
Di balik tertibnya administrasi sebuah pesantren, ada orang-orang yang bekerja dengan tekun agar berbagai urusan dapat berjalan sebagaimana mestinya. Salah satunya adalah Muhammad Imam Syafi’i, yang akrab memperkenalkan dirinya dengan sebutan Mas Imam.
Sebagai tenaga Tata Usaha (TU) Pesantren PERSIS Bangil, beliau dikenal memiliki keterampilan yang cukup luas. Berbagai pekerjaan dapat ditangani, mulai dari urusan administrasi yang sederhana hingga pekerjaan teknis dan digitalisasi yang membutuhkan ketelitian serta kemampuan komputer.
Tidak jarang, ketika sebagian besar aktivitas pesantren telah selesai, Mas Imam masih berada di depan layar komputer kantor. Hingga malam larut, pekerjaan yang belum tuntas tetap dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Baginya, menyelesaikan pekerjaan adalah bagian dari amanah yang harus ditunaikan.
Namun di tengah kesibukan tersebut, Mas Imam tetap dikenal dengan sisi pribadinya yang ringan dan menyenangkan. Humor segar kerap hadir di sela aktivitas, membuat suasana kerja tidak terasa kaku.
Sebelum bergabung dalam pengabdian di Pesantren PERSIS Bangil, beliau pernah mengabdi di Banyuwangi pada sebuah yayasan. Pengalaman lainnya juga cukup beragam, termasuk sebagai teknisi servis AC dan pernah menekuni bidang sablon. Beragam pengalaman tersebut menjadi bekal keterampilan praktis yang kemudian banyak berguna dalam pekerjaan sehari-hari di pesantren.
Beliau tinggal di Dusun Nganglang, kawasan yang berada di sekitar perbatasan Rembang dan Bangil, tidak jauh dari aliran Sungai Kedunglarangan.
Perjalanan Mas Imam mengajarkan bahwa tenaga kependidikan tidak selalu bekerja pada satu bidang yang sempit. Justru kemampuan untuk belajar banyak hal dan bersedia membantu berbagai kebutuhan menjadi nilai tersendiri dalam kehidupan pesantren.
Ia mungkin tidak selalu terlihat di depan santri.
Namun ketika sebuah data harus diolah, sistem harus dibenahi, dokumen harus diselesaikan, atau persoalan teknis membutuhkan solusi, ada tangan yang bekerja di balik layar.
Kadang sampai malam, kadang tanpa banyak diketahui, tetapi selalu berusaha memastikan urusan pesantren tetap berjalan.
Itulah pengabdian Mas Imam: bekerja dengan keterampilan, bertahan dengan ketekunan, dan sesekali menyelipkan humor agar perjalanan panjang pekerjaan terasa lebih ringan.
Tinggalkan Komentar