
Ada perjalanan yang diukur dengan kilometer. Ada pula perjalanan yang diukur dengan keberanian. Bagi Nabila Fairuzka, perjalanan dari Merauke menuju Bangil adalah keduanya.
Dari ujung timur Indonesia, ia datang membawa lebih dari sekadar koper dan perlengkapan belajar. Ada cita-cita untuk menuntut ilmu, harapan untuk menjadi pribadi yang bermanfaat, dan keberanian untuk meninggalkan rumah demi masa depan yang ingin ia bangun.
Merauke dan Bangil terbentang dalam jarak yang tidak pendek. Jika ditempuh melalui laut, perjalanan itu berarti berhari-hari melewati luasnya perairan Indonesia. Jika menggunakan pesawat, waktu tempuh memang jauh lebih singkat, tetapi tetap membutuhkan biaya dan persiapan yang tidak sedikit. Di balik perjalanan tersebut ada tenaga, waktu, biaya, dan terutama pengorbanan keluarga yang mengantarkan seorang anak menuju tempat ia akan ditempa.
Namun, setelah sampai di Bangil, perjalanan Nabila ternyata belum selesai.
Justru di sinilah perjalanan lain dimulai: perjalanan untuk belajar memimpin, bekerja bersama, menemukan potensi diri, dan menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Sebagai santri yang aktif dalam P4P, Nabila mendapatkan ruang untuk mengembangkan kemampuan organisasinya. P4P merupakan organisasi induk santri putri di lingkungan pesantren yang menjadi salah satu wadah pembelajaran kepemimpinan, tanggung jawab, kerja sama, dan pengabdian dalam kehidupan santri.
Di antara berbagai pengalaman tersebut, Nabila menemukan satu bidang yang dekat dengan minat dan keterampilannya: dunia kreatif dan media.
Bersama Tim Studio Astrie, ia ikut menggerakkan Creative Media Clinic (CMC), sebuah kegiatan yang memberikan ruang kepada santri untuk belajar dan mengembangkan kemampuan di bidang konten kreator.
Studio Astrie sendiri merupakan komunitas atau tim kreatif yang bekerja secara lintas seksi untuk memproduksi konten. Secara kelembagaan, Studio Astrie berada di bawah Seksi Perpustakaan dan Publikasi, namun aktivitasnya melibatkan santri dengan beragam minat, kemampuan, dan pengalaman.
Di ruang inilah CMC menjadi salah satu bentuk pembinaan yang menarik.
Santri tidak hanya diajak untuk membuat konten karena mengikuti tren. Mereka diarahkan memahami prosesnya: bagaimana menemukan gagasan, menyusun konsep, menentukan pesan, mengambil gambar, mengolah video, memilih unsur visual, hingga menghasilkan karya yang layak disampaikan kepada publik.
Dengan demikian, CMC bukan sekadar tempat belajar teknis.
Ia menjadi ruang latihan untuk berpikir, berkomunikasi, berkolaborasi, dan bertanggung jawab terhadap pesan yang disampaikan.
Santri belajar bahwa sebuah konten yang baik tidak lahir hanya karena kamera yang bagus atau kemampuan mengedit yang mumpuni. Ada gagasan yang harus dipikirkan, pesan yang harus dijaga, proses yang harus dilalui, dan evaluasi yang perlu dilakukan.
Karena itu, pembinaan di CMC diarahkan agar santri memiliki kesempatan untuk mencoba dan terus memperbaiki diri. Karya yang dibuat menjadi bahan belajar; kekurangan menjadi bahan evaluasi; dan pengalaman menjadi bekal untuk menghasilkan karya berikutnya.
Perjalanan seperti ini tentu tidak dilakukan seorang diri.
Di balik berbagai kegiatan yang dijalankan Nabila bersama Studio Astrie, ada teman-teman yang hadir dengan peran dan kemampuan masing-masing. Mereka mungkin tidak selalu berada di posisi yang sama, tidak selalu mengerjakan hal yang sama, tetapi memiliki satu kesamaan: saling memberikan dukungan untuk menghadirkan kebaikan.
