
Di balik hijab yang sederhana,
tersimpan mimpi yang begitu mulia.
Menjadi dokter penebar harapan,
merawat insan dengan kasih dan keimanan.
Langkahku bermula di pesantren ini,
tempat hati ditempa setiap hari.
Bukan sekadar belajar membaca kitab suci,
tetapi belajar mengenal makna hidup sejati.
Di sini kutemukan arti kesabaran,
dalam setiap hafalan dan perjuangan.
Kedisiplinan menjadi teman perjalanan,
keikhlasan menjadi bekal kehidupan.
Pesantren mengajarkanku satu keyakinan:
ilmu adalah cahaya, akhlak adalah kemuliaan.
Setinggi apa pun cita-cita diimpikan,
imanlah yang menjaga setiap langkah kehidupan.
Kelak ketika kupakai jas putih kebanggaan,
tak akan kulupakan asal pendidikan.
Bahwa tangan yang mengobati harus penuh kasih,
dan hati yang melayani harus tetap bersih.
Aku ingin menjadi dokter yang amanah,
mengobati luka dengan ilmu yang berkah.
Mendengar keluh dengan penuh empati,
menguatkan harapan di setiap hati.
Karena dokter bukan hanya tentang kepandaian,
melainkan juga ketulusan dan pengabdian.
Dan semua itu telah kutemukan,
di ruang-ruang ilmu pesantren yang menenangkan.
Pesantren telah menanamkan akar yang kokoh,
agar cita-cita tumbuh tanpa rapuh.
Apa pun profesi yang kelak kupilih,
akhlak Islami akan selalu kupatri dan kupelihara.
Maka hari ini aku belajar dengan sungguh-sungguh,
mengaji, berdoa, dan terus bertumbuh.
Sebab dari pesantren kutata masa depan,
menjadi dokter muslimah yang membawa kesembuhan,
menebarkan rahmat, mengangkat derajat kemanusiaan,
dan menggapai ridha Allah sepanjang kehidupan.
Tinggalkan Komentar