
Teks-teks agama Islam bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yang berbahasa Arab dan sarat dengan struktur kebahasaan, konteks, serta kaidah tertentu. Karena itu, memahami teks agama tidak cukup hanya dengan terjemahan. Diperlukan ilmu alat—seperti nahwu, sharaf, balaghah, ushul fiqh, dan kaidah tafsir—agar makna yang dipahami tidak keliru.
Ilmu alat berfungsi sebagai kunci yang membuka maksud syariat secara tepat. Tanpanya, seseorang mudah terjebak pada pemahaman parsial, literal, atau bahkan menyimpang dari tujuan hukum Islam. Dengan ilmu alat, ayat dan hadits dipahami sesuai konteks, dalil ditimbang secara proporsional, dan perbedaan pendapat disikapi dengan bijak.
Karena itu, menekuni ilmu alat bukan sekadar kebutuhan akademik, tetapi fondasi utama menjaga kemurnian pemahaman agama dan mengamalkannya secara benar serta bertanggung jawab.
Tinggalkan Komentar