
Kemerdekaan biasanya dipahami sebagai terbebasnya sebuah bangsa dari penjajahan. Karena itu, setiap bulan Agustus kita mengenang perjuangan para pahlawan yang mengorbankan harta, tenaga, bahkan jiwa demi membebaskan negeri ini dari penjajahan.
Itu adalah kemerdekaan yang harus disyukuri.
Namun bagi seorang Muslim, ada kemerdekaan yang lebih mendasar daripada sekadar terbebas dari penjajahan manusia: kemerdekaan tauhid.
Seorang manusia belum benar-benar merdeka apabila tubuhnya bebas, tetapi hatinya masih menjadi hamba bagi selain Allah. Ia mungkin tidak dijajah oleh bangsa lain, tetapi diperbudak oleh hawa nafsu, ketakutan kepada manusia, ambisi terhadap harta, kedudukan, popularitas, atau keyakinan bahwa ada kekuatan selain Allah yang memiliki kuasa mutlak atas dirinya.
Kemerdekaan hakiki adalah ketika manusia hanya menjadi hamba Allah.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Maka tujuan tertinggi kehidupan manusia bukan sekadar hidup bebas, kaya, berkuasa, atau memiliki pilihan sebanyak-banyaknya. Tujuan manusia adalah menjadi ‘abdullah, hamba Allah.
Tauhid bukan sekadar mengakui bahwa Allah adalah Tuhan. Tauhid menuntut agar seluruh bentuk ibadah dan penghambaan diarahkan hanya kepada Allah.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat: ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.'”
(QS. An-Nahl: 36).
Perhatikan dua perintah tersebut: menyembah Allah dan menjauhi thaghut.
Islam tidak hanya mengajarkan kepada manusia kepada siapa ia harus tunduk, tetapi juga membebaskannya dari segala bentuk penghambaan yang bertentangan dengan tauhid.
Karena itu, kemerdekaan dalam Islam bukan berarti manusia bebas melakukan apa saja. Justru manusia merdeka karena ia tidak mempertuhankan kebebasannya sendiri.
Ia bebas dari syirik karena hanya Allah yang menjadi tujuan ibadahnya.
Al-Qur’an menyebut syirik sebagai ظُلْمٌ عَظِيمٌ — kezaliman yang besar.
Ketika Luqman menasihati anaknya, ia berkata:
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
(QS. Luqman: 13)
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan kedudukan tauhid dengan sangat tegas. Ketika Mu’adz bin Jabal bertanya tentang hak Allah atas hamba-Nya, beliau menjawab bahwa hak Allah adalah agar manusia menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
Ini bukan perkara kecil.
Tauhid adalah fondasi hubungan manusia dengan Allah. Karena itu, jika tauhid rusak, kemerdekaan manusia yang sebenarnya juga kehilangan maknanya.
Teladan paling jelas tentang kemerdekaan tauhid dapat dilihat pada Nabi Ibrahim عليه السلام.
Beliau hidup di tengah masyarakat yang menyembah berhala. Bahkan ayah dan kaumnya berada dalam tradisi tersebut.
Namun Ibrahim tidak tunduk kepada tekanan lingkungan.
Allah mengabadikan pernyataannya:
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dia yang menciptakan langit dan bumi dengan hanif, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”
(QS. Al-An’am: 79).
Ibrahim menunjukkan sebuah prinsip besar:
Orang yang benar-benar bertauhid tidak menjadikan tekanan masyarakat sebagai alasan untuk meninggalkan kebenaran.
Ia tidak merendahkan manusia, tetapi ia juga tidak mempertuhankan manusia.
Ia menghormati orang lain, tetapi tidak memberikan hak ketuhanan kepada siapa pun selain Allah.
Inilah misi besar Rasulullah ﷺ di Makkah.
Masyarakat Arab saat itu tidak hanya memiliki persoalan sosial, tetapi juga persoalan aqidah. Ka’bah dipenuhi berhala dan manusia menghubungkan berbagai bentuk ibadah kepada selain Allah.
Rasulullah ﷺ datang dengan kalimat yang sederhana tetapi mengguncang seluruh tatanan jahiliyah:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah.
Kalimat ini bukan sekadar slogan.
Ia mengubah cara manusia memandang kehidupan.
Jika hanya Allah yang menjadi sesembahan, maka manusia tidak boleh menjadikan manusia lain sebagai objek penghambaan.
Jika hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak, maka seorang mukmin tidak boleh menggantungkan keselamatan akhirnya kepada makhluk.
Jika hanya Allah yang menjadi tujuan ibadah, maka harta, jabatan, popularitas, dan kedudukan tidak boleh menjadi “tuhan-tuhan kecil” dalam kehidupan manusia.
Lihatlah generasi pertama Islam.
Bilal bin Rabah رضي الله عنه disiksa karena mempertahankan tauhid. Namun lisannya tetap mengucapkan:
أَحَدٌ أَحَدٌ
“Yang Maha Esa, Yang Maha Esa.”
Ia kehilangan kebebasan fisik untuk sementara, tetapi hatinya tidak berhasil diperbudak oleh manusia.
Demikian pula keluarga Yasir. Mereka mengalami tekanan berat karena mempertahankan iman.
Apa yang membuat mereka bertahan?
Tauhid.
Mereka telah menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada kenyamanan dunia: hubungan langsung dengan Allah.
Inilah paradoks besar dalam kehidupan orang beriman:
Seseorang mungkin kehilangan kebebasan fisik, tetapi tetap memiliki kemerdekaan batin karena hatinya tidak tunduk kepada selain Allah.
Ketika Rasulullah ﷺ mengalami tekanan dan perjuangan dakwah, Abu Bakar رضي الله عنه menjadi salah satu manusia yang paling kuat mendampingi beliau.
