
Liburan Bukan Berarti Lalai
Masa liburan bagi sebagian santri sering dianggap sebagai waktu istirahat total. Namun bagi santri kelas 1 Tsanawiyah, liburan justru menjadi ujian kedewasaan: apakah ilmu tetap dijaga atau perlahan dilupakan.
Sore itu, grup WhatsApp “Santri Putri 1 Tsanawiyah” kembali ramai. Foto profilnya bergambar halaman pesantren yang rindang. Notifikasi berbunyi satu per satu.
Alisha Khaira Wilda (Denpasar):
Assalamu’alaikum, akhwat… sudah pada sampai rumah semua kan?
Aurel Nuri Tsani (Gresik):
Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah sudah. Tapi rasanya beda ya, nggak ada bel masuk, nggak ada jadwal piket…
Rahmah Fauziah (Bima):
Iya, di rumah lebih santai. Tapi aku takut malah jadi kebablasan.
Syifa Awaliyah Qurrota Aini (Kupang, NTT):
Aku juga. Tadi pagi hampir telat Subuh karena nggak ada musyrifah yang bangunin.
Percakapan mereka terasa jujur. Liburan memang menghadirkan dua sisi: kebebasan dan godaan.
Tiba-tiba masuk pesan dari salah satu anggota grup yang dikenal sering mengeluh.
Nisa (tokoh fiktif):
Jujur aja ya… ini kan liburan. Masa masih mikirin mutaba’ah, hafalan, catatan pelajaran? Capek tau di pesantren sudah padat. Sekarang waktunya santai total.
Beberapa detik grup hening.
Aurel:
Iya sih… aku juga sempat mikir begitu.
Rahmah:
Kalau nggak setor hafalan kan nggak ada yang marah juga.
Nada semangat mulai menurun. Bahkan Alisha yang awalnya penuh energi mulai ragu.
Alisha:
Tapi kalau kita lepas semua, nanti pas balik ke pesantren susah lagi mulai dari nol…
Nisa:
Ah, nanti juga bisa dikejar. Hidup cuma sekali, nikmati dulu.
Kata-kata itu seperti kabut tipis yang menyelimuti hati mereka. Liburan yang seharusnya menjadi waktu produktif hampir berubah menjadi masa lalai.
Beberapa menit kemudian, muncul pesan dari Qonita Isman Taqiyya asal Pasuruan, yang dikenal kalem namun tegas.
Qonita:
Akhwat, boleh aku share sedikit?
Syifa:
Iya, Qonita. Share dong.
Qonita:
Kita ini santri bukan karena tempatnya, tapi karena komitmennya. Kalau di pesantren rajin karena ada aturan, itu bagus. Tapi lebih tinggi lagi kalau di rumah tetap istiqamah tanpa diawasi.
Grup mulai kembali hidup.
Qonita:
Liburan itu ujian kemandirian. Mutaba’ah bukan untuk dilaporkan ke ustadzah saja, tapi untuk menjaga hubungan kita dengan Allah. Hafalan Al-Qur’an kalau sehari ditinggal, bisa lupa. Dua hari, makin kabur. Seminggu, bisa hilang semangat.
Kata-kata itu membuat Rahmah terdiam. Ia teringat betapa susahnya menghafal setengah halaman terakhir sebelum ujian.
Rahmah:
Iya juga ya… kemarin aja waktu sakit dua hari, hafalanku buyar.
Alisha:
Aku sudah bikin jadwal kecil di rumah. Pagi habis Subuh muroja’ah 15 menit. Siang baca ulang catatan pelajaran satu mapel per hari.
Aurel:
Wah, serius kamu sudah buat jadwal?
Alisha:
Iya, biar nggak kaget pas masuk lagi.
Nisa kembali menimpali.
Nisa:
Kalian serius banget sih. Emang orang tua di rumah peduli kita setor hafalan atau nggak?
Pertanyaan itu cukup menohok. Tapi Qonita menjawab dengan lembut.
Qonita:
Bukan soal orang tua peduli atau tidak. Allah Maha Melihat. Justru saat tidak ada yang mengawasi, di situlah nilai kejujuran muncul.
Hening kembali. Kali ini bukan karena ragu, tapi karena merenung.
Bagi santri, tugas di masa liburan bukan hanya mengerjakan PR atau menyalin ulang catatan. Ada tiga amanah besar yang harus dijaga:
Percakapan di grup berlanjut.
Syifa:
Aku tadi hampir nggak muroja’ah karena asyik bantu ibu. Tapi setelah baca chat Qonita, aku jadi semangat lagi.
Aurel:
Aku juga mau buat jadwal. Minimal Subuh dan Maghrib untuk hafalan.
Rahmah:
Kita bikin laporan mingguan di grup saja yuk. Bukan untuk pamer, tapi saling menguatkan.
Alisha:
Setuju!
Nisa tidak langsung menjawab. Beberapa menit kemudian ia mengirim pesan singkat.
Nisa:
Oke deh… aku coba ikut. Tapi kalau aku malas, ingetin ya.
Qonita membalas dengan emoji senyum sederhana.
Qonita:
Kita sama-sama belajar. Liburan bukan berarti berhenti jadi santri. Justru ini waktunya membuktikan bahwa ilmu sudah masuk ke hati.
Malam itu, grup WhatsApp yang hampir kehilangan arah berubah menjadi ruang penguat iman. Mereka sadar, musuh terbesar bukan jadwal kosong, melainkan rasa malas yang menyusup pelan.
Liburan akhirnya mereka maknai bukan sebagai pelarian dari disiplin, tetapi sebagai ruang pembuktian.
Di Denpasar, Alisha menutup mushafnya setelah muroja’ah.
Di Gresik, Aurel mulai merapikan catatan Fiqihnya.
Di Bima, Rahmah menandai halaman yang harus diulang besok.
Di Kupang, Syifa mengisi kolom mutaba’ah dengan rasa lega.
Dan di Pasuruan, Qonita tersenyum, bersyukur karena sahabat-sahabatnya kembali menyala.
Mereka belajar satu hal penting:
Menjadi santri bukan tentang berada di dalam pagar pesantren, tetapi tentang menjaga cahaya ilmu di mana pun berada.
Liburan boleh datang dan pergi.
Tetapi komitmen kepada Allah dan ilmu harus tetap berdiri.
Tinggalkan Komentar