Menu
Info Pesantren
Minggu, 11 Okt 2026
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur

Mengajar Sejarah, Mewariskan Nilai Perjuangan

Terbit : Sabtu, 1 Agustus 2026 - Kategori : Alumnus / Da'wah / Guru / Kegiatan / Santri / walisantri

Ustadz Bahauddin

Mengajar Sejarah, Mewariskan Nilai Perjuangan

Perjalanan hidup seorang guru sering kali menjadi pelajaran yang sama berharganya dengan materi yang ia ajarkan. Demikian pula sosok Ustadz Bahauddin, seorang pendidik yang hingga kini tetap mengabdikan ilmu dan pengalamannya di Pesantren PERSIS Bangil.

Beliau merupakan putra dari Bapak Muin, salah seorang tokoh masyarakat di Durenan, Trenggalek. Pendidikan formalnya dimulai di PGA Tulungagung, sebelum kemudian melanjutkan studi ke Pesantren PERSIS Bangil atas arahan dan harapan kedua orang tuanya. Keputusan tersebut menjadi titik awal perjalanan panjang pengabdian beliau di dunia dakwah dan pendidikan.

Selepas menempuh pendidikan di Bangil, berkat rekomendasi Mohammad Natsir, beliau memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan di Institut Da’wah, Tripoli, Libya. Setelah menimba ilmu di Libya, beliau juga pernah merantau ke Malaysia sebelum akhirnya memilih kembali ke Bangil—tempat yang kemudian menjadi pelabuhan pengabdiannya.

Kini, Ustadz Bahauddin mengampu mata pelajaran Tarikh, sebuah disiplin yang tidak sekadar mengajarkan urutan peristiwa sejarah, tetapi juga menanamkan hikmah perjuangan, keteguhan iman, dan pelajaran dari perjalanan para pendahulu Islam.

Selain mengajar, beliau mengemban amanah sebagai Wakil Mudir Bidang Pendidikan sekaligus Ketua Majelis Guru Pesantren PERSIS Bangil. Kedua amanah tersebut mencerminkan kepercayaan besar yang diberikan kepada beliau dalam mengawal mutu pendidikan dan membina sinergi para pendidik di lingkungan pesantren.

Memasuki usia kepala enam, semangat beliau untuk mengajar tidak pernah surut. Gaya penyampaiannya yang lugas, bernas, dan komunikatif membuat pelajaran terasa hidup dan mudah dipahami. Beliau tidak hanya menyampaikan fakta-fakta sejarah, tetapi juga mengajak santri mengambil ibrah agar mampu menghadapi tantangan zamannya dengan ilmu, akhlak, dan keyakinan.

Perjalanan Ustadz Bahauddin menunjukkan bahwa ilmu akan menemukan maknanya ketika berakhir pada pengabdian. Dari Trenggalek, Bangil, Tripoli, hingga kembali lagi ke Bangil, setiap langkah yang beliau tempuh seolah mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam:

Sejauh apa pun seorang penuntut ilmu melangkah, tempat terbaik untuk menunaikan ilmunya adalah di tengah umat yang membutuhkan.

Itulah dedikasi Ustadz Bahauddin—mengajar dengan ketulusan, memimpin dengan amanah, dan mengabdi dengan landasan iman, agar estafet ilmu terus berlanjut dari satu generasi santri kepada generasi berikutnya.

Artikel Lainnya

Oleh : Humas Persis Bangil

UJIAN AKHIR PESANTREN

Oleh : Humas Persis Bangil

PRAKTIKUM MAHASISWA UMSIDA

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Flag Counter