Menu
Info Pesantren
Selasa, 22 Sep 2026
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur

Belajar Memimpin, Menghidupkan Organisasi

Terbit : Selasa, 22 September 2026 - Kategori : Da'wah / Guru / Kompetisi / plkj / Reuni / Santri

Dari Bangka Belitung ke Bangil: Belajar Memimpin, Menghidupkan Organisasi

Ada santri yang datang ke pesantren untuk menuntut ilmu. Ada pula yang kemudian belajar bagaimana ilmu itu dijalankan dalam kehidupan bersama. Abang Muhammad Ridho datang dari Bangka Belitung ke Bangil, dan di antara perjalanan panjangnya sebagai santri, ia menemukan satu ruang belajar yang tidak kalah penting dari ruang kelas: organisasi.

Bangka Belitung adalah wilayah kepulauan. Provinsi ini terdiri atas dua pulau utama, Bangka dan Belitung, serta pulau-pulau kecil di sekitarnya. Letaknya di antara Selat Bangka, Selat Karimata, Laut Natuna, dan Laut Jawa, dengan wilayah laut yang jauh lebih luas dibandingkan daratannya.

Karakter geografis itu membuat perjalanan dari Bangka menuju Jawa bukan sekadar perjalanan dari satu kota ke kota lain. Ada laut yang harus diseberangi dan ada rangkaian perjalanan yang harus ditempuh sebelum akhirnya sampai di Bangil, Jawa Timur.

Jika menggunakan jalur udara, perjalanan dapat dimulai dari Pangkalpinang dan dilanjutkan menuju Pulau Jawa, kemudian diteruskan melalui perjalanan darat menuju Bangil. Jika melalui jalur laut, perjalanan menjadi lebih panjang karena membutuhkan perpindahan antarpulau sebelum dilanjutkan melalui jalur darat. Bagi seorang santri, perjalanan semacam itu tentu bukan hanya soal jarak. Ada biaya, waktu, tenaga, dan kesiapan keluarga yang menyertainya.

Namun, setelah sampai di Bangil, perjalanan Ridho memasuki babak yang berbeda.

Ia bukan lagi sekadar seseorang yang datang dari sebuah pulau di barat Indonesia untuk belajar. Ia kemudian dipercaya memikul tanggung jawab dalam Persatuan Pelajar Pesantren PERSIS (P3P), organisasi santri intra Pesantren PERSIS Bangil yang memiliki posisi strategis dalam kehidupan santri.

Ketika Organisasi Menjadi Ruang Belajar

Menjadi pemimpin organisasi santri bukanlah sekadar memiliki jabatan. Ada agenda yang harus dipikirkan, program yang harus dijalankan, anggota yang harus dirangkul, persoalan yang harus diselesaikan, dan keteladanan yang harus dijaga.

Di sinilah responsibilitas menjadi penting.

Abang Muhammad Ridho dikenal memiliki tanggung jawab yang baik dalam menjalankan kepemimpinannya di P3P. Tanggung jawab itu bukan hanya tentang memastikan sebuah kegiatan terlaksana, tetapi bagaimana organisasi dapat benar-benar menjadi bagian dari proses pendidikan pesantren.

Sebab P3P berada di ruang yang sangat strategis.

Ia bersentuhan langsung dengan kehidupan santri. Apa yang dilakukan organisasi akan berpengaruh terhadap bagaimana santri belajar mengatur waktu, bekerja sama, berkomunikasi, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan menjalankan tanggung jawab.

Dengan kata lain, P3P bukan sekadar organisasi kegiatan. Ia adalah laboratorium kepemimpinan santri.

Di sana seorang santri belajar bahwa menjadi pemimpin bukan berarti selalu berada di depan. Kadang ia harus mendengarkan. Kadang harus mengalah. Kadang harus mengambil keputusan. Dan pada kesempatan lain, ia harus memberi kesempatan kepada orang lain untuk tumbuh.

Sembilan Misi, Satu Gerak Bersama

Pada 26 Juni 2026, bersama Ketua Yayasan Pesantren PERSIS Bangil, Ustadz Imam Mudzakir, telah ditetapkan sembilan misi yang menjadi bagian dari arah pengembangan pesantren.

Misi itu mencakup penanaman akidah yang shahih dan akhlak karimah, pemahaman terhadap nash-nash syar’i, penguasaan ilmu alat seperti bahasa Arab, musthalah hadis, dan usul fikih, serta pembekalan fikih ibadah dan muamalah.

Pesantren juga menekankan pentingnya membangun sikap kritis dan korektif terhadap paham yang tidak berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, menumbuhkan kreativitas yang selaras dengan nilai-nilai Islam, membekali santri dengan ilmu penunjang kehidupan, serta membiasakan mereka mengamalkan dan mengembangkan ilmu untuk kemaslahatan umat.

Kesembilan misi tersebut tentu tidak mungkin dibebankan kepada satu pihak.

Guru mengajar. Pengasuh membina. Pimpinan mengarahkan. Yayasan memberikan dukungan. Wali santri ikut menguatkan. Masyarakat menjadi bagian dari lingkungan pengabdian. Dan santri melalui organisasinya belajar menerjemahkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Di sinilah P3P memiliki ruang yang luas.

Mengubah Misi Menjadi Kebiasaan

Tantangan kepemimpinan Ridho bukan semata-mata membuat banyak program. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana menjadikan program tersebut bermakna bagi pembentukan santri.

Akidah yang shahih, misalnya, tidak berhenti pada materi kajian. Ia perlu tercermin dalam cara santri bersikap.

