
Liburan Ramadhan bukan alasan untuk berubah menjadi longgar dan tanpa arah. Justru di rumah, orang tua memiliki peran penting dalam mengawal waktu dan menjaga ritme kehidupan pesantren: bangun lebih awal, melaksanakan qiyamullail, menjaga shalat berjamaah, tilawah terjadwal, serta membatasi penggunaan gawai agar tetap produktif. Disiplin waktu adalah bagian dari pendidikan karakter yang telah dibangun di Pesantren Persis Bangil, dan itu perlu dilanjutkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-‘Ashr: 1–2)
Ayat ini mengingatkan bahwa waktu adalah amanah yang harus dijaga. Rasulullah ﷺ juga bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Ramadhan adalah kesempatan emas untuk memanfaatkan waktu dengan ibadah dan amal kebaikan. Dengan pengawasan dan keteladanan orang tua, ritme pesantren tetap terjaga, sehingga liburan menjadi sarana penguatan disiplin dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tinggalkan Komentar