
(Kisah Azzahra Ramadhany, Alumni 2024)
Bismillah…
Saya Azzahra Ramadhany, alumni Pesantren PERSIS Bangil tahun 2024.
Saat ini, alhamdulillah, saya tengah menempuh studi di STDI Imam Syafi’i Jember — melanjutkan perjalanan ilmu yang dulu tumbuh di tanah pesantren yang penuh berkah itu.
Ketika saya menoleh ke belakang, ada satu hal yang begitu kuat membekas: PERSIS Bangil bukan hanya tempat belajar, tapi tempat membentuk cara berpikir dan cara hidup.
Di sana, setiap pelajaran yang disampaikan para asatidz dan ustadzah tidak sekadar teori, tetapi warisan keilmuan yang hidup — yang mengajarkan keterstrukturan dalam berpikir, kedalaman dalam memahami, dan keluasan dalam menimbang setiap persoalan, terutama dalam memahami ‘ulum syar’iyyah.
Saya masih ingat betul bagaimana para guru kami membimbing dengan penuh kasih. Ada hubungan yang hangat antara murid dan pengajar — bukan sekadar formalitas kelas, tapi jalinan hati.
“Nak, jangan cepat puas dengan satu pemahaman. Buka kitab, gali dalil, dan temukan hikmahnya,”
kata salah satu ustadzah saya dulu, dengan nada lembut tapi menggetarkan.
Hubungan itu membuat suasana belajar terasa hidup. Diskusi sering berlanjut di luar kelas — di perpustakaan, di serambi masjid, atau bahkan di teras asrama saat senja. Di setiap ruang itu, ada ilmu yang mengalir, ada adab yang tumbuh, ada semangat yang tidak pernah padam.
Di lingkungan asrama, saya merasakan kehangatan seperti keluarga kedua. Kami berasal dari daerah yang berbeda-beda, dengan latar yang beragam, tapi di PERSIS Bangil kami belajar menjadi satu: santri yang saling menguatkan dalam kebaikan. Tawa, tangis, semangat, dan perjuangan kami berpadu dalam satu cita — menjadi penuntut ilmu yang diridhai Allah.
Kini, ketika langkah saya berlanjut di dunia perkuliahan, saya semakin memahami: apa yang saya dapat di PERSIS Bangil bukan sekadar pelajaran, tapi pondasi kehidupan.
Dari sanalah saya belajar arti keikhlasan, disiplin, ukhuwah, dan tanggung jawab sebagai penuntut ilmu.
Saya bersyukur pernah menjadi bagian dari Pesantren PERSIS Bangil.
Tempat di mana ilmu bukan hanya diajarkan, tapi ditanamkan.
Tempat di mana santri bukan hanya dibentuk untuk cerdas, tapi untuk beradab dan berjiwa dakwah.
Gambar hanya ilustrasi.
Tinggalkan Komentar