Menu
Info Pesantren
Senin, 07 Sep 2026
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur

Merawat Tradisi Literasi, Menghidupkan Bahasa, dan Membimbing Generasi Berpikir

Terbit : Sabtu, 1 Agustus 2026 - Kategori : Alumnus / Guru / Kegiatan / Santri / walisantri

Ustadz Fatahillah, Lc.

Merawat Tradisi Literasi, Menghidupkan Bahasa, dan Membimbing Generasi Berpikir

Tidak semua pengabdian seorang guru dimulai dari ruang kelas. Ada yang memulainya dari sebuah tulisan, dari lembar demi lembar majalah, yang kemudian menginspirasi banyak orang untuk mencintai ilmu.

Begitulah perjalanan Ustadz Fatahillah, Lc., salah seorang guru Pesantren PERSIS Bangil yang mengajarkan bahwa tradisi intelektual dibangun bukan hanya dengan membaca, tetapi juga dengan menulis, berdiskusi, dan membagikan gagasan.

Beliau merupakan alumnus Pesantren PERSIS Bangil tahun 1997. Sejak masih menjadi santri, beliau telah dikenal sebagai sosok yang cerdas, tekun, dan memiliki minat besar terhadap dunia literasi. Bersama rekan-rekannya, beliau menjadi salah satu tokoh di balik lahirnya Majalah Santri Al Hidayah, sebuah media yang pada masanya cukup dikenal di berbagai kampus di Jawa Timur.

Jejak majalah tersebut bahkan melampaui lingkungan pesantren. Penulis sendiri pernah bertemu dengan seorang pembaca Majalah Santri Al Hidayah saat menghadiri sebuah Pengajian Umum di Sidoarjo yang menghadirkan ekonom Faisal Basri sebagai narasumber. Pertemuan itu menjadi bukti bahwa gagasan yang lahir dari tangan para santri mampu menjangkau ruang-ruang intelektual yang lebih luas.

Selepas menamatkan pendidikan di Pesantren PERSIS Bangil, Ustadz Fatahillah melanjutkan studi di LIPIA Jakarta, kemudian memperdalam bidang pendidikannya hingga jenjang magister di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Perjalanan akademik tersebut memperkaya perspektif beliau, namun tidak mengubah pilihan hidupnya: kembali mengabdi kepada pesantren.

Kini beliau mengampu mata pelajaran Balaghah, ilmu yang mengajarkan keindahan, ketepatan, dan kekuatan bahasa Arab dalam menyampaikan makna. Di tangan beliau, Balaghah bukan sekadar teori sastra, tetapi sarana melatih santri agar mampu memahami pesan Al-Qur’an dan khazanah keilmuan Islam dengan lebih mendalam.

Di luar ruang kelas, Ustadz Fatahillah juga menjadi salah satu Koordinator Rumpun Mata Pelajaran dalam Musyawarah Ustadz-Ustadzah Madah (MUUM). Melalui forum ini, beliau turut membangun budaya kolaborasi antar guru agar kualitas pembelajaran terus berkembang dan selaras dengan visi pendidikan pesantren.

Dedikasi beliau juga tampak dalam pendampingan kepada santri kelas akhir yang sedang menyusun makalah. Beliau tidak sekadar mengoreksi tulisan, tetapi membimbing cara berpikir, menyusun argumentasi, memilih referensi, dan membangun tradisi ilmiah yang menjadi ciri pendidikan pesantren.

Bertempat tinggal di Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo, Ustadz Fatahillah menjalani kesehariannya sebagai pendidik yang meyakini bahwa ilmu harus terus bergerak dari guru kepada murid, dari tulisan kepada pembaca, dan dari generasi kepada generasi.

Perjalanan beliau menghadirkan satu pelajaran penting.

Majalah yang dahulu ditulis seorang santri mungkin hanya terdiri dari beberapa lembar kertas. Namun gagasan yang lahir darinya mampu menembus ruang dan waktu.

Hari ini, beliau tidak lagi hanya menulis untuk dibaca.

Beliau sedang mendidik para penulis berikutnya.

Beliau tidak hanya mengajarkan Balaghah.

Beliau sedang mengajarkan bahwa kekuatan sebuah peradaban selalu dimulai dari kemampuan berpikir, menulis, dan menyampaikan kebenaran dengan bahasa yang baik.

Karena itulah, seorang guru sejatinya tidak hanya meninggalkan murid.

Ia meninggalkan tradisi berpikir yang akan terus hidup, bahkan setelah lembar-lembar yang pernah ditulisnya telah lama berganti zaman.

Artikel Lainnya

Oleh : Humas Persis Bangil

SEMUA TERASA SINGKAT

Oleh : Humas Persis Bangil

KAJIAN TAFSIR

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Flag Counter