
Dalam mengisi liburan Ramadhan, peran orang tua bukan hanya mengingatkan, tetapi menjadi teladan nyata bagi anak-anaknya. Santri yang pulang dari Pesantren Persis Bangil membawa kebiasaan baik: disiplin shalat, tilawah, dan adab. Agar kebiasaan itu tetap hidup, orang tua perlu menghadirkan contoh, bukan sekadar nasihat. Keteladanan adalah bahasa pendidikan yang paling kuat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2–3)
Ayat ini mengingatkan pentingnya kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. Anak lebih mudah meniru daripada mendengar. Ketika ayah menjaga shalat berjamaah dan ibu istiqamah dalam tilawah, anak akan terdorong melakukan hal yang sama tanpa banyak perintah.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ramadhan adalah kesempatan emas bagi orang tua untuk memimpin dengan contoh. Dengan keteladanan yang tulus, rumah akan menjadi ruang pendidikan yang hidup, dan anak-anak tumbuh bukan karena banyak diingatkan, tetapi karena melihat dan merasakan kebaikan secara langsung.

Tinggalkan Komentar