Menu
Info Pesantren
Senin, 20 Apr 2026
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur

“Adab Lebih Tinggi dari Ilmu”

Terbit : Minggu, 19 April 2026

“Adab Lebih Tinggi dari Ilmu”

Pagi itu, beberapa santri duduk di serambi asrama Pesantren PERSIS Bangil. Obrolan mereka mengarah pada sebuah video yang sempat viral—tentang sejumlah siswa-siswi yang bersikap tidak pantas kepada gurunya di sebuah sekolah.

Nabil membuka pembicaraan, “Kalian lihat video itu? Jujur, rasanya nggak nyaman banget.”

Ridho menghela napas. “Iya. Terlepas dari apa pun masalahnya, sikap ke guru seperti itu jelas nggak pantas.”

Fahim menambahkan, “Yang bikin miris, ini bukan cuma soal satu kejadian. Tapi soal bagaimana adab mulai dianggap sepele.”

Azrul menatap serius. “Padahal dalam Islam, adab itu pondasi. Ilmu tanpa adab bisa jadi rusak.”

Utbah mengangguk. “Guru itu memang manusia, bisa salah. Tapi bukan berarti kita bebas menghina atau merendahkan.”

Zuhal menimpali, “Kalau ada yang salah dari guru, ada cara yang baik untuk menyampaikan. Bukan dengan mempermalukan.”

Adib berkata pelan, “Aku jadi mikir… jangan-jangan ini juga jadi pengingat buat kita. Jangan sampai kita merasa lebih tahu, lalu kehilangan rasa hormat.”

Abi tersenyum tipis. “Kadang kita nggak sadar, sikap kecil seperti membantah dengan nada tinggi, atau cuek saat dinasihati, itu juga bentuk kurang adab.”

Bagus menambahkan, “Benar. Adab itu bukan cuma soal tindakan besar. Tapi juga cara bicara, cara mendengar, bahkan cara memandang guru.”

Kafka menatap teman-temannya. “Kalau kita ingin ilmu kita berkah, maka kuncinya ada di adab kepada guru. Itu yang sering kita dengar, tapi kadang belum kita jaga sepenuhnya.”

Nabil kembali bicara, “Tapi di sisi lain, ini juga jadi bahan introspeksi bagi para pendidik. Mungkin perlu pendekatan yang lebih bijak, lebih memahami kondisi siswa.”

Ridho mengangguk. “Iya. Hubungan guru dan murid itu dua arah. Harus saling menjaga.”

Fahim menambahkan, “Guru memberi ilmu dengan kasih sayang, murid menerima dengan hormat. Di situ letak keberkahan.”

Azrul tersenyum kecil. “Kalau salah satu hilang, keseimbangan rusak.”

Utbah menyimpulkan, “Jadi intinya, kita nggak cukup hanya mengecam. Tapi juga harus memperbaiki diri.”

Zuhal berkata pelan, “Mulai dari hal sederhana: mendengar dengan baik, tidak memotong pembicaraan, dan menjaga tutur kata.”

Adib menambahkan, “Dan selalu ingat, tanpa guru, kita nggak akan sampai di titik ini.”

Suasana hening sejenak. Bukan karena kehabisan kata, tapi karena semua sedang merenung.

Nabil menutup percakapan dengan tenang, “Semoga kita dijaga dari sikap meremehkan guru. Karena siapa yang tidak menghormati gurunya, bisa jadi tidak akan mendapatkan keberkahan ilmunya.”

Mereka pun saling berpandangan.
Bukan untuk menghakimi orang lain, tapi untuk menguatkan diri sendiri—
bahwa adab adalah cermin kemuliaan, dan ia harus dijaga sebelum, selama, dan setelah menuntut ilmu.

Artikel Lainnya

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Flag Counter