
Bahasa Arab bukan sekadar bahasa komunikasi, tetapi bahasa Al-Qur’an, hadis, dan khazanah keilmuan Islam. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Arab membutuhkan guru yang bukan hanya menguasai ilmunya, tetapi juga mampu menghadirkannya secara menarik dan mudah dipahami. Sosok tersebut dapat ditemukan pada diri Ustadzah Nakhmah Ahsin Lathif, salah satu guru Bahasa Arab di Pesantren PERSIS Bangil.
Beliau merupakan alumnus Program Studi Sastra Arab Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia yang dikenal memiliki tradisi akademik yang kuat dalam bidang bahasa, sastra, dan kajian kebudayaan. Pendidikan yang beliau tempuh menjadi bekal penting dalam memahami bahasa Arab, tidak hanya dari sisi tata bahasa (nahwu dan sharaf), tetapi juga sastra, budaya, dan kekayaan ekspresi yang terkandung di dalamnya.
Kini, bersama keluarga, beliau menetap di Perumahan Guru Pesantren, Jalan Bendosulung, Pogar, Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Kedekatan tempat tinggal dengan lingkungan pesantren menjadi bagian dari komitmen beliau untuk selalu hadir dalam dinamika pendidikan para santri, baik di dalam kelas maupun dalam berbagai kegiatan pembinaan.
Di ruang kelas, Ustadzah Nakhmah dikenal sebagai guru yang kreatif, inovatif, dan penuh semangat. Beliau meyakini bahwa setiap santri memiliki potensi untuk mencintai bahasa Arab apabila diajak belajar melalui metode yang tepat. Oleh sebab itu, proses pembelajaran yang beliau bangun selalu dipenuhi variasi metode, media pembelajaran, diskusi, permainan edukatif, simulasi percakapan, hingga penggunaan alat peraga yang memudahkan santri memahami materi.
Bagi beliau, mengajar bukan sekadar menyampaikan pelajaran, melainkan menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna. Bahasa Arab tidak cukup dihafalkan, tetapi harus dirasakan sebagai bahasa yang hidup, indah, dan dekat dengan kehidupan santri.
Dedikasi beliau juga tampak dalam pembinaan santri yang memiliki bakat dan minat di bidang akademik maupun nonakademik. Ustadzah Nakhmah aktif mendampingi para santri mengikuti berbagai kompetisi Bahasa Arab, olimpiade, lomba pidato, musabaqah, hingga Pekan Olahraga dan Seni (Porseni). Beliau percaya bahwa setiap perlombaan bukan semata-mata mengejar prestasi, tetapi juga menjadi sarana membangun keberanian, kepercayaan diri, serta kemampuan berpikir kritis.
Selain itu, beliau dipercaya menjadi Pembimbing Study Club Bahasa Arab Pesantren Putri. Melalui forum ini, santri memperoleh ruang untuk mengembangkan kemampuan bahasa Arab secara lebih mendalam di luar jam pelajaran formal. Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi lahirnya generasi santri yang tidak hanya mampu membaca teks Arab, tetapi juga berdiskusi, berargumentasi, dan menyampaikan gagasan menggunakan bahasa Arab dengan baik.
Salah satu hal yang paling mengesankan dari sosok Ustadzah Nakhmah adalah kesungguhannya dalam mempersiapkan setiap proses pembelajaran. Sebelum memasuki kelas, beliau telah menyiapkan perangkat ajar secara lengkap, menyusun strategi pembelajaran, mempersiapkan media dan alat peraga, hingga merancang bentuk evaluasi yang sesuai dengan capaian belajar santri. Bagi beliau, kualitas pembelajaran tidak ditentukan oleh apa yang terjadi di depan kelas saja, tetapi oleh persiapan yang matang sebelum pelajaran dimulai.
Ketelitian tersebut menjadikan setiap pembelajaran berlangsung sistematis, terarah, dan menyenangkan. Santri tidak hanya memperoleh ilmu, tetapi juga merasakan semangat seorang guru yang memberikan usaha terbaiknya dalam setiap pertemuan.
Namun di balik semua capaian itu, beliau tetap menunjukkan sikap tawadhu’. Segala kemampuan, kesempatan, dan keberhasilan yang diraih diyakininya sebagai karunia Allah Ta’ala semata. Kesadaran inilah yang menjadikan beliau terus belajar, terus memperbaiki diri, dan terus memberikan pengabdian terbaik tanpa merasa paling sempurna.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. al-Bukhari)
Semangat hadis tersebut menjadi ruh bagi setiap pendidik yang menjadikan ilmu sebagai jalan ibadah. Mengajar bukan sekadar profesi, melainkan amanah yang akan terus mengalirkan manfaat selama ilmu itu diamalkan oleh para murid.
Selamat menunaikan amanah, Ustadzah Nakhmah Ahsin Lathif. Semoga setiap huruf yang diajarkan, setiap motivasi yang ditanamkan, setiap waktu yang dipersembahkan untuk mendidik para santri, menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga akhirat kelak. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan keberkahan dalam ilmu, kesehatan dalam pengabdian, keikhlasan dalam setiap langkah, serta menjadikan dedikasi beliau sebagai inspirasi bagi lahirnya generasi santri Pesantren PERSIS Bangil yang mencintai bahasa Al-Qur’an dan siap mengabdikan ilmunya untuk kemaslahatan umat.
Tinggalkan Komentar