
Ustadz Muhammad Sholeh Siradj
Tiga Dekade Mengajar, Menjaga Disiplin, dan Menjadi Teladan Ketertiban
Dalam dunia pendidikan, pengalaman bukan sekadar angka yang menunjukkan lamanya seseorang mengajar. Pengalaman adalah kumpulan proses, tantangan, evaluasi, dan keteladanan yang terus dibentuk selama bertahun-tahun.
Di Pesantren PERSIS Bangil, salah satu sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan selama lebih dari tiga dasawarsa adalah Ustadz Muhammad Sholeh Siradj.
Beliau mengampu mata pelajaran Biologi, bidang ilmu yang mengajak santri memahami kehidupan dan berbagai fenomena alam secara ilmiah. Namun pengabdian beliau tidak berhenti pada aktivitas mengajar di ruang kelas.
Dalam mendidik santri, kedisiplinan menjadi salah satu nilai yang sangat beliau tekankan. Bagi beliau, pendidikan tidak hanya tentang seberapa banyak ilmu yang dapat dikuasai seorang santri, tetapi juga tentang bagaimana ilmu itu membentuk kebiasaan hidup yang tertib, bertanggung jawab, dan konsisten.
Karena itu, disiplin bukan sekadar aturan.
Disiplin adalah latihan untuk menghargai waktu, amanah, dan tanggung jawab.
Sebagai seorang wali kelas, Ustadz Muhammad Sholeh Siradj juga dikenal memiliki perhatian terhadap ketertiban administrasi. Berbagai hal yang berkaitan dengan tugas kewalian dan pengelolaan kelas ditangani dengan tertib dan penuh tanggung jawab.
Ketertiban administrasi mungkin tidak selalu terlihat oleh santri.
Namun justru dari hal-hal yang sering dianggap sederhana itulah sebuah sistem pendidikan dapat berjalan dengan baik. Catatan yang rapi. Administrasi yang tertib. Data yang terkelola.
Tugas yang diselesaikan tepat waktu. Semua menjadi bagian dari budaya kerja yang pada akhirnya ikut membentuk kualitas lembaga pendidikan.
Warisan Pengabdian dari Generasi Sebelumnya
Ustadz Muhammad Sholeh Siradj juga memiliki hubungan historis dengan perjalanan Pesantren PERSIS Bangil.
Beliau merupakan putra dari Pak Siradj, salah satu kolega Ustadz Abdul Qadir Hassan, tokoh penting dalam sejarah perkembangan dan pengabdian Pesantren PERSIS Bangil.
Dengan demikian, perjalanan Ustadz Muhammad Sholeh Siradj tidak berdiri sendiri. Ada jejak generasi sebelumnya yang menjadi bagian dari sejarah panjang pesantren.
Dari satu generasi ke generasi berikutnya, pesantren terus bertahan karena ada orang-orang yang bersedia menjaga amanahnya. Ada yang mendirikan. Ada yang memimpin. Ada yang mengajar. Ada yang mengelola.
Dan ada yang bertahun-tahun menjaga proses pendidikan tetap berjalan. Ustadz Muhammad Sholeh Siradj adalah salah satu dari mereka. Lebih dari tiga puluh tahun berada dalam dunia pendidikan bukanlah waktu yang singkat.
Selama itu, generasi santri telah berganti. Kurikulum berkembang. Teknologi berubah. Tantangan pendidikan semakin kompleks. Namun satu hal tetap sama:
seorang guru harus tetap hadir untuk mendidik.
Dan mungkin, di situlah makna pengabdian seorang guru. Bukan hanya tentang berapa banyak kelas yang pernah diajarnya.
Tetapi tentang berapa banyak generasi yang pernah disentuh oleh ilmunya, kedisiplinannya, dan keteladanannya. Karena pada akhirnya, seorang guru mungkin tidak selalu dikenang karena semua materi yang pernah ia sampaikan.
Namun para santri akan mengingat bagaimana gurunya mengajarkan mereka untuk datang tepat waktu, menyelesaikan amanah, tertib dalam pekerjaan, dan bertanggung jawab terhadap apa yang telah dipercayakan.
Itulah pendidikan yang melampaui ruang kelas.
Dan itulah jejak pengabdian Ustadz Muhammad Sholeh Siradj—lebih dari tiga dasawarsa mengajar, mendidik, menertibkan, dan menjaga tradisi pendidikan Pesantren PERSIS Bangil agar terus berjalan dari generasi ke generasi.
Tinggalkan Komentar