
Kabut tipis menyelimuti Banjarnegara setiap pagi, seolah menyimpan cerita yang menunggu untuk dituturkan. Di tengah keheningan itu, pada 8 September 1979, lahirlah Nur Adi Septanto—seorang bocah ngapak yang datang terlahir setelah Pebruari di tahun yang sama terjadi letusan Kawah Sinila. Dentuman alam menjadi peristiwa penanda: bahwa jalan hidupnya kelak akan penuh kejutan dan keberanian.
Akar Religius di Kauman
Adi tumbuh di Kauman No. 41, jantung kota Banjarnegara, berdampingan dengan Masjid Agung An-Nuur. Ayah-ibunya, Hadi Sunarto dan Banat Suada—keduanya pegawai Departemen Agama—mewariskan kesederhanaan, kecintaan pada ilmu, dan semangat pengabdian. Dari sembilan bersaudara, Adi adalah anak kedelapan. Sejak kecil ia sudah akrab dengan suasana masjid: selepas maghrib, ia kerap ikut sang ayah membimbing anak-anak mengaji di ruang TPQ An-Nuur. Dari sanalah jiwa pendidik dan rasa cinta dakwahnya mulai tumbuh.
Bocah Ngapak yang Berseni
Seni adalah darah yang mengalir dari ayahnya yang hobi menulis lirik dan lagu. Bakat itu tumbuh sejak Adi duduk di SD Muhammadiyah 1 Banjarnegara. Pada 1988, ia berjajar sebagai salah satu yang terbaik dalam Festival Tembang Bocah (FESTEMBO), mengukir prestasi yang membuatnya dikenal di kalangan guru dan teman-teman.
Beranjak remaja di SMP Negeri 1 Banjarnegara, ia makin menonjol. Hobi menulis puisi dan tampil di panggung membawanya meraih juara 1 lomba baca puisi HUT SMA Negeri 1 Banjarnegara, lalu juara 2 lomba baca puisi HUT RI 1994 mewakili SMA Negeri 1. Ia sebagai vokalis pernah tercatat menjadi peserta termuda festival band Se-Jawa Tengah dan DIY di tahun 1992 bersama teman-teman satu semangat: Prasetya Hendra Gunawan alias Wawan (gitaris), Yoeniar Rivaony alias Ony (drummer), Gurito Nur Setiyawan alias Gurito (basis), dan Amirul Indrataka alias Indra (keyboardis). Kreativitas dan keberaniannya menembus panggung seni menjadi bukti bahwa bocah ngapak ini tidak pernah setengah hati mengasah bakat.
Belajar Mandiri: Telur dan Kelapa
Memasuki awal SMA, Adi menunjukkan kemandirian yang ia jalani secara alamiah. Ia memelihara puluhan ayam, memungut telur, dan menjualnya untuk uang jajan. Ketika Ramadhan tiba, ia berjualan kelapa tua di pasar rakyat demi membeli baju baru dari hasil usahanya sendiri. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa kebanggaan sejati datang dari keringat sendiri—pelajaran berharga yang meneguhkan karakter pekerja keras.
Keputusan Besar: Dari Sekolah Umum ke Pesantren
Setamat SMP, Adi melanjutkan ke SMA Negeri 1 Banjarnegara yang bersebelahan dengan PGA (kini MAN 2) tempat ibunya mengabdi. Ayahnya berharap ia nyantri, namun hati Adi belum tergerak. Hingga sebuah perlakuan guru yang mengecewakan memicu titik balik: ia meminta izin berhenti dari sekolah umum dan memilih pesantren sebagai jalan hidup. Melalui tulisan ini, rasa terimakasih terucap buat beliau Pak ‘E’ yang pernah mengecewakan, namun atas izin-Nya berbuah kebaikan.
Jejak Al-Muslimun dan Sepatu Sepak Bola
Ayahnya adalah pelanggan setia majalah Al-Muslimun Bangil, majalah Hukum dan Pengetahuan Islam menjadi pembaharu yang kerap memuat artikel Pesantren PERSIS Bangil—pesantren legendaris pendiri gerakan tajdid A. Hassan. Nama Umar Fanani, salah satu guru pesantren yang aktif menulis di majalah itu ternyata punya akar sejarah pernah nyantri di Kauman, Banjarnegara. Dan argumen ini menambah keyakinan keluarga.
