Menu
Info Pesantren
Sabtu, 11 Apr 2026
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur

Merajut Asa di Serambi Asrama

Terbit : Kamis, 5 Maret 2026

Merajut Asa di Serambi Asrama
Obrolan Santri Kelas 3 Tsanawiyah Pesantren PERSIS Putri Bangil

Sore itu halaman asrama putri di Pesantren PERSIS Bangil terasa teduh. Angin berhembus pelan, sementara beberapa santri duduk melingkar di serambi.

Dari kelas 3A ada Azzura, Kinanti, Nafisa, Shiva, Sabrina, dan Sausan. Tak lama kemudian rombongan 3B datang: Aira, Zebba, Qonita, Zufaira, Shabirah, dan beberapa teman lainnya.

Awalnya obrolan mereka ringan, seperti biasa.

“Aku penasaran,” kata Kinanti sambil tersenyum kecil.
“Menurut kalian… seperti apa sih santri putra yang ideal?”

Sabrina langsung tertawa.
“Wah, ini mulai serius atau mulai berbahaya?”

“Enggak kok,” jawab Aira sambil mengangkat bahu. “Cuma bayangan saja.”

Nafisa mencoba menjawab dengan tenang.

“Menurutku… yang rajin ibadah. Kalau sudah adzan langsung ke masjid.”

Zebba menimpali,
“Dan kalau belajar tidak cuma menjelang ujian.”

Shiva menambahkan dengan nada bercanda,
“Kalau bisa juga… tidak terlalu banyak bercanda seperti santri kelas tiga.”

“Eh!” protes Sausan. “Kalau tidak bercanda nanti hidup di pesantren terlalu serius.”

Tawa mereka pecah.

Namun di balik candaan itu, sebenarnya ada sesuatu yang sedang tumbuh: mimpi remaja yang perlahan menuju kedewasaan.

Saat obrolan sedang ramai, dua ustadzah mendekat: Ustadzah Fakhitah dan Ustadzah Nisa’.

“Masya Allah, kelihatannya obrolannya seru,” kata Ustadzah Fakhitah sambil duduk bersama mereka.

Beberapa santri langsung sedikit malu.

“Kami cuma… ngobrol saja, Ustadzah,” kata Qonita pelan.

Ustadzah Nisa’ tersenyum hangat.

“Tidak apa-apa. Justru bagus kalau kalian belajar menyampaikan pikiran. Tapi mari kita arahkan sedikit.”

Semua santri mulai memperhatikan.

“Kalau kalian membayangkan sosok santri putra yang baik,” lanjut beliau, “sebenarnya itu juga cerminan dari apa yang harus kalian miliki.”

“Cerminan?” tanya Shabirah.

“Iya,” jawab Ustadzah Fakhitah.
“Kalau kalian berharap pasangan yang shalih, maka kalian juga harus mempersiapkan diri menjadi muslimah yang shalihah.”

Suasana menjadi lebih tenang.

Azzura mengangguk pelan.

“Berarti… sekarang fokusnya tetap belajar ya, Ustadzah?”

“Betul,” jawab Ustadzah Nisa’.
“Kalian masih kelas tiga. Perjalanan di pesantren masih panjang.”

Beliau lalu menggambar garis imajiner di lantai dengan jari.

“Sekarang kalian kelas 3.
Nanti masuk kelas 4, pelajaran semakin dalam.
Masuk kelas 5, kalian akan menjalani tugas khidmah pengabdian.
Dan di kelas 6, kalian akan menyusun makalah fiqh serta menghadapi ujian akhir pesantren.”

Beberapa santri saling pandang.

“Wah… ternyata masih banyak ya perjalanan kita,” kata Zufaira.

“Justru itu indahnya,” ujar Ustadzah Fakhitah.
“Di perjalanan itu ada banyak momen.”

Sabrina bertanya penasaran,
“Momen apa saja, Ustadzah?”

“Di antaranya rihlah tarbawiyah, kegiatan kebersamaan, dan nanti… momen kelulusan yang insya Allah sangat istimewa.”

Mata beberapa santri mulai berbinar.

“Jadi,” lanjut Ustadzah Nisa’,
“daripada hanya membayangkan masa depan, lebih baik kita menyiapkannya.”

Kinanti tersenyum.

“Bismillah… berarti tiga tahun ke depan harus lebih serius.”

Nafisa menambahkan,

“Tapi tetap boleh bercanda kan, Ustadzah?”

Semua kembali tertawa.

Ustadzah Fakhitah pun ikut tersenyum.

“Tentu saja boleh. Santri yang bahagia biasanya lebih mudah belajar.”

Senja mulai turun perlahan. Dari kejauhan terdengar suara adzan Maghrib.

Para santri berdiri.

Sebelum mereka berjalan menuju masjid, Aira berkata pelan kepada teman-temannya,

“Teman-teman… tiga tahun lagi kita lulus.”

“Insya Allah,” jawab Shiva.

“Bismillah,” kata Zebba.

Langkah mereka menuju masjid terasa ringan. Di hati mereka tumbuh harapan baru.

Bukan sekadar mimpi tentang masa depan, tetapi tekad untuk mempersiapkannya—
sebagai santri yang berilmu, berakhlak, dan siap menjalani perjalanan indah hingga kelulusan nanti.

Artikel Lainnya

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Flag Counter