
Tidak semua sosok yang berjasa dalam pendidikan berdiri di depan kelas. Di balik berlangsungnya aktivitas pesantren, terdapat tenaga kependidikan yang memastikan berbagai urusan berjalan tertib dan para santri tetap berada dalam suasana belajar yang kondusif.
Salah satunya adalah Muhammad Syafi’i, yang turut mengambil bagian dalam pelayanan dan pembinaan di Pesantren PERSIS Bangil.
Beliau bertugas pada bagian penerimaan dan pengelolaan keuangan dari wali santri. Amanah ini membutuhkan ketelitian, ketertiban, dan kepercayaan. Sebab mengelola administrasi keuangan bukan sekadar mencatat angka, tetapi juga menjaga amanah yang dipercayakan oleh para wali santri kepada lembaga.
Selain itu, beliau mendapat tugas membantu mengontrol kedisiplinan santri putra, terutama pada saat jam belajar berlangsung. Kehadiran beliau menjadi bagian dari upaya memastikan kegiatan belajar berjalan tertib sehingga para santri dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.
Muhammad Syafi’i berasal dari Sidoarjo. Sebelum kembali berkontribusi di Bangil, beliau pernah merantau dan menjalani kehidupan di Palembang. Beliau merupakan alumnus Pesantren PERSIS Bangil tahun 2002. Setelah melalui berbagai pengalaman, beliau kemudian kembali ikut membantu almamaternya—sebuah bentuk pengabdian yang sederhana, tetapi bermakna.
Ada satu keterampilan lain yang menjadi bagian menarik dari kiprah beliau: memotong rambut.
Kemampuan tersebut tidak hanya digunakan untuk dirinya sendiri, tetapi juga ditularkan kepada para santri. Dari sebuah keterampilan praktis yang mungkin terlihat sederhana, para santri belajar bahwa kemandirian dapat dimulai dari kemampuan-kemampuan kecil yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Kini beliau tinggal di Gempeng, tidak jauh dari kompleks asrama putra Pesantren PERSIS Bangil. Kedekatan tempat tinggal dengan pesantren membuat beliau dapat hadir dan membantu berbagai kebutuhan pembinaan santri dengan lebih mudah.
Perjalanan Muhammad Syafi’i mengingatkan bahwa pengabdian di pesantren memiliki banyak bentuk.
Ada yang mengajar ilmu.
Ada yang mengelola administrasi.
Ada yang menjaga kedisiplinan.
Ada pula yang mengajarkan keterampilan hidup.
Semuanya memiliki nilai ketika dilakukan dengan amanah.
Karena pesantren tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai berbicara tentang pendidikan, tetapi juga mereka yang bersedia hadir, bekerja, menjaga, dan membantu pendidikan itu berjalan setiap hari.
Tinggalkan Komentar