
MENULIS EKSPRESIF SEBAGAI RUANG AMAN BAGI SANTRI UNTUK CURHAT
Oleh: Kamiliya Mumtazah (Santri Kelas 6)
Di Indonesia, lebih dari 2,45 juta remaja berusia 10–17 tahun mengalami gangguan mental, menurut Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022. Masalahnya pun kompleks: 3,7% remaja mengalami kecemasan serius, 1% mengalami depresi berat, dan sebagian kecil lainnya menderita PTSD atau gangguan perilaku. Di balik angka itu, tersembunyi jutaan cerita sunyi, tentang anak-anak yang merasa sesak, tertekan, dan tidak tahu harus bicara pada siapa.
Di dalam lingkungan pesantren, tekanan mental bisa lebih tersembunyi. Di satu sisi, pesantren memberi lingkungan religius yang mendalam, menanamkan nilai keikhlasan dan kepasrahan kepada Allah. Namun di sisi lain, tidak semua santri punya ruang aman untuk memproses luka batin, terutama bagi mereka yang berkepribadian introvert atau mengalami kesulitan mengekspresikan diri secara verbal. Saat masalah psikis datang, apakah ada ruang yang cukup ramah bagi mereka untuk curhat dan didengar?
Salah satu bentuk ruang aman yang terbukti efektif adalah menulis ekspresif (expressive writing). Metode ini adalah kegiatan menulis secara bebas dan jujur tentang apa yang dirasakan seseorang. Menulis ekspresif merupakan menulis tanpa aturan gramatikal, tanpa sensor, tanpa target estetika. Seseorang cukup menulis apa yang ia rasakan selama beberapa menit setiap hari tentang kegelisahan, harapan, kemarahan, rasa kehilangan, atau apa pun yang mengganggu batin. Dalam dunia psikologi, metode ini telah terbukti membantu mengurangi kecemasan, meredakan trauma, bahkan memperbaiki kondisi fisik akibat stres psikis.
Jika ditanamkan dalam kultur Islam, menulis ekspresif justru bisa menjadi lebih dari sekadar terapi, tetapi bisa menjadi laku spiritual. Dalam tradisi Islam, kita mengenal praktik muhasabah (introspeksi diri), tafakur (perenungan), bahkan tadabbur (perenungan mendalam terhadap ayat-ayat Allah). Ketiganya adalah kegiatan yang mengharuskan seseorang menyelami batin dan memahami relasi dirinya dengan Tuhan. Ketika praktik menulis ekspresif dikaitkan dengan nilai-nilai ini, maka tulisan bisa menjadi media pelepasan emosi, juga media untuk menguatkan tauhid, menemukan makna di balik ujian, dan memperdalam rasa syukur serta qonaah.
Bayangkan seorang santri yang tengah resah karena gagal menghafal atau merindukan rumah, namun ia menuangkan semuanya dalam tulisan. Dalam proses itu, ia tidak hanya sedang menyembuhkan dirinya, tetapi juga sedang berlatih memahami takdir Allah, merasakan kehadiran-Nya, dan akhirnya menerima dengan ikhlas. Tulisan itu menjadi doa diam yang menyusup jauh ke dalam hati. Tentu akan jauh lebih jujur daripada kata-kata yang dilafalkan di depan banyak orang.
Menulis ekspresif juga memiliki manfaat jangka panjang yang tak kalah penting. Kebiasaan menuangkan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan dapat melatih santri untuk berpikir jernih, menyusun ide secara runtut, dan mengenali struktur emosi serta logika batin mereka sendiri. Ini adalah bekal berharga untuk menghadapi masa depan, baik dalam dunia akademik, sosial, maupun spiritual.
Kebiasaan menulis yang dimulai dari curhat dan jurnal pribadi dapat berkembang menjadi karya kreatif. Banyak penulis besar yang memulai dari catatan harian. Dari lembar-lembar sederhana itu, lahirlah puisi, cerpen, esai, bahkan novel. Bayangkan jika di pesantren-pesantren tumbuh santri-santri yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga mampu menyuarakan pikiran dan rasa melalui tulisan yang menginspirasi. Tulisan mereka bisa menjadi media dakwah, kritik sosial, refleksi kehidupan, bahkan penggerak perubahan. Semua dimulai dari keberanian untuk menulis dari hati.
