Menu
Info Pesantren
Minggu, 11 Okt 2026
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur

Menjaga Asrama, Menguatkan Tradisi Ilmu

Terbit : Minggu, 23 Agustus 2026 - Kategori : Alumnus / Da'wah / Guru / PSB

Ustadzah Mumtazah binti Abdul Qadir

Menjaga Asrama, Menguatkan Tradisi Ilmu

Di lingkungan pesantren, kepemimpinan tidak selalu hadir dalam bentuk jabatan yang besar. Kadang ia tumbuh dari kesediaan memperhatikan hal-hal yang sederhana: memastikan santri merasa nyaman, melihat kebutuhan yang belum terpenuhi, mendengar persoalan yang muncul, lalu bergerak mencari jalan keluarnya.

Sosok itu tercermin pada Ustadzah Mumtazah binti Abdul Qadir, yang saat ini dipercaya sebagai Wakil Kepala Pengasuh Asrama Putri Pesantren PERSIS Bangil.

Beliau merupakan alumnus Pesantren PERSIS Bangil. Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren, beliau melanjutkan studi ke UIN Jakarta. Menariknya, jejak pendidikan tersebut kemudian berlanjut dalam keluarganya. Putri pertama beliau juga menempuh pendidikan di kampus yang sama. Sebuah gambaran sederhana tentang bagaimana tradisi menuntut ilmu dapat berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di Pesantren PERSIS Bangil, Ustadzah Mumtazah mengampu mata pelajaran Ilmu Akhlaq. Pilihan bidang ini sejalan dengan peran beliau di asrama, karena pendidikan akhlak tidak cukup hanya disampaikan sebagai materi pelajaran. Ia harus hadir dalam kebiasaan, kedisiplinan, cara berinteraksi, tanggung jawab, dan kehidupan sehari-hari santri.

Sebagai wakil kepala pengasuh, beliau memberikan dukungan kuat kepada Ustadzah Imas Masyitoh selaku Kepala Pengasuh Asrama Putri. Kepemimpinan keduanya berjalan dalam pola kerja sama dan saling melengkapi. Bu Imas mengemban tanggung jawab sebagai kepala, sementara Ustadzah Mumtazah ikut memastikan berbagai persoalan asrama dapat diperhatikan dan ditindaklanjuti.

Salah satu kekuatan Ustadzah Mumtazah adalah perhatian beliau terhadap kebutuhan sarana dan prasarana santri. Baginya, pembinaan tidak hanya berbicara tentang aturan dan kedisiplinan. Lingkungan fisik tempat santri tinggal juga harus layak, aman, nyaman, dan mendukung proses pendidikan.

Perhatian tersebut kemudian diwujudkan dalam sejumlah renovasi dan peningkatan fasilitas asrama. Program tersebut mendapat dukungan dari para alumni yang ikut bergotong royong membantu peningkatan kualitas sarana fisik dan fasilitas bagi santri putri.

Di sinilah kepemimpinan seorang pengasuh menemukan bentuknya.

Bukan hanya mengetahui masalah, tetapi berusaha mencari solusi.

Bukan hanya meminta santri disiplin, tetapi juga memastikan lingkungan mereka mendukung kedisiplinan.

Bukan hanya berbicara tentang pendidikan, tetapi ikut membangun ruang tempat pendidikan itu berlangsung.

Bangil dan Jejak Panjang Pesantren PERSIS

Ustadzah Mumtazah mengabdikan diri di sebuah kota yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Islam di Jawa Timur: Bangil.

Secara geografis, Bangil berada di Kabupaten Pasuruan, di kawasan yang menghubungkan jalur Surabaya dengan wilayah timur Jawa. Letaknya yang strategis sejak dahulu menjadikannya salah satu kawasan penting dalam aktivitas perdagangan, sosial, dan keagamaan.

Dalam perjalanan sejarahnya, Bangil kemudian dikenal semakin luas sebagai salah satu pusat pemikiran dan pendidikan Islam, terutama setelah hadirnya A. Hassan.

