
Tahun 1988, perjalanan dari Larantuka, Nusa Tenggara Timur, menuju Pesantren PERSIS Bangil bukanlah sekadar perpindahan tempat, melainkan sebuah ikhtiar panjang yang sarat perjuangan. Saat itu, transportasi belum semudah sekarang. Tidak ada kemudahan tiket daring, tidak ada kabar cepat melalui telepon genggam. Yang ada hanyalah tekad, doa orang tua, dan keberanian menembus jarak.
Abu Bakar Sidiq, seorang remaja dari Larantuka, memulai langkah besarnya dengan menaiki kapal laut. Perjalanan itu memakan waktu berhari-hari. Di atas geladak kapal, ia menyaksikan luasnya lautan yang kadang tenang, kadang bergelora. Ombak yang tinggi bukan sekadar pemandangan, tetapi juga ujian keteguhan hati. Angin laut yang kencang, ruang yang terbatas, serta fasilitas yang sederhana menjadi bagian dari keseharian selama pelayaran.
Komunikasi dengan keluarga nyaris terputus. Tidak ada kabar harian, tidak ada pesan singkat. Yang menguatkan hanyalah keyakinan bahwa langkah ini adalah pilihan terbaik, sebagaimana arahan orang tua yang menginginkan anaknya menuntut ilmu di Jawa.
Setibanya di Surabaya, perjalanan belum usai. Ia masih harus melanjutkan perjalanan darat hingga tiba di Bangil. Namun lelah seakan terbayar ketika ia mulai menapaki kehidupan baru di pesantren—tempat di mana ilmu, disiplin, dan akhlak ditempa.
Perjalanan panjang itu bukan hanya mengantarkan Abu Bakar Sidiq ke sebuah tempat belajar, tetapi juga membentuk karakter dan keteguhan jiwanya. Pilihan yang diambilnya pada usia muda menjadi titik awal pengabdian yang panjang.
Sejak menamatkan pendidikan pada tahun 1994, beliau tidak kembali mencari jalan lain. Ia justru menetap dan mengabdikan diri di PPI Bangil hingga hari ini. Dari santri menjadi pengabdi, dari pencari ilmu menjadi penyebar manfaat.
Kisah ini mengajarkan bahwa perjalanan yang berat sering kali melahirkan tujuan yang mulia. Dari gelombang laut yang tak menentu, lahir keteguhan. Dari keterbatasan, tumbuh kesungguhan. Dan dari langkah jauh meninggalkan rumah, tumbuh pengabdian yang tak pernah selesai.
Tinggalkan Komentar