Akhlak karimah tidak cukup menjadi slogan. Ia perlu terlihat dalam cara berbicara kepada teman, menghormati guru, menjaga fasilitas, menyelesaikan perbedaan, dan menjalankan amanah.

Sikap kritis tidak berarti gemar menyalahkan. Ia dapat diarahkan menjadi kebiasaan memeriksa informasi, memahami dalil, berdiskusi dengan tertib, dan mampu membedakan antara kritik yang membangun dengan sekadar menyampaikan pendapat.

Demikian pula kreativitas. Santri perlu memiliki ruang untuk menghasilkan karya, mengelola kegiatan, menggunakan teknologi, berkomunikasi melalui media, dan menghadirkan gagasan baru tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai Islam.

Di titik inilah organisasi menjadi penting: nilai yang diajarkan di kelas menemukan ruang praktiknya dalam kehidupan organisasi.

Keunikan P3P: Organisasi yang Hidup Bersama Santri

Ada sesuatu yang khas dari organisasi santri. Para pengurusnya bukan orang yang datang dari luar untuk mengelola santri. Mereka adalah santri sendiri.

Karena itu, mereka memahami kehidupan yang sedang mereka kelola.

Mereka tahu bagaimana rasanya bangun untuk mengikuti agenda pesantren, menghadapi jadwal yang padat, belajar, mengikuti kegiatan asrama, menjalankan tugas organisasi, sekaligus menjaga hubungan dengan teman-teman.

Pengalaman tersebut dapat menjadi kekuatan P3P.

Kepemimpinan Ridho dapat diarahkan untuk membangun organisasi yang dekat dengan kebutuhan nyata santri. Bukan sekadar banyak kegiatan, tetapi kegiatan yang menjawab kebutuhan.

Misalnya, organisasi dapat menjadi ruang pengembangan kepemimpinan muda, pelatihan komunikasi, manajemen waktu, literasi digital, kewirausahaan, kreativitas, kepedulian lingkungan, hingga kegiatan sosial yang menghubungkan santri dengan masyarakat.

P3P juga dapat mengembangkan budaya “santri menggerakkan santri”. Pengurus bukan hanya menjadi pelaksana kegiatan, tetapi menjadi fasilitator yang menemukan potensi teman-temannya.

Santri yang pandai berbicara dapat diberi ruang berlatih menjadi moderator atau pembicara. Yang memiliki kemampuan menulis dapat diarahkan menjadi penulis. Yang menyukai desain dapat diberi ruang mengembangkan visual. Yang memiliki kemampuan memimpin dapat dilatih mengelola tim. Yang memiliki kepedulian sosial dapat dilibatkan dalam kegiatan pelayanan masyarakat.

Dengan begitu, organisasi tidak hanya menghasilkan kegiatan, tetapi juga menemukan dan menumbuhkan potensi manusia.

Dari Bangka, Membawa Semangat Nusantara

Perjalanan Ridho dari Bangka Belitung ke Bangil pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar kisah seorang santri yang menempuh jarak geografis.

Ia menjadi bagian dari gambaran besar kehidupan Pesantren PERSIS Bangil: santri datang dari berbagai daerah, membawa latar belakang, pengalaman, karakter, dan potensi yang berbeda. Di Bangil, mereka dipertemukan dalam satu lingkungan pendidikan dan diarahkan menuju cita-cita yang sama.

“Terwujudnya kader ahli fiqih yang istiqamah dan bermanfaat bagi umat.”

Visi itu membutuhkan proses panjang.

Dan proses tersebut tidak hanya berlangsung di kelas. Ia berlangsung ketika santri belajar memimpin rapat, menyusun kegiatan, menyelesaikan konflik, meminta maaf, menerima kritik, bekerja dalam tim, melayani teman, menjaga amanah, dan berusaha menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai.

Semua itu adalah pendidikan.

Bagi Abang Muhammad Ridho, memimpin P3P berarti mendapatkan kesempatan untuk belajar dari proses tersebut sekaligus mengajak teman-temannya belajar bersama.

Ia datang dari Bangka Belitung. Kini ia berada di Bangil, membawa pengalaman dari tempat asalnya dan berhadapan dengan keragaman santri dari berbagai penjuru Nusantara.

Mungkin di situlah salah satu keindahan organisasi santri: jarak antarpulau dipertemukan oleh cita-cita, perbedaan latar belakang dipertemukan oleh pendidikan, dan kepemimpinan dipertemukan dengan pengabdian.

Dari Bangka ke Bangil, perjalanan Ridho belum selesai.

Sebab menjadi pemimpin organisasi bukan tentang seberapa lama seseorang memegang jabatan, melainkan tentang seberapa banyak kebaikan yang dapat tumbuh ketika ia dipercaya memimpin.

Dan insyaallah, ketika P3P mampu menjadi ruang bagi santri untuk belajar memimpin, berorganisasi, berkarya, dan mengabdi, organisasi itu akan menjadi salah satu jalan penting untuk mewujudkan kader yang bukan hanya berilmu, tetapi juga istiqamah dan bermanfaat bagi umat.

Artikel Lainnya

Oleh : Humas Persis Bangil

PONDOK RAMADHAN KE-2

Oleh : Humas Persis Bangil

PERAN ORANG TUA

Oleh : Humas Persis Bangil

SIAP AKTIF KEMBALI

Artikel ini memiliki

2 Komentar

Masyaa alloh tabarakalloh…Kakak bangga dan terharu,semoga Alloh beri kelancaran dan kemudahan dalam ukhuwah islamiah.aamiin…tugas kita bukan merubah seseorang menjadi baik tapi menyampaikan kebaikan kepada orang lain itu wajib.

Tinggalkan Komentar

 

Flag Counter