-sia. Tidak semua rumah memiliki suasana sekuat pesantren dalam menjaga disiplin. Maka liburan panjang menuntut orang tua bukan hanya menjadi penyayang, tetapi juga pembimbing dan teladan.
Sementara itu, para guru memandang masa ini dengan sudut yang lebih luas. Mereka memahami kebutuhan santri untuk beristirahat dan kembali ke keluarga. Pendidikan bukan hanya soal kelas dan kurikulum, tetapi juga pembentukan karakter melalui interaksi sosial yang lebih luas. Ramadhan di rumah bisa menjadi laboratorium akhlak: bagaimana santri menjadi imam di keluarga, membantu pekerjaan rumah, atau menjadi penggerak kegiatan di masjid sekitar.
Namun para guru juga menyadari risiko stagnasi akademik dan spiritual. Konsistensi adalah kunci pendidikan. Terputusnya ritme belajar bisa berdampak pada capaian yang telah dibangun dengan susah payah. Maka dilema ini bukan sekadar soal “libur atau tidak”, melainkan bagaimana memastikan libur tetap bernilai pendidikan.
Di tengah pro dan kontra tersebut, ada satu keputusan yang patut dilihat dengan elegan: Ramadhan diliburkan, tetapi tidak dikosongkan maknanya. Liburan bukan berarti berhenti belajar; ia hanya memindahkan ruang belajar dari pesantren ke rumah dan masyarakat. Ramadhan sendiri adalah madrasah besar—madrasah kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri.
Khusus bagi kelas 5 yang mengikuti Program Latihan Khidmah Jam’iyyah (PLKJ), Ramadhan justru menjadi fase penguatan tanggung jawab. Mereka tidak sekadar santri yang belajar untuk diri sendiri, tetapi calon pelayan umat. Khidmah bukan hanya program, melainkan latihan kepemimpinan dan pengabdian. Jika santri lain belajar menjaga diri, kelas 5 belajar menjaga masyarakat. Jika yang lain menguatkan ibadah personal, mereka menguatkan peran sosial.
Dengan demikian, keputusan meliburkan kegiatan reguler selama Ramadhan tidak perlu dipandang sebagai kemunduran, melainkan sebagai pergeseran medan pendidikan. Pesantren memberi kepercayaan kepada keluarga. Guru memberi amanah kepada orang tua. Santri diberi ruang untuk membuktikan kedewasaannya. Dan bagi kelas 5, kepercayaan itu dinaikkan satu tingkat: dari belajar menjadi mengabdi.
Akhirnya, Ramadhan bukan tentang di mana kita belajar, tetapi bagaimana kita bertumbuh. Jika liburan membuat santri lebih mandiri, orang tua lebih terlibat, guru lebih reflektif, dan kelas 5 lebih siap berkhidmah, maka dua bulan itu bukan kehilangan waktu—melainkan investasi karakter.
Semoga Ramadhan kali ini bukan hanya menjadi bulan ibadah, tetapi juga bulan kedewasaan bersama.
Tinggalkan Komentar