
Di sebelah timur Kabupaten Lumajang terdapat sebuah kecamatan yang telah lama dikenal sebagai kawasan perkebunan dan pertanian, yaitu Jatiroto. Daerah yang tenang dengan hamparan sawah, kebun tebu, dan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan itu telah melahirkan banyak pribadi yang sederhana, pekerja keras, dan istiqamah dalam mengabdi. Dari lingkungan inilah sosok Ustadz Hartoyo, yang akrab disapa Pak Yoyok, berasal.
Kesederhanaan kampung halamannya seakan menjadi cermin karakter beliau. Tenang dalam bersikap, tidak banyak berbicara, tetapi penuh kesungguhan dalam bekerja. Bagi beliau, keberhasilan bukanlah hasil dari langkah yang tergesa-gesa, melainkan buah dari proses yang dijalani dengan sabar dan tuntas.
Perjalanan pengabdian Pak Yoyok di Pesantren PERSIS Bangil dimulai melalui dunia literasi. Beliau aktif dalam pengelolaan Majalah Almuslimun, sebuah Majalah Hukum dan Pengetahuan Islam yang dipimpin Tajuddin Abdullah Musa, dan menjadi ruang belajar sekaligus ladang pengabdian. Dari sana, beliau banyak berinteraksi dan belajar bersama para tokoh pesantren, di antaranya Ustadz Ghazie AQ, Ustadz Hud AM, dan Ustadz Luthfie AI. Interaksi tersebut tidak hanya memperluas wawasan beliau, tetapi juga membentuk cara berpikir yang sistematis, teliti, dan berorientasi pada kemaslahatan pesantren.
Seiring berjalannya waktu, amanah yang beliau emban semakin besar. Kini, Pak Yoyok dipercaya sebagai Kepala Tata Usaha Pesantren PERSIS Bangil, sebuah posisi yang menuntut ketelitian administrasi, kedisiplinan, serta kemampuan mengelola berbagai urusan kelembagaan. Di balik meja administrasi, beliau memastikan setiap proses berjalan rapi, tertata, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Namun pengabdian beliau tidak berhenti pada urusan administrasi. Di ruang kelas, beliau juga menjadi guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bagi santri kelas 5 dan 6. Melalui pelajaran TIK, beliau tidak sekadar mengajarkan keterampilan menggunakan komputer, tetapi juga menanamkan cara berpikir logis, sistematis, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi sebagai sarana dakwah dan kemajuan umat.
Salah satu karakter yang paling menonjol dari Pak Yoyok adalah keyakinannya bahwa setiap pekerjaan memiliki tahapan yang harus dihormati. Beliau tidak menyukai jalan pintas yang mengabaikan proses. Baginya, ketuntasan lahir dari kesabaran mengikuti setiap langkah secara benar. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hingga penyempurnaan, semuanya harus dijalani dengan penuh kesungguhan.
Prinsip tersebut menjadi pelajaran berharga bagi para santri dan rekan kerja. Di tengah budaya yang serba instan, Pak Yoyok menunjukkan bahwa kualitas tidak pernah lahir dari tergesa-gesa. Sebuah pekerjaan yang diselesaikan dengan teliti akan menghasilkan manfaat yang lebih panjang dibandingkan pekerjaan yang cepat namun penuh kekurangan.
Kepribadian beliau juga memperlihatkan bahwa pengabdian tidak selalu harus tampil di panggung. Ada orang-orang yang membangun peradaban dari balik meja administrasi, dari ruang kelas, dari dokumen yang tersusun rapi, dan dari proses yang dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Mereka mungkin tidak banyak menjadi sorotan, tetapi keberadaan mereka menjadi fondasi kokoh bagi kemajuan sebuah lembaga.
Ustadz Hartoyo adalah contoh bahwa amanah dijaga dengan profesionalitas, ilmu disampaikan dengan kesabaran, dan keberhasilan dibangun melalui proses yang tuntas. Dari Jatiroto menuju Bangil, beliau telah membuktikan bahwa ketekunan yang dipadukan dengan keikhlasan akan melahirkan pengabdian yang bernilai. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan pada setiap langkah beliau dan menjadikan dedikasinya sebagai inspirasi bagi generasi santri untuk mencintai proses, menjaga amanah, serta memberikan karya terbaik bagi agama, umat, dan bangsa.
Tinggalkan Komentar