Menu
Info Pesantren
Sabtu, 18 Jul 2026
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur

Merangkai Cahaya Tafsir dan Fikih dalam Pengabdian kepada Umat

Terbit : Rabu, 15 Juli 2026 - Kategori : Alumnus / Guru / Kegiatan / walisantri

Ustadz Wajis Akhzumi

Merangkai Cahaya Tafsir dan Fikih dalam Pengabdian kepada Umat
Di antara guru yang mengabdikan dirinya untuk menanamkan pemahaman Al-Qur’an dan syariat Islam di Pesantren PERSIS Bangil adalah Ustadz Wajis Akhzumi. Beliau mengampu mata pelajaran Tafsir dan Fikih, dua disiplin ilmu yang saling melengkapi dalam membentuk cara berpikir seorang muslim yang berlandaskan dalil, memahami hikmah, dan mampu mengamalkan ajaran Islam secara benar.
Perjalanan akademik beliau bermula dari Pesantren PERSIS Bangil, tempat beliau ditempa sebagai santri. Di lingkungan pesantren inilah tumbuh kecintaan beliau terhadap Al-Qur’an, hadis, dan khazanah keilmuan Islam. Setelah menyelesaikan pendidikan di Bangil, semangat menuntut ilmu membawanya melanjutkan studi ke Institut Dakwah Islamiyah di Tripoli, Libya, sebuah lembaga pendidikan tinggi yang dikenal sebagai pusat pembinaan kader dakwah dari berbagai negara.
Pada dekade 1980-an hingga awal 2000-an, Libya menjadi salah satu tujuan studi bagi mahasiswa Muslim dari Asia dan Afrika. Melalui institut dakwah tersebut, para mahasiswa dibekali ilmu-ilmu syar’i, bahasa Arab, dakwah, dan pemikiran Islam sehingga mampu kembali ke negeri masing-masing sebagai pendidik dan dai. Tradisi akademik yang kuat, penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar, serta lingkungan yang dekat dengan peradaban Islam menjadikan pengalaman belajar di Libya sebagai bekal berharga bagi para alumninya.
Secara geografis, Libya terletak di Afrika Utara, berbatasan dengan Laut Mediterania di sebelah utara, Mesir di timur, Aljazair dan Tunisia di barat, serta Chad, Niger, dan Sudan di bagian selatan. Sebagian besar wilayahnya berupa Gurun Sahara, namun sejak masa awal Islam, kawasan Afrika Utara telah menjadi jalur penting penyebaran dakwah dan pusat lahirnya banyak ulama besar. Kota Tripoli, ibu kota Libya, menjadi salah satu kota penting yang menghubungkan dunia Arab, Afrika, dan kawasan Mediterania.
Sementara itu, kampung halaman beliau berada di Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Laren dikenal sebagai kawasan agraris yang berada di bagian utara Lamongan dan tidak jauh dari aliran Sungai Bengawan Solo. Masyarakatnya hidup dalam suasana religius dengan tradisi gotong royong yang kuat. Lingkungan pedesaan yang tenang dan sederhana menjadi tempat yang subur untuk menanamkan nilai-nilai kerja keras, kesabaran, dan kedekatan dengan kehidupan masyarakat.
Sekembalinya ke Indonesia, Ustadz Wajis memilih mengabdikan ilmu yang telah diperolehnya kepada almamaternya, Pesantren PERSIS Bangil. Beliau dipercaya mengajar Tafsir dan Fikih, dua mata pelajaran yang menjadi fondasi penting dalam membangun pemahaman Islam yang utuh.
Bagi beliau, belajar tafsir bukan sekadar mengetahui arti ayat demi ayat, tetapi memahami maksud Allah dalam memberikan petunjuk bagi kehidupan manusia. Ilmu tafsir mengajarkan bagaimana ayat dipahami sesuai konteksnya, memperhatikan sebab turunnya ayat (asbābun nuzūl), hubungan antarayat, hingga pesan moral yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tafsir, Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi dipahami dan dihidupkan dalam perilaku.
Sementara itu, fikih merupakan buah dari pemahaman terhadap dalil-dalil syariat yang kemudian diterapkan dalam kehidupan praktis. Jika tafsir membantu memahami makna firman Allah, maka fikih menjelaskan bagaimana ajaran tersebut diwujudkan dalam ibadah, muamalah, keluarga, maupun kehidupan sosial. Keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Banyak pembahasan fikih berangkat dari ayat-ayat Al-Qur’an yang harus dipahami terlebih dahulu melalui ilmu tafsir sebelum ditetapkan hukum-hukum yang benar.
Oleh karena itu, Ustadz Wajis selalu menanamkan kepada para santri bahwa fikih tanpa pemahaman terhadap Al-Qur’an akan kehilangan kedalaman makna, sedangkan tafsir tanpa implementasi fikih akan berhenti pada tataran teori. Keduanya ibarat cahaya dan jalan; tafsir menerangi arah, sedangkan fikih menunjukkan langkah yang harus ditempuh.
Dalam proses pembelajaran, beliau dikenal sistematis, tenang, dan mendorong santri untuk mencintai dalil sebelum berdebat tentang hukum. Santri diajak memahami bahwa setiap hukum Islam memiliki landasan yang kokoh dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga belajar agama tidak cukup dengan menghafal kesimpulan, tetapi juga memahami proses lahirnya sebuah hukum.
Pengabdian Ustadz Wajis Akhzumi menjadi bukti bahwa perjalanan ilmu yang dimulai dari pesantren, diperkaya oleh pengalaman akademik internasional, dan kembali diabdikan kepada almamater merupakan mata rantai yang terus menghidupkan tradisi keilmuan Islam. Dari Laren menuju Tripoli, lalu kembali ke Bangil, beliau menghadirkan pesan bahwa ilmu adalah amanah yang harus diwariskan dengan keikhlasan, ketelitian, dan semangat membimbing generasi agar menjadi kader ahli fikih yang istiqamah dan bermanfaat bagi umat.

Artikel Lainnya

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Flag Counter