
Lahir di Depok, tumbuh sebagai remaja di Pesantren PERSIS Bangil, dan kemudian kembali ke Bangil sebagai seorang pendidik. Demikian garis besar perjalanan Ustadz Muhammad Yusuf Shaleh, M.H.I., yang menjadikan pesantren bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang panjang pengabdiannya.
Beliau menyelesaikan pendidikan di Pesantren PERSIS Bangil pada tahun 2003. Setelah itu, beliau sempat menjalani masa pengabdian di Kalimantan Tengah, sebelum melanjutkan pendidikan ke Institut Da’wah Tripoli, Libya. Pengalaman belajar dan berinteraksi dengan lingkungan intelektual di luar negeri kemudian menjadi bekal berharga ketika beliau kembali ke tanah air.
Sepulang dari Libya, beliau kembali mengabdikan diri di Pesantren PERSIS Bangil. Saat ini beliau mengampu Tsaqafah Islamiyah dan Bahasa Arab, sekaligus mendapat amanah sebagai Wali Kelas 3 Putra.
Tsaqafah Islamiyah secara sederhana dapat dipahami sebagai wawasan dan khazanah keislaman yang membentuk cara seorang muslim memahami agama, sejarah, peradaban, pemikiran, masyarakat, dan berbagai persoalan yang dihadapi umat.
Pelajaran ini penting karena santri tidak cukup hanya mengetahui apa yang harus diyakini dan dilakukan. Mereka juga perlu memahami mengapa umat Islam memiliki sejarah tertentu, bagaimana pemikiran Islam berkembang, bagaimana umat Islam menghadapi perubahan zaman, serta bagaimana posisi seorang muslim dalam kehidupan masyarakat dan dunia yang terus berubah.
Wawasan dunia Islam membuat santri tidak tumbuh dalam ruang yang sempit. Mereka diajak mengenal perjalanan umat Islam dari masa ke masa, mengenal tokoh dan peradaban, memahami berbagai tantangan umat, serta memiliki kemampuan membaca persoalan dengan perspektif yang lebih luas.
Dalam konteks pendidikan pesantren, Tsaqafah Islamiyah menjadi salah satu jembatan antara warisan keilmuan Islam dan realitas kehidupan modern.
Santri diharapkan tidak hanya menjadi pribadi yang saleh secara individual, tetapi juga memiliki kesadaran terhadap lingkungan sosial, perkembangan dunia, dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari umat.
Selain mengajar, Ustadz Yusuf juga dipercaya menjadi bagian dari tim yang mengatur penyusunan makalah santri, khususnya dalam proses pembinaan karya ilmiah. Amanah ini membutuhkan ketelitian sekaligus kemampuan membimbing santri agar mampu mengembangkan gagasan, mencari referensi, menyusun argumentasi, dan mempertanggungjawabkan tulisannya.
Di tengah berbagai kesibukan tersebut, ada sisi sederhana dari kehidupan beliau yang menarik. Di rumah, beliau memiliki kegemaran memelihara ayam kampung. Dari hobi tersebut, beliau bahkan dapat menghasilkan telur ayam kampung untuk kebutuhan keluarga.
Mungkin terlihat sederhana.
Namun justru dari hal-hal sederhana itulah keseimbangan hidup seorang guru terlihat. Di pesantren berbicara tentang ilmu, di kelas membangun wawasan santri, mengurus makalah, mendampingi wali kelas—sementara di rumah menikmati aktivitas sederhana memelihara ayam.
Perjalanan Ustadz Muhammad Yusuf Shaleh menunjukkan bahwa menuntut ilmu adalah perjalanan yang panjang, dan pengabdian membuat perjalanan itu memiliki makna.
Dari Depok beliau berangkat.
Di Bangil beliau ditempa.
Kalimantan Tengah memberinya pengalaman pengabdian.
Tripoli, Libya, memperluas cakrawala keilmuannya.
Dan Bangil kembali menjadi tempat beliau menuangkan ilmu.
Kini, melalui Tsaqafah Islamiyah, Bahasa Arab, pembinaan kelas, dan pendampingan karya ilmiah, beliau ikut menyiapkan santri agar tidak hanya memahami Islam, tetapi juga mampu membaca dunia dengan perspektif Islam.
Sebab generasi yang kuat bukan hanya generasi yang mengetahui banyak hal.
Ia adalah generasi yang memiliki ilmu, memahami sejarahnya, mengenal dunianya, teguh identitasnya, dan mampu menentukan sikap dengan bijaksana.
Tinggalkan Komentar