
Pandaan – Beriman kepada takdir merupakan rukun iman yang ke-enam. Dalam hadits yang panjang, Jibril ‘alaihissalam bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang Iman, Islam, dan Ihsan.
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: «بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ … قَالَ: أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيْمَانِ، قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ».
“Engkau beriman kepada Allah, malaikat‑malaikat-Nya, kitab‑kitab-Nya, rasul‑rasul‑Nya, kepada hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir, baik maupun buruknya.”
Berdasarkan hadits di atas, urutan enam Rukun Iman adalah:
Hadits ini dikutip Ustadz Hefzi, Lc., dalam khutbah jum’at di Masjid Ar Rohmah, Kemisik, Sumbergedang, Pandaan, Pasuruan, Jum’at, 05 Juli 2024.
Berikut penjelasan tentang iman kepada taqdir Allah Ta’ala.
Berikut penjelasan berkenaan iman kepada takdir (qada dan qadar) sebagai bagian dari rukun iman dalam agama Islam:
Beriman kepada qada dan qadar menuntut keyakinan:
| Hikmah | Penjelasan |
|---|---|
| Ketenteraman hati | Keyakinan bahwa segala yang terjadi adalah rencana Allah memberikan rasa tenang dan ikhlas . |
| Kesabaran dan tawakal | Saat menghadapi musibah, mampu bersabar karena meyakini adanya hikmah dari ketetapan-Nya. |
| Menghindari kesombongan | Mengakui bahwa kesuksesan bukan semata usaha sendiri, melainkan kehendak Allah . |
| Optimisme dan syukur | Baik dalam kegembiraan maupun kesulitan, tetap bersyukur dan optimis akan rencana terbaik Allah . |
| Tidak fatalistik | Meski yakin pada takdir, tetap berikhtiar dan berusaha, serta bertanggung jawab atas pilihan kita—sebagaimana ‘Umar al-Khattab mengambil langkah untuk menghindari wabah, yaitu “pindah dari satu takdir ke takdir lainnya”. |
Iman kepada takdir (qada dan qadar) berarti yakin bahwa segala sesuatu—baik maupun buruk—telah ditentukan oleh Allah sejak awal, namun kita tetap diperintahkan untuk berusaha dan bertawakal. Dengan pemahaman ini, hidup menjadi lebih tenang, tegar, bersyukur, dan tetap humanis dalam tanggung jawab. Ini adalah rukun iman yang tidak lengkap tanpa keyakinan tersebut.
Tinggalkan Komentar