
Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Di tangan seorang pendidik, bahasa menjadi sarana untuk melatih cara berpikir, menyampaikan gagasan, dan membangun karakter. Itulah amanah yang dijalankan oleh Ustadzah Farkunda, S.Pd., guru Bahasa Indonesia di Pesantren PERSIS Bangil.
Beliau merupakan alumnus Universitas Negeri Jember (UNEJ), salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur. Dalam perjalanan sejarahnya, UNEJ berawal dari sebuah perguruan tinggi swasta yang dahulu dikenal sebagai Universitas Tawang Alun (UNITA), yang memiliki keterkaitan historis dengan perkembangan pendidikan tinggi di Jawa Timur sebelum kemudian berkembang menjadi universitas negeri yang mandiri.
Dengan latar belakang pendidikan tersebut, Ustadzah Farkunda mengabdikan diri dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Bagi beliau, mengajarkan bahasa tidak hanya berarti mengajarkan tata bahasa atau menulis dengan benar. Lebih dari itu, bahasa adalah media untuk melatih santri berpikir runtut, membaca secara kritis, dan menyampaikan pendapat dengan santun serta argumentatif.
Beliau berdomisili di Kota Malang, namun hari-hari tertentu (sesuai jadwal) menempuh perjalanan via jalur KAI untuk menjalankan amanah sebagai pendidik di Pesantren PERSIS Bangil. Jarak bukan menjadi penghalang ketika pengabdian telah menjadi pilihan hidup.
Ustadzah Farkunda juga memiliki hubungan kekeluargaan dengan keluarga besar A. Hassan, pendiri Pesantren PERSIS Bangil. Beliau merupakan keponakan dari almarhum Ustadz Luthfie Abdullah Ismail, Lc., yang pernah mengemban amanah sebagai Mudir Pesantren PERSIS Bangil hingga tahun 2019. Hubungan tersebut bukan sekadar ikatan nasab, tetapi juga menjadi bagian dari estafet nilai-nilai pendidikan dan pengabdian yang telah lama tumbuh di lingkungan pesantren.
Melalui pembelajaran Bahasa Indonesia, Ustadzah Farkunda membantu para santri memahami bahwa kemampuan berbahasa yang baik adalah bekal penting bagi seorang muslim. Gagasan yang benar membutuhkan bahasa yang jelas. Dakwah yang baik membutuhkan penyampaian yang santun. Dan ilmu yang bermanfaat akan lebih mudah diterima apabila disampaikan dengan pilihan kata yang tepat.
Pengabdian beliau menunjukkan bahwa membangun peradaban tidak selalu dimulai dari pidato yang besar.
Sering kali, ia dimulai dari hal-hal sederhana:
mengajarkan santri membaca dengan teliti, menulis dengan baik, dan berbicara dengan penuh adab.
Dari ruang kelas Bahasa Indonesia itulah, Ustadzah Farkunda ikut menyiapkan generasi yang tidak hanya cakap menyampaikan ilmu, tetapi juga bijaksana dalam menggunakan kata-kata.
Tinggalkan Komentar