Lebih jauh lagi, kemampuan menulis juga memperkuat kemandirian intelektual. Di era digital, kemampuan mengekspresikan diri secara sehat dan produktif adalah keterampilan hidup (life skill) yang sangat dibutuhkan. Santri yang terbiasa menulis akan terbantu dalam menyampaikan ide, berdiskusi, berargumentasi, dan berbagi pengalaman secara bijak. Mereka bisa menjadi agen perubahan yang tidak hanya fasih dalam lisan, tetapi juga kuat dalam tulisan.
Contohnya, beberapa santriwati di Pondok Pesantren PERSIS Putri Bangil telah menuliskan apa yang mereka ingin luapkan melalui kegiatan menulis ekspresif. Mereka menuangkan isi hati tentang rasa rindu kepada orang tua, kegelisahan saat menghadapi ujian hafalan, bahkan keresahan menghadapi konflik kecil di kamar. Melalui tulisan-tulisan sederhana namun jujur itu, mereka menemukan ketenangan tanpa harus merasa takut dihakimi oleh orang lain. Setelah rutin menulis, beberapa santriwati ini mengaku merasa lebih tenang dan tidak mudah stres. Mereka menjadi lebih mampu mengelola emosinya, lebih fokus dalam belajar dan lebih kuat dalam menghadapi dinamika kehidupan pondok. Hal ini menunjukkan bahwa menulis ekspresif bisa menjadi cara sederhana namun bermanfaat sangat besar untuk membantu santri menjaga kesehatan mentalnya.
Oleh karena itu, dalam visi besar Pesantren Ramah Anak, penting bagi lembaga pendidikan Islam ini untuk menghadirkan ruang-ruang ekspresi emosional yang aman, tenang, dan penuh welas asih. Tidak semua santri mampu mengungkapkan perasaan mereka secara lisan, dan tidak semua luka bisa disembuhkan hanya dengan nasihat. Dalam konteks ini, menulis ekspresif menjadi jembatan sunyi yang menghubungkan santri dengan dirinya sendiri, dengan gurunya, dan yang paling utama adalah dengan Tuhannya.
Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan: ”… Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan batin dapat dicapai melalui hubungan spiritual yang mendalam. Menulis ekspresif yang dibarengi dengan muhasabah dan dzikir dalam hati bisa menjadi jalan untuk dzikrullah yang personal dan mendalam. Menulis menjadi bentuk kontemplasi santri terhadap diri dan kehidupan, sebagai jalan menuju penerimaan dan ketundukan terhadap takdir Allah.
Selain itu, dalam kisah Nabi Ya’qub yang kehilangan anaknya, Allah merekam keluh kesah yang sangat manusiawi, ”Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku…” (QS. Yusuf: 86). Ayat ini sangat relevan untuk menunjukkan bahwa mengeluh, mencurahkan rasa sedih, atau menuliskan kegelisahan bukanlah tanda kelemahan iman, justru bisa menjadi bentuk tawakal dan kepasrahan yang tulus kepada Allah. Dalam praktik menulis ekspresif, santri diajak untuk meniru kejujuran Nabi Ya’qub dalam menghadapi penderitaan.
Pesantren perlu mulai membuka diri terhadap pendekatan-pendekatan baru yang tetap sejalan dengan nilai-nilai Islam. Menyediakan waktu khusus untuk journaling, membuka klub menulis sebagai bagian dari ekstrakurikuler, atau hanya sekadar membiasakan budaya menulis reflektif setelah kegiatan keagamaan, adalah langkah kecil namun sangat berarti. Di balik lembaran-lembaran kertas itu, mungkin tersimpan kisah yang tak sempat didengar, jeritan yang tak pernah terucap, dan potensi yang belum sempat berkembang.
Karena pada akhirnya, di dunia yang sering tak sempat mendengar, tulisan adalah cara santri untuk bersuara. Bersuara dengan diam, tapi mendalam. Secara perlahan, tapi menyembuhkan. Wallahu a’lam.
Tinggalkan Komentar