
Jejak Tinta yang Tak Pernah Kering: Ustadz Muhammad Faiz Abdul Razzaq
Ada orang yang dikenang karena pidatonya. Ada pula yang dikenang karena karya tulisnya. Namun, ada sedikit sekali orang yang mampu berdakwah melalui keindahan setiap goresan tinta. Salah satunya adalah Ustadz Muhammad Faiz Abdul Razzaq, yang juga akrab disebut Ustadz Muhammad Faiz AR.
Lahir di Tangerang, 11 November 1938, beliau tumbuh pada masa ketika belajar agama membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan pengorbanan. Perjalanan intelektualnya membawanya menimba ilmu di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, sebuah pesantren yang dikenal melahirkan kader-kader pendidik dan dai yang berwawasan luas. Di lembaga inilah beliau tidak hanya belajar, tetapi juga kemudian mengabdikan diri sebagai pengajar, menanamkan ilmu sekaligus keteladanan kepada para santri. Di antara banyak bidang keilmuan yang beliau tekuni, ada satu yang menjadi jalan dakwah sepanjang hidupnya: seni khat (kaligrafi Islam).
Bagi sebagian orang, kaligrafi hanyalah seni menulis huruf Arab dengan indah. Namun bagi Ustadz Faiz, setiap lengkungan huruf adalah penghormatan kepada ayat-ayat Allah. Setiap titik memiliki adab. Setiap garis mempunyai makna. Keindahan bukanlah tujuan utama, melainkan jalan untuk memuliakan firman-Nya.
Perjalanan dakwah itu kemudian berlanjut hingga ke Pesantren PERSIS Bangil, tempat beliau turut mendedikasikan ilmu kaligrafinya. Kiprah beliau di Bangil berlangsung pada masa kepemimpinan Ustadz Abdul Qadir Hassan, putra pertama dari pendiri pesantren, Ustadz A. Hassan, yang lebih dikenal sebagai Hassan Bandung. Di pesantren ini, beliau membimbing para santri agar memahami bahwa khat bukan sekadar keterampilan artistik, tetapi latihan kesabaran, ketelitian, ketawadukan, dan kecintaan kepada Al-Qur’an.
Kini, di usia yang telah mencapai lebih dari delapan dekade, beliau menetap di Bangil, Pasuruan, tetap menjadi teladan bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus berkarya dan memberi manfaat.
Pesantren PERSIS Bangil: Menyiapkan Kader Ahli Fiqih
Pesantren PERSIS Bangil merupakan salah satu lembaga pendidikan di bawah naungan Persatuan Islam (PERSIS) yang berdiri dengan cita-cita melahirkan generasi muslim yang memahami Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para ulama salaf.
Pesantren ini didirikan oleh Ustadz A. Hassan, yang dikenal luas sebagai Hassan Bandung, seorang ulama besar dan tokoh pembaru pemikiran Islam di Indonesia. Dari tangan dan gagasan beliau, lahir sebuah lembaga yang tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga pusat pembinaan akidah, ilmu, dan kaderisasi umat. Setelah beliau, estafet kepemimpinan diteruskan oleh putra pertamanya, Ustadz Abdul Qadir Hassan, yang menjaga arah perjuangan pesantren agar tetap teguh pada manhaj ilmu dan dakwah yang telah diletakkan sang pendiri.
Sejak berdirinya, pesantren ini dibangun atas semangat dakwah, pendidikan, dan kaderisasi. Para pendiri dan penggeraknya meletakkan pondasi agar pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu agama, tetapi juga tempat membentuk karakter, adab, dan kepemimpinan umat.
Hari ini, Pesantren PERSIS Bangil mengusung visi:
“Terwujudnya kader ahli fiqih yang istiqamah dan bermanfaat bagi umat.”
Visi tersebut diwujudkan melalui berbagai misi, di antaranya:
Dalam perjalanan itulah, berbagai tokoh telah memberikan sumbangsihnya. Salah satunya adalah Ustadz Muhammad Faiz Abdul Razzaq melalui dunia kaligrafi.
Hadiah yang Nilainya Tak Dapat Diukur
Pada Sabtu, 18 Juli 2026, sebuah peristiwa sederhana namun sarat makna terjadi di Pesantren PERSIS Bangil.
Ustadz Muhammad Faiz Abdul Razzaq menyerahkan salah satu karya kaligrafi terbaiknya kepada pesantren. Karya tersebut diterima oleh Ustadz Haidar Ghazie yang mewakili Mudir Pesantren, Ustadz Hefzi Ghazie.
Kaligrafi itu dipersembahkan sebagai karya yang akan digunakan dalam rangkaian kegiatan kelulusan santri. Sekilas, orang mungkin melihatnya hanya sebagai sebuah lukisan. Namun bagi keluarga besar Pesantren PERSIS Bangil, itu adalah warisan ilmu. Karena karya tersebut bukan hanya ditulis dengan tinta. Ia ditulis dengan pengalaman puluhan tahun. Dengan ribuan jam latihan. Dengan mata yang telah lama menemani mushaf-mushaf Al-Qur’an. Dengan tangan yang terus menjaga adab terhadap setiap huruf Allah.
Ternyata Warisan Terbesar Itu Bukan Kaligrafinya
Banyak orang menyangka bahwa hadiah terbesar Ustadz Faiz kepada pesantren adalah lembaran kaligrafi yang indah. Padahal mereka keliru. Kaligrafi itu hanyalah media. Warisan sesungguhnya adalah pesan yang tersembunyi di balik setiap goresan.
Di pesantren yang didirikan oleh Hassan Bandung dan diteruskan oleh Ustadz Abdul Qadir Hassan, Ustadz Muhammad Faiz AR hadir bukan sekadar sebagai seniman huruf. Ia datang sebagai penjaga kesinambungan tradisi ilmu. Di usia ketika banyak orang memilih beristirahat, beliau justru memilih mewariskan karya terbaiknya kepada generasi berikutnya. Beliau seolah ingin mengatakan tanpa banyak kata: “Jangan biarkan seni khat berhenti di tangan saya.”
Kaligrafi itu bukan penutup perjalanan hidupnya. Justru itulah pembuka jalan bagi lahirnya para khaththath baru dari Pesantren PERSIS Bangil. Suatu hari nanti, ketika para santri melihat karya itu terpajang pada momen-momen kelulusan, mungkin mereka hanya akan mengagumi keindahan huruf-hurufnya. Namun bertahun-tahun kemudian, mereka akan memahami bahwa yang diwariskan Ustadz Faiz bukan sekadar tulisan. Beliau sedang mengajarkan bahwa ilmu harus diabadikan, bukan disimpan.
Bahwa seorang guru tidak sedang mengejar dikenang namanya. Ia sedang memastikan manfaatnya tetap hidup, bahkan ketika dirinya telah tiada. Dan mungkin, kelak nama Ustadz Muhammad Faiz Abdul Razzaq tidak hanya dikenang sebagai seorang maestro kaligrafi. Beliau akan dikenang sebagai seseorang yang mengubah tinta menjadi amal jariyah, dan mengubah sebuah karya seni menjadi mata rantai lahirnya generasi penerus yang terus memuliakan kalam Allah. Sebab pada akhirnya, tinta memang bisa mengering. Namun ilmu yang ditulis dengan keikhlasan tidak akan pernah selesai mengalir pahalanya.
Tinggalkan Komentar