Saat survei ke pesantren, Adi menangkap tanda sederhana yang menguatkan hati: sepasang sepatu sepak bola tergeletak di teras salah satu kamar. Waktu itu futsal belum populer, dan melihat jejak olahraga kesayangannya membuat bocah ngapak ini tersenyum, “Kalau ada sepak bola, pasti aku betah.”
Menjejak Bangil: Kota Pesantren dan Majalah Legendaris
Bangil, kota kecil di Pasuruan, Jawa Timur, memancarkan pesona yang khas. Udara pesisirnya lembap, namun suasana keilmuannya terasa kental. Sejak awal abad ke-20, Bangil dikenal sebagai Kota Santri, rumah bagi banyak madrasah dan majelis ilmu. Di sinilah berdiri Pesantren Persatuan Islam (PERSIS) Bangil, salah satu pusat tajdid (pembaruan) pemikiran Islam di Indonesia.
Pesantren ini didirikan dengan semangat yang diwariskan oleh A. Hassan, ulama karismatik yang dikenal luas sebagai “Singa Podium” karena kepiawaiannya berdialog dan berdebat ilmiah. Sejak berdirinya di Bangil pada 1940, pesantren ini menjadi tempat lahirnya para dai, penulis, dan pemikir pembaharu yang menyebarkan dakwah berbasis Al-Qur’an dan Sunnah murni.
Di antara denyut intelektual Bangil, majalah Al-Muslimun adalah mercusuar gagasan. Terbit sejak 1950-an, majalah ini menjadi bacaan wajib para aktivis dakwah dan pelajar Muslim. Banyak orang tua yang merasakan dampaknya. Seorang pembaca senior pernah bersaksi, “Al-Muslimun itu seperti udara segar. Dari sana kami mengenal pemikiran Islam yang jernih dan argumentatif, jauh dari takhayul.” Testimoni seperti ini menguatkan keyakinan bahwa Bangil adalah tempat belajar yang tepat.
Dari Santri Menjadi Guru
Juli 1995, Adi resmi menjadi santri Pesantren PERSIS Bangil. Ia menjalani hari-hari penuh disiplin ilmu, halaqah tafsir, dan kajian hadits, merasakan persaudaraan yang kental di pesantren yang pernah menjadi pusat pemikiran pembaharu A. Hassan. Lapangan sepak bola yang ia lihat saat survei menjadi tempatnya melepas rindu pada hobi lama, sekaligus ruang menjalin ukhuwah. Lima tahun kemudian, ia menamatkan pendidikannya dengan bekal ilmu yang kokoh.
Setelah meraih gelar sarjana, panggilan pengabdian membawanya kembali. Pada 2007, bocah ngapak ini pulang ke almamaternya bukan sebagai murid, melainkan sebagai guru, meneruskan estafet dakwah yang dulu menumbuhkan jiwanya.
Kisah yang Menyentuh dan Menginspirasi
Kisah Nur Adi Septanto, bocah ngapak dari Banjarnegara, adalah mosaik keberanian, kemandirian, dan cinta dakwah: dari FESTEMBO di masa SD, panggung puisi, band remaja bersama Wawan, Ony, Gurito, dan Indra, hingga lapangan sepak bola pesantren. Dari Banjarnegara yang sejuk hingga Bangil yang penuh semangat keilmuan, ia memadukan bakat seni, semangat belajar, dan ketulusan hati.
Sepasang sepatu sepak bola yang ia lihat saat survei pesantren menjadi simbol bahwa petunjuk Allah bisa hadir lewat hal paling sederhana. Perjalanan hidupnya menegaskan: ketekunan, keberanian mengambil keputusan, dan ketulusan pengabdian mampu mengubah langkah kecil bocah ngapak menjadi cahaya yang menginspirasi banyak hati—seperti halnya Bangil dan Al-Muslimun yang terus menyalakan obor dakwah hingga kini. #nas
Tinggalkan Komentar