
Di Pesantren Persis Bangil, belajar bukan sekadar proses transfer pengetahuan. Belajar adalah perjalanan jiwa yang menghubungkan ilmu dengan iman, akal dengan adab, serta pemahaman dengan pengamalan. Pagi dimulai dengan doa, siang diisi dengan ilmu, dan malam ditutup dengan muhasabah. Dalam suasana seperti inilah seorang santri dibimbing untuk tumbuh bukan hanya menjadi pribadi yang cerdas, tetapi juga memiliki karakter, integritas, dan komitmen terhadap nilai-nilai Islam.
Konsep pendidikan seperti ini memiliki akar yang kuat dalam tradisi keilmuan Islam. Para ulama sejak generasi salaf telah menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan bukanlah sekadar menghasilkan manusia yang berilmu, melainkan manusia yang mengenal Allah, berakhlak mulia, dan mampu memberikan manfaat bagi umat.
Imam Malik rahimahullah pernah berpesan kepada seorang pemuda yang hendak menuntut ilmu:
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”
Pesan ini menunjukkan bahwa ilmu yang tidak dibingkai oleh adab akan kehilangan keberkahannya. Sebaliknya, adab yang baik akan menjadi wadah yang kokoh bagi ilmu untuk tumbuh dan memberikan manfaat.
Di era digital saat ini, pesan tersebut semakin relevan. Teknologi telah membuka akses ilmu yang sangat luas. Ribuan kitab, ceramah, dan kajian dapat diakses hanya melalui layar telepon genggam. Namun kemudahan memperoleh informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kematangan dalam memahami agama. Banyak orang mengetahui banyak hal, tetapi sedikit yang benar-benar memahami secara mendalam. Banyak yang pandai berbicara tentang agama, tetapi belum tentu memiliki adab dan ketundukan kepada kebenaran.
Fenomena ini telah diingatkan oleh para ulama. Imam Al-Auza’i rahimahullah berkata:
“Ilmu adalah apa yang datang dari para sahabat Rasulullah ﷺ. Adapun selain itu, maka bukanlah ilmu.”
Maksudnya bukan menolak perkembangan ilmu, melainkan menegaskan bahwa pemahaman agama harus dibangun di atas fondasi yang benar, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman generasi terbaik umat ini.
Di sinilah pentingnya purifikasi (tashfiyah) dalam tafaqquh fiddin. Purifikasi berarti memurnikan pemahaman agama dari berbagai penyimpangan, khurafat, takhayul, bid’ah, serta pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah. Purifikasi bukan berarti memusuhi tradisi atau menolak perkembangan zaman, tetapi memastikan bahwa ajaran Islam dipahami dan diamalkan sesuai sumbernya yang autentik.
Allah Ta’ala berfirman:
“Kemudian jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir.” (QS. An-Nisa: 59)
Ayat ini menjadi prinsip dasar dalam proses tafaqquh fiddin. Ukuran kebenaran bukanlah popularitas, kebiasaan masyarakat, atau banyaknya pengikut, melainkan kesesuaian dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan bahwa salah satu keindahan Islam adalah kesempurnaan petunjuknya dalam mengatur kehidupan manusia. Islam tidak hanya mengajarkan hubungan dengan Allah, tetapi juga membimbing manusia dalam membangun akhlak, keluarga, masyarakat, dan peradaban. Oleh karena itu, pendidikan Islam yang benar harus melahirkan pribadi yang seimbang: kuat aqidahnya, luas ilmunya, mulia akhlaknya, dan nyata kontribusinya.
Pesantren memiliki peran yang sangat strategis dalam menjalankan misi tersebut. Ketika dunia digital menghadirkan berbagai tantangan berupa arus informasi yang tidak terbatas, krisis identitas, budaya instan, dan relativisme moral, pesantren hadir sebagai ruang pembentukan karakter yang berkesinambungan. Santri tidak hanya diajarkan apa yang harus dipikirkan, tetapi juga bagaimana cara berpikir yang benar. Mereka tidak hanya diajarkan apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengapa hal itu harus dilakukan karena Allah.
Rasulullah ﷺ membangun generasi sahabat dengan metode yang sama. Beliau tidak memulai dari pembangunan gedung atau sistem yang besar, melainkan dari pembinaan manusia. Hasilnya adalah generasi yang memiliki integritas luar biasa; jujur dalam ucapan, amanah dalam tugas, kuat dalam prinsip, dan kokoh dalam aqidah.
