Menu
Info Pesantren
Minggu, 05 Jul 2026
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur

Menjelang Subuh di Bangil

Terbit : Minggu, 5 Juli 2026

Dua pekan liburan terasa begitu singkat. Bagi Fikri, santri Pesantren PERSIS Putra Bangil asal Brebes, kepulangan ke pesantren selalu menghadirkan perasaan yang sama: rindu sekaligus semangat untuk memulai lembaran baru.

Malam itu ia menaiki kereta dari Brebes menuju Surabaya. Gerbong ekonomi yang semula riuh perlahan berubah sunyi. Sebagian penumpang terlelap, sementara Fikri tetap terjaga, sesekali membuka mushaf kecil yang selalu ia bawa. Setibanya di Stasiun Pasar Turi, ia berpindah menuju Stasiun Surabaya Kota untuk melanjutkan perjalanan dengan kereta lokal menuju Bangil. Menjelang pukul tiga dini hari, kereta berhenti perlahan di Stasiun Bangil. Angin subuh yang sejuk menyambutnya begitu pintu gerbong terbuka.

“Fikri!”

Suara itu datang dari ujung peron.

Fikri tersenyum lebar. “Rizal!”

Mereka bersalaman erat.

“Capek?”

“Alhamdulillah, capeknya hilang begitu sampai Bangil.”

“Yuk, kita jalan. Motorku di parkiran.”

Jalanan Bangil masih lengang. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang masih basah oleh embun. Sesekali terdengar suara kendaraan besar melintas di Jalan Pattimura, sementara kota kecil itu masih terlelap dalam hening.

“Liburannya bagaimana?” tanya Rizal sambil menghidupkan motornya.

“Seru. Bisa kumpul keluarga, bantu orang tua, juga ketemu teman-teman lama. Tapi entah kenapa, seminggu terakhir malah kangen pesantren.”

Rizal tertawa.

“Aku juga. Rumah memang tempat pulang, tapi pesantren sudah seperti rumah kedua.”

Motor melaju perlahan melewati jalan yang sudah sangat mereka kenal.

“Aku punya target semester ini,” kata Fikri.

“Apa?”

“Aku ingin hafalan bertambah lima juz. Selama ini sering kalah sama rasa malas.”

Rizal mengangguk.

“Kalau aku ingin lebih disiplin. Tahun kemarin sering terlambat datang ke masjid. Padahal jaraknya cuma beberapa langkah dari asrama.”

Fikri tersenyum.

“Berarti kita saling mengingatkan.”

“Bukan cuma itu.”

“Apa lagi?”

“Kalau ada yang mulai malas murojaah, yang lain harus berani menegur.”

“Setuju.”

“Kalau ada yang mulai menunda tugas?”

“Diingatkan juga.”

“Kalau mulai banyak main?”

“Kita tarik ke perpustakaan.”

Keduanya tertawa kecil. Di tengah dinginnya udara subuh, percakapan sederhana itu terasa seperti sebuah janji.

Tak lama kemudian gerbang Pesantren PERSIS Putra Bangil mulai tampak. Bangunan-bangunan asrama berdiri tenang dalam cahaya lampu. Beberapa santri yang datang lebih dahulu terlihat sedang mengangkat koper, sementara ada yang bersiap menuju masjid untuk menanti azan Subuh.

Rizal mematikan mesin motor.

“Alhamdulillah, sampai.”

Fikri memandang sekeliling. Tempat ini tidak berubah. Namun ia merasa dirinya harus berubah.

Ia menggenggam koper di tangan kiri dan tas di bahu kanan.

“Zal.”

“Iya?”

“Kalau nanti aku mulai kendor, ingatkan ya.”

Rizal tersenyum sambil merangkul bahunya.

“Kalau aku yang kendor, kamu juga harus ingatkan.”

Mereka berjalan berdampingan menuju asrama. Dari arah masjid terdengar suara seorang santri melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an menjelang Subuh. Fikri menarik napas panjang.

“Liburan sudah selesai.”

“Iya.”

“Sekarang saatnya memperbaiki diri.”

Langkah mereka pun semakin mantap memasuki halaman pesantren. Bagi orang lain, itu hanyalah awal semester baru. Namun bagi dua sahabat itu, setiap kepulangan ke pesantren adalah kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah, lebih berilmu, dan lebih bermanfaat daripada hari-hari sebelumnya.

Catatan Penulis
Kisah ini merupakan karya fiksi yang ditulis untuk menghadirkan hikmah dan renungan. Kesamaan nama, tempat, suasana, maupun peristiwa dengan keadaan nyata semata-mata bertujuan menghidupkan rasa dan memperkuat pesan yang ingin disampaikan.

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini. Mohon maaf apabila terdapat kekurangan, kekeliruan, atau bagian yang kurang berkenan di hati pembaca.
Semoga Allah memberikan keberkahan kepada seluruh santri, guru, orang tua, dan siapa saja yang sedang berjuang menuntut ilmu di jalan-Nya.
#IKAPB #AlumnusPersisBangil #PERSISBangilBersinergi #SantriBerakhlak #GenerasiQuran #psbpersisbangil #arekpersisbangil #persisbangil #santripersisbangil #arekpersis #pesantrenpersis #psbpersis #pesantrenpersisbangil #santripersis

Artikel Lainnya

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Flag Counter