Kekuatan Abu Bakar bukan karena ia tidak memiliki rasa takut.
Ia manusia.
Tetapi tauhid membuat rasa takut itu tidak menjadi tuannya.
Allah mengabadikan peristiwa hijrah:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
(QS. At-Taubah: 40)
Inilah kemerdekaan jiwa.
Ketika manusia menghadapi ancaman, ia tetap mengetahui bahwa ada Allah yang menguasai segala sesuatu.
Umar رضي الله عنه menjadi contoh lain.
Islam mengubah seorang manusia yang sebelumnya memiliki karakter keras menjadi seorang pemimpin yang dikenal dengan keadilan dan tanggung jawabnya.
Ketika seseorang benar-benar memahami bahwa ia akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya di hadapan Allah, ia tidak mudah diperbudak oleh penilaian manusia.
Ia tidak perlu melakukan kebaikan hanya karena ingin dipuji.
Ia tidak perlu meninggalkan kebenaran hanya karena takut dicela.
Tauhid melahirkan keberanian moral.
Setelah Bai’atul ‘Aqabah, kaum Muslimin diperintahkan berhijrah ke Madinah.
Apa yang mereka tinggalkan?
Rumah.
Harta.
Perdagangan.
Lingkungan.
Sebagian bahkan meninggalkan keluarga.
Mengapa?
Karena bagi mereka, mempertahankan iman lebih mahal daripada mempertahankan kenyamanan.
Allah berfirman:
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً
“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya dia akan mendapatkan di bumi tempat hijrah yang banyak dan kelapangan.”
(QS. An-Nisa’: 100)
Hijrah mengajarkan bahwa manusia yang merdeka bukanlah manusia yang tidak memiliki keterikatan.
Manusia yang merdeka adalah manusia yang mampu meletakkan segala keterikatan di bawah ketaatan kepada Allah.
Karena itu, ketika umat Islam Indonesia memperingati kemerdekaan, jangan berhenti pada rasa bangga terhadap sejarah bangsa.
Mari bertanya:
Setelah negeri ini merdeka, apakah hati kita juga sudah merdeka?
Bangsa ini mungkin telah terbebas dari penjajahan asing.
Tetapi apakah kita telah terbebas dari:
Kemerdekaan politik tanpa kemerdekaan jiwa dapat menghasilkan manusia yang secara lahiriah bebas tetapi secara batiniah tetap terbelenggu.
Karena itu, kemerdekaan bangsa harus diisi dengan ketauhidan, keadilan, amanah, ilmu, dan akhlak.
Tauhid bukan hanya persoalan ritual.
Tauhid seharusnya membentuk perilaku.
Seorang pejabat yang benar-benar takut kepada Allah tidak akan mudah mengkhianati amanah.
Seorang pedagang yang benar-benar bertauhid tidak akan menjadikan keuntungan sebagai tuhannya.
Seorang guru yang bertauhid tidak menjadikan pujian sebagai tujuan utama.
Seorang santri yang bertauhid tidak belajar hanya untuk mendapatkan gelar.
Seorang anak yang bertauhid menghormati orang tuanya, tetapi tidak menaati mereka dalam kemaksiatan.
Tauhid mengajarkan:
Allah di atas segala sesuatu.
Maka tidak boleh ada kepentingan dunia yang mengalahkan kebenaran.
Al-Qur’an memberikan hubungan yang sangat kuat antara tauhid dan keamanan.
Allah berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah yang mendapatkan keamanan dan mereka mendapat petunjuk.”
(QS. Al-An’am: 82).
Para sahabat sempat merasa khawatir karena memahami “zulm” secara umum. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah syirik, sebagaimana nasihat Luqman kepada anaknya.
Maka tauhid memberikan keamanan yang paling fundamental: keamanan hubungan manusia dengan Rabb-nya.
Maka perjuangan kemerdekaan umat Islam tidak berhenti pada perjuangan fisik.
Ada perjuangan yang berlangsung setiap hari di dalam diri kita:
Merdeka dari syirik dengan tauhid.
Merdeka dari kebodohan dengan ilmu.
Merdeka dari hawa nafsu dengan takwa.
Merdeka dari ketamakan dengan qana’ah.
Merdeka dari kebohongan dengan kejujuran.
Merdeka dari pengkhianatan dengan amanah.
Merdeka dari kesombongan dengan tawadhu’.
Merdeka dari ketakutan kepada manusia dengan keberanian karena Allah.
Inilah kemerdekaan yang dicontohkan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.
Mereka tidak hidup untuk mengejar kebebasan tanpa batas.
Mereka hidup untuk menjadi hamba Allah.
Dan justru ketika seseorang hanya tunduk kepada Allah, ia tidak mudah diperbudak oleh siapa pun.
Maka pada saat kita mengibarkan Merah Putih dan mensyukuri kemerdekaan Indonesia, seorang Muslim hendaknya juga mengangkat pertanyaan yang lebih dalam:
Sudahkah hati kita merdeka?
Sebab tidak ada kemerdekaan yang lebih tinggi daripada hati yang hanya tunduk kepada Allah.
Tidak ada penjajahan yang lebih berbahaya daripada ketika manusia kehilangan tauhidnya.
Dan tidak ada kemerdekaan yang lebih mulia daripada ketika seorang manusia dapat berkata dalam seluruh hidupnya:
إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-An’am: 162)
Itulah kemerdekaan yang sebenarnya: bukan bebas dari Allah, tetapi bebas dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah.
Merah Putih boleh berkibar di langit Indonesia. Tetapi tauhid harus berkibar lebih tinggi di dalam hati setiap Muslim.
Tinggalkan Komentar