Kebutuhan terhadap generasi seperti ini semakin mendesak pada masa kini. Peradaban tidak dibangun oleh teknologi semata, tetapi oleh manusia yang mengelolanya. Sistem yang baik akan rusak jika dijalankan oleh manusia yang tidak amanah. Sebaliknya, manusia yang berintegritas mampu memperbaiki banyak kekurangan dalam sistem.
Karena itu, pendidikan di pesantren harus terus diarahkan pada pembentukan insan yang bertafaqquh fiddin secara benar, memahami agamanya dengan pemahaman yang murni, serta mampu menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan modern. Ketika ilmu dipadukan dengan adab, ketika kecerdasan disertai ketakwaan, dan ketika pemahaman agama dibangun di atas kemurnian tauhid dan sunnah, maka lahirlah generasi yang tidak hanya sukses untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi fondasi bagi lahirnya peradaban yang bermartabat.
Di Pesantren Persis Bangil, belajar memang bukan sekadar aktivitas akademik. Ia adalah perjalanan jiwa yang menyiapkan generasi Muslim dan Muslimah untuk menjadi hamba Allah yang berilmu, berakhlak, berintegritas, dan siap mengabdi bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
#IKAPB #AlumnusPersisBangil #PERSISBangilBersinergi #SantriBerakhlak #GenerasiQuran #psbpersisbangil #arekpersisbangil #persisbangil #santripersisbangil #arekpersis #pesantrenpersis #psbpersis #pesantrenpersisbangil #santripersis
1. mantap & manfaat skali penjelsan pesantren dlm mendidik santri , moga riel bisa di terapkan pd anak2 yg nyantri disana.
2. karena realitas fase / jenjang pendidikan di PERSIS , ini setara SMA jg sebanding dg usia anak di kisaran 18 – 20th .
Sementara perkembangan fisik & jiwanya tentu jg sampai pd level yg akan masuk ruang realitas hidup .
3. Secara singkat bisa saya sampaikan bgini :
Jika anak seusia itu / tamat / lulus. Tentu ada 2kmungkinan yg akan di hadapi : *Lanjut kuliah & tdk kuliah*
Yg lanjut kuliah dg memilih jurusan ini itu.
Yg tdk kuliah memilih , sesuai kondisi : bisa lanjut belajar ini itu scara non formal , bisa lanjut kerja se bisanya karna tuntutan kondisi .
…
Nah menghadapi 2kmungkinan yg jelas ini , *apa yg disiapkan pesantren* ?
Dlm hal ini saya sedikit ada solusi jika berkenan .
Yaitu :
a.buat tambahan metode penelusuran minat & bakat .
Untuk mengefektifkan arah & hasil pendidikan anak , sehingga saat tamat , anak ini sdh bisa ditemukan potensinya (bukan mendahului kehendak Alloh) tapi smua ini menyiapkan anak didik tuk bisa lebih terarah mewujudkan bakat talenta yg ada.
b. buat rekomendasi / lampirkan pd ijasah tuk diketaui wali santri , bshwa anak bpk / ibu , bisa melanjutkan potensinya : jika kuliah dg jurusan ini , jika tdk kuliah bisa lebih aktifkan ini.
Bagaimanapun namanya anak , juga banyak blm tau kmna arah belajar hidup ini selanjutnya. Selama ini , yg kuliah kbanyakan ambil jurusan dg ikut2an yg lagi tren di dengar saja. Setelah di wisuda , masih jg kmna arah berikutnya.
Mengapa ini saya sampaikan :
1. Karna bentuk lembaga pendidikan pondok / boarding / ber asrama / 24 jam ..
2. Kayaknya blm ada , lembaga skolah yg membuat metode itu.
3. Metode minat & bakat itu penting krna personal.
4. Tuk ujud dakwah yg lebih luas , sesuai jurusan & bidang yg akan di jalani dlm hidup ini oleh para alumni .
Tentu moga Alloh mudahkan tuk smua ini .
** catatan kalo direalisasi tuk melaksanakan #minat & bakat# ini , cukup tambah 2 org asatidz : 1 org untuk yg di akademik , 1 org lagi yg non akademik .
** perlu dibahas lebih dalam ..🤝🙏
Baarakallahu fiikum.
Tinggalkan Komentar