Menu
Info Pesantren
Sabtu, 11 Apr 2026
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur

“Ngopi Teh Hangat di Serambi Asrama: Obrolan Santri Menjelang Daur Dua”

Terbit : Kamis, 5 Maret 2026

“Ngopi dan Ngeteh Hangat di Serambi Asrama: Obrolan Santri Menjelang Daur Dua”

Sore itu halaman pesantren mulai hidup kembali setelah beberapa hari terasa lengang karena liburan. Beberapa koper sudah tergeletak di sudut asrama, sandal berserakan di depan kamar, dan suara salam para santri yang baru kembali terdengar bersahut-sahutan.

Di serambi asrama, sekelompok santri kelas 3 Tsanawiyah duduk melingkar. Ada Huda, Abqori, Razil, Yamtaz, Nawaf, Azzam, dan beberapa teman lainnya. Di tengah mereka ada teko kecil berisi teh hangat yang entah dari mana asalnya—tradisi tak tertulis setiap kali mereka berkumpul.

“Liburan terasa sebentar sekali ya,” kata Huda sambil menatap halaman pesantren yang mulai ramai.

Abqori tertawa kecil.
“Sebentar? Itu karena kamu tiap hari tidur sampai jam sembilan. Coba kalau bangun jam empat, liburan terasa panjang.”

“Eh, aku bangun jam empat,” sahut Huda cepat.

“Bangun… tapi lanjut tidur lagi kan?” potong Razil sambil tertawa.

Semua ikut tertawa. Suasana cair seperti biasanya.

Tak lama Yamtaz membuka pembicaraan yang lebih serius.

“Ngomong-ngomong, daur dua tinggal beberapa minggu. Kalian sudah mulai muraja’ah belum?”

Nawaf langsung menyandarkan punggungnya ke tiang serambi.

“Jujur saja, aku baru buka kitab lagi tadi pagi di perjalanan pulang. Itu pun cuma lima menit.”

“Lima menit?” Azzam menatap heran.

“Iya. Lima menit baca, dua jam tidur di bus,” jawab Nawaf santai.

Gelak tawa kembali pecah.

Namun Razil menggeleng pelan.

“Kalau begini terus, nanti yang sibuk bukan kita saja. Musyrif juga ikut sibuk memanggil ke kantor.”

“Ah, kamu ini terlalu serius,” kata Abqori sambil menepuk bahu Razil.
“Santri juga butuh ketawa.”

Razil tersenyum.

“Aku tidak melarang ketawa. Tapi ingat, kita sudah kelas tiga. Sebentar lagi naik kelas empat. Ujian daur dua ini penting.”

Huda mengangguk.

“Iya juga. Aku kemarin sempat berpikir, selama ini kita sering bilang ingin jadi santri yang berilmu. Tapi kalau kitab saja jarang dibuka, bagaimana ilmunya masuk?”

Beberapa saat mereka terdiam. Angin sore berhembus pelan melewati halaman pesantren.

Yamtaz lalu berkata,
“Bagaimana kalau kita buat jadwal muraja’ah bersama?”

“Belajar kelompok?” tanya Nawaf.

“Iya. Misalnya setelah Isya kita kumpul satu jam. Bergantian membaca kitab atau mengulang pelajaran.”

Abqori menyeringai.

“Kalau Nawaf yang membaca, bisa-bisa kita semua tertidur.”

“Eh, jangan salah,” jawab Nawaf cepat.
“Suara aku itu menenangkan.”

“Bukan menenangkan,” sahut Azzam.
“Lebih tepatnya… mengantarkan ke alam mimpi.”

Semua kembali tertawa.

Namun kali ini Huda mencoba merapikan pembicaraan.

“Serius. Kita ini teman satu angkatan. Kalau bisa naik kelas, ya naik bersama. Jangan sampai ada yang tertinggal.”

Razil menambahkan,

“Di pesantren ini kita belajar bukan hanya untuk nilai. Tapi untuk membentuk diri. Disiplin belajar itu bagian dari akhlaq santri.”

Azzam mengangguk.

“Benar. Ustadz pernah bilang, santri itu bukan yang paling cepat hafal. Tapi yang paling istiqamah membuka kitab.”

Abqori lalu menepuk kedua tangannya.

“Baiklah! Mulai malam ini kita belajar bersama.”

Nawaf menatap curiga.

“Serius? Kamu yang biasanya paling cepat menghilang setelah Isya.”

Abqori mengangkat tangan seolah bersumpah.

“Demi kitab kuning yang belum selesai aku baca!”

“Wah, sumpahnya berat sekali,” kata Razil sambil tertawa.

Di kejauhan terdengar suara adzan Maghrib mulai berkumandang dari masjid pesantren. Para santri di serambi langsung berdiri.

Sebelum berjalan menuju masjid, Huda berkata pelan,

“Teman-teman, kita mungkin sering bercanda. Tapi mudah-mudahan kita juga saling mengingatkan.”

Yamtaz menambahkan,

“Karena teman terbaik di pesantren adalah yang membantu kita tetap rajin belajar dan menjaga niat.”

Mereka pun berjalan bersama menuju masjid. Langkah mereka ringan, disertai obrolan kecil yang masih berlanjut.

Di pesantren, persahabatan tidak selalu berisi nasihat yang serius. Kadang ia hadir dalam bentuk tawa, candaan, dan teguran kecil yang tulus.

Namun dari sanalah para santri belajar satu hal penting:

Bahwa mempersiapkan ujian bukan hanya tentang menguasai pelajaran, tetapi juga tentang melatih kesungguhan, kebersamaan, dan akhlaq dalam menuntut ilmu.

Artikel Lainnya

Oleh : P4P PUSZIE

EKSIS II FINISH

Oleh : Joe

AKTIF KEGIATAN

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Flag Counter