Ada Afifah Alya Amatullah, santri yang berasal dari Nusa Tenggara Timur. Ada Athyrah Zuhratul Auliya dan Diva Safira Ramadhan, keduanya dari Malang. Ada pula Naila Husna Farafishah yang berasal dari Bangil. Selain mereka, masih ada rekan-rekan lain yang turut mengambil bagian dalam perjalanan dan aktivitas kreatif tersebut, yang tentu tidak mungkin disebutkan satu per satu.
Keberagaman asal daerah itu justru menjadi gambaran kecil tentang bagaimana kehidupan santri di pesantren mempertemukan banyak latar belakang dalam satu ruang belajar.
Merauke, Nusa Tenggara Timur, Malang, Bangil, dan berbagai daerah lainnya bertemu dalam sebuah proses yang sama: belajar, bekerja sama, dan saling menguatkan.
Masing-masing memiliki peran yang berbeda. Ada yang memberikan gagasan, membantu proses produksi, mendukung kegiatan, berbagi keterampilan, memberi masukan, menjadi rekan berdiskusi, atau sekadar menghadirkan semangat ketika sebuah pekerjaan terasa tidak mudah. Tidak semua kontribusi selalu terlihat di depan kamera. Namun, dukungan kecil yang diberikan secara konsisten sering kali menjadi bagian penting dari lahirnya sebuah karya.
Dalam konteks inilah Studio Astrie tidak hanya menjadi tempat produksi konten. Ia juga menjadi ruang perjumpaan dan pembelajaran sosial: tempat santri belajar bahwa sebuah karya yang baik sering kali lahir dari kerja bersama, bukan dari kemampuan seorang diri.
Antusiasme santri pun menjadi energi tersendiri.
Ketika ditanya bagaimana respons santri mengikuti kegiatan CMC, Nabila menjawab singkat, “Mereka sangat semangat.”
Semangat itulah yang kemudian perlu dirawat menjadi proses pembelajaran yang berkelanjutan. Sebab dunia digital terus berubah, sementara kebutuhan terhadap generasi yang mampu menyampaikan pesan secara kreatif, tepat, dan bertanggung jawab semakin besar.
CMC memberikan kesempatan kepada santri untuk belajar dari proses. Mereka tidak harus langsung menghasilkan karya yang sempurna. Yang lebih penting adalah memiliki keberanian untuk mencoba, kemauan untuk menerima masukan, dan kesediaan untuk memperbaiki karya.
Dari proses semacam itu, keterampilan tumbuh secara bertahap.
Bagi Nabila, pengalaman ini sekaligus menjadi bagian dari perjalanan kepemimpinannya. Ia tidak hanya belajar bagaimana mengelola sebuah kegiatan, tetapi juga bagaimana mengajak orang lain tumbuh bersama.
Dan ia tidak sendirian. Bersama Tim Studio Astrie dan rekan-rekan yang mendukungnya, gagasan itu perlahan dibangun menjadi sebuah ekosistem belajar: santri bertemu santri, keterampilan bertemu kreativitas, dan pengalaman bertemu kesempatan untuk berkarya.
Dari Merauke ke Bangil, Nabila telah menempuh perjalanan yang panjang. Tetapi mungkin, perjalanan paling penting justru sedang ia jalani sekarang—perjalanan mengubah ilmu menjadi keterampilan, keterampilan menjadi karya, dan karya menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Jarak yang dahulu harus ia tempuh dengan kapal atau pesawat kini menemukan makna lain. Ia tidak sekadar datang dari sebuah tempat yang jauh untuk belajar di Bangil. Ia sedang menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang: perjalanan membangun kemampuan, membangun jejaring kebaikan, dan belajar memberi manfaat melalui apa yang ia miliki.
Insyaallah, dari ruang kecil bernama Creative Media Clinic, akan tumbuh generasi santri yang tidak hanya mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga mampu mengisinya dengan karya yang bernilai.
Sebab pada akhirnya, ilmu yang bermanfaat bukan hanya tentang apa yang kita ketahui, tetapi juga tentang apa yang dapat kita lakukan dan berikan kepada orang lain.
Dan mungkin, itulah salah satu makna perjalanan Nabila Fairuzka dari Merauke ke Bangil: jauh perjalanan yang ditempuh, luas ilmu yang dicari, lalu kebaikan yang diupayakan untuk dibagikan kembali.
Tinggalkan Komentar