
“Belajar Memimpin, Belajar Dipimpin”
Malam itu, aula kecil asrama Pesantren PERSIS Bangil masih menyala. Beberapa santri duduk melingkar setelah rapat Persatuan Pelajar Pesantren PERSIS (P3P) selesai. Suasana santai, tapi pembicaraan mereka terasa berbobot.
Nabil membuka obrolan, “Menurut kalian, kenapa ya program P3P kadang jalan, kadang juga mandek di tengah?”
Ridho tersenyum tipis, “Karena semangatnya di awal tinggi, tapi konsistensinya belum terjaga.”
Fahim menimpali, “Atau mungkin kita terlalu fokus bikin program, tapi kurang mikirin cara menjalankannya.”
Azrul mengangguk, “Iya. Kadang kita punya banyak ide, tapi pelaksanaannya kurang rapi. Akhirnya capek sendiri.”
Utbah bersandar santai. “Berarti yang kita butuhkan itu bukan cuma ide, tapi sistem.”
“Setuju,” kata Zuhal. “Harus ada pembagian tugas yang jelas. Siapa ngapain, kapan selesai, dan siapa yang mengawasi.”
Adib menambahkan, “Dan jangan lupa komunikasi. Banyak masalah muncul bukan karena tugasnya berat, tapi karena kurang koordinasi.”
Abi tertawa kecil, “Kadang kita ini sungkan ngingetin teman. Padahal itu bagian dari tanggung jawab.”
Bagus yang sejak tadi diam, akhirnya bicara, “Menurutku, organisasi itu bukan tentang siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling mau bertanggung jawab.”
Kafka mengangguk pelan. “Dan siapa yang siap dikritik juga. Soalnya kalau nggak mau dikoreksi, kita nggak akan berkembang.”
Nabil menatap teman-temannya satu per satu. “Berarti efektif itu bukan berarti semuanya sempurna, tapi semuanya berjalan dengan arah yang jelas.”
Ridho menambahkan, “Dan ada evaluasi. Jangan cuma jalan, tapi juga dicek. Apa yang kurang, apa yang harus diperbaiki.”
Fahim tersenyum, “Jadi kita ini bukan sekadar pengurus, tapi juga sedang belajar jadi pemimpin.”
Azrul menimpali, “Pemimpin yang mau belajar, bukan yang merasa sudah bisa.”
Utbah mengangkat tangan seolah menyimpulkan, “Intinya: niat lurus, tugas jelas, komunikasi jalan, dan evaluasi rutin.”
Semua tertawa kecil.
Zuhal berkata pelan, “Dan jangan lupa… semua ini bukan cuma untuk organisasi, tapi untuk latihan hidup kita nanti.”
Adib mengangguk, “Kalau di sini kita bisa amanah, insyaAllah di luar juga bisa.”
Suasana kembali tenang. Tapi ada sesuatu yang berbeda—bukan sekadar obrolan, melainkan kesadaran yang mulai tumbuh.
Nabil menutup percakapan, “P3P ini bukan cuma wadah kegiatan. Ini tempat kita belajar jadi orang yang bisa dipercaya.”
Kafka tersenyum, “Dan semoga suatu saat, kita nggak cuma dikenal aktif… tapi juga amanah.”
Mereka pun beranjak. Malam semakin larut, tapi semangat mereka justru terasa semakin terang.
Walau diam’nya orang yang berilmu itu adalah emas,karena dia tidak mau menambah masalah dan tak ingin menyakiti hati tapi komunikasi itu tetap penting dari apa yang kita fikir,lebih” kita harus musyawarah dengan keadaan.Jangan pernah menyimpulkan dari satu sudut pandang saja,kita perlu jua nasehat dan masukan dari beberapa ide fikiran karena belajar kelompok harus hilangkan ego masing”,jauhkan rasa sombong dan selalu satukan fikiran karena ini untuk kebersamaan bukan menonjolkan diri siapa yang terbaik tapi disini kita sama” berjuang untuk kebaikan kita,kebaikan untuk bersama menuju hal yang baik.Jadi dalam obrolan ini jika ada ide fikir kita saring shering jangan sampai ada omongan dibelakang,karena tujuan kita kumpul disini kita untuk satu tujuan,mepererat tali ukhuwah islamiah untuk kepentingan bersama.Sebelum kita terjun langgsung kembali kemasyarakat paling tidak disini kita sudah belajar penting’nya musyawarah untuk mufakat,kumpulkan semua ide dan kita kemas sebaik mungkin dalam fikir jangan sampai dengan duduk lama kita disini kita tidak dapatkan ilmu.Pastinya dengan titel dalam diri kita Anak santri,orang lain diluar sana pasti beranggap kita pasti orang alim,jadi jangan buat mereka kecewa akan penilain mereka itu sendiri dengan kita melakukan hal” yang akan memberi nilai buruk akan pangkat kita sebagai Anak santri,pastinya kita juga kemana kita melangkah harus dan wajib menjaga nama baik tempat kita belajar,jangan sampai karena hal kecil yang sengaja atau tidak kita lakukan itu akan mencoreng nama baik Tempat menimba ilmu kita baik sekolah,nama pondok ataupun Guru” kita.Kita belajar dan mengajarkan,sebelum kita tegur orang lain ada baiknya kita tegur diri pribadi dulu Dan sebelum kita pimpin orang lain ada baiknya pimpin dulu diri ini melangkah menuju sesuai apa yang telah kita pelajari selama kita belajar disini.
Jadi belajar dipimpin dan memimpin ini kita buat acuan untuk kita belajar lebih giat lagi supaya orang diluar sana tak berfikir negatif tentang kita,karena dengan kita tak bosan belajar tentang ilmu kita jadi tau apa yang mesti dan apa yang tidak untuk kita perbuat.Karena tak semua orang suka dengan kebaikan kita,semangat terus teman” dalam menuntut ilmu,karena belajar itu mudah tapi mempraktekan ilmu yang sudah kita punya itu yang sulit dan itu tak mudah,kita mulai dari diri dari sesuatu yang kecil dan konsisten semoga kita bisa dan wajib yakin kita pasti bisa.
Jangan pernah puas dan tumbuhkan selalu rasa haus untuk belajar dan belajar menuntut ilmu…
Dan Ridho berkata;dan ketika mau jadi pemimpin kita harus siap dengan segala fikir negatif yang menyapa diri,dan jika kita mampu memimpin diri,segala fikir negatif yang datang menyapa kita pasti biaa lalui semua itu dengan lapang dada tanpa menyudutkan dan saling menyalahkan…
Dan semua terdiam menunduk,suasana jadi hening tak bersuara seakan” mereka sudah mulai paham akan maksud dan tujuan kenpa dan mengapa mereka ada diruangan ini…mereka saling tatap satu sama lain dan yaudah ini sudah malam kita lanjut diskusi ini besok lagi…Yaudah Ridho pimpin doa dulu sebelum kita tinggalkan tempat yang mulia ini…
Aamiin
Tinggalkan Komentar