
Setiap pagi, sebelum bel berbunyi, Rafi sudah memegang sapu. Ia menyusuri lorong asrama dengan langkah ringan, mengumpulkan daun kering yang semalam jatuh terbawa angin. Baginya, kebersihan bukan tugas piket semata, melainkan bentuk syukur atas tempat tinggal yang Allah titipkan.
Di pesantren, Rafi dikenal sederhana. Ia tak banyak bicara, tetapi selalu hadir ketika lingkungan membutuhkan sentuhan tangan. Jika kamar berantakan, ia merapikan. Jika taman gersang, ia menyiram. Ia percaya, mencintai lingkungan adalah bagian dari iman yang diamalkan, bukan sekadar diucapkan.
Saat liburan tiba dan Rafi pulang ke rumah, kebiasaan itu tak berubah. Ia membantu membersihkan halaman, memilah sampah, dan mengingatkan adik-adiknya agar menjaga kebersihan. Tetangga sering tersenyum melihatnya. Pesantren, tanpa disadari, telah membawanya menjadi teladan kecil di lingkungan sekitar.
Ke mana pun Rafi melangkah—di asrama, di rumah, atau di tempat baru—ia selalu meninggalkan jejak yang sama: lingkungan yang lebih rapi dan hati yang lebih tenang. Dari pesantren ia belajar satu hal penting: mencintai lingkungan bukan soal tempat, tetapi tentang sikap hidup yang dibawa ke mana pun seorang santri berpijak.
Tinggalkan Komentar