A. Hassan, tokoh utama Persatuan Islam dan salah satu ulama yang dikenal kuat dalam tradisi argumentasi keislaman, menjadikan Bangil sebagai salah satu basis penting aktivitas pendidikan dan dakwahnya. Dari sinilah kemudian berkembang Pesantren PERSIS Bangil, yang menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki karakter khas: penguatan Al-Qur’an dan Sunnah, penguasaan ilmu-ilmu keislaman, kemampuan berbahasa Arab, serta pembentukan kader yang memiliki kemampuan intelektual dan dakwah.

Pesantren tersebut telah melewati berbagai generasi.

Para santri datang dan pergi.

Para guru berganti.

Zaman berubah.

Namun tradisi keilmuan dan semangat pengabdian terus diupayakan untuk dipertahankan.

Dalam konteks modern, Pesantren PERSIS Bangil menghadapi tantangan yang tentu berbeda dari masa-masa awal berdirinya. Pendidikan pesantren kini berhadapan dengan perkembangan teknologi, perubahan karakter generasi, tuntutan akademik, dan kebutuhan kompetensi yang semakin beragam.

Karena itu, pesantren tidak cukup hanya mempertahankan masa lalu.

Warisan harus dijaga, tetapi cara menghidupkannya harus terus berkembang.

Pembelajaran agama tetap menjadi fondasi. Bahasa Arab dan ilmu-ilmu syariah tetap diperkuat. Namun di saat yang sama, pendidikan umum, teknologi, keterampilan, pembinaan karakter, pengembangan potensi santri, dan kualitas lingkungan pendidikan juga menjadi bagian penting dari perjalanan pesantren modern.

Dalam proses itulah keberadaan para pengasuh asrama menjadi sangat penting.

Sebab pendidikan pesantren tidak berhenti ketika bel pelajaran berbunyi.

Nasab yang Bertemu dengan Pengabdian

Ustadzah Mumtazah juga memiliki hubungan keluarga dengan salah satu mata rantai penting sejarah keilmuan Pesantren PERSIS Bangil.

Beliau merupakan putri dari Zuhriyah binti Abdul Qadir Hassan.

Nama Abdul Qadir Hassan sendiri merupakan bagian penting dari sejarah intelektual Pesantren PERSIS Bangil. Dengan demikian, perjalanan Ustadzah Mumtazah memiliki keterhubungan dengan keluarga yang telah lama berada dalam tradisi keilmuan dan pendidikan Islam di Bangil.

Namun nasab, betapapun mulianya, tidak otomatis menjadi ukuran keberhasilan seseorang.

Nasab adalah warisan.

Pengabdian adalah pilihan.

Ustadzah Mumtazah memilih untuk menjadikan warisan tersebut bukan sekadar kebanggaan keluarga, tetapi sebagai energi untuk terus bekerja dan memberikan manfaat.

Ia mengajar akhlak.

Ia mendampingi kehidupan asrama.

Ia mendukung kepemimpinan Bu Imas.

Ia memperhatikan kebutuhan santri.

Ia ikut mengawal perbaikan fasilitas.

Dan ia membangun komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk para alumni yang kemudian ikut mengambil bagian dalam peningkatan kualitas asrama.

Pada akhirnya, perjalanan Ustadzah Mumtazah memberikan sebuah pelajaran sederhana:

tradisi ilmu akan tetap hidup bukan karena nama besar yang diwariskan, tetapi karena ada generasi yang bersedia meneruskan nilai itu melalui kerja nyata.

Dari keluarga yang memiliki akar kuat dalam sejarah Pesantren PERSIS Bangil, beliau kini berdiri bersama generasi baru santri putri.

Mengajarkan akhlak di kelas.

Mendampingi mereka di asrama.

Dan memastikan tempat mereka belajar dan tinggal semakin layak.

Bangil bukan hanya tempat beliau mengajar.

Bangil menjadi ruang tempat warisan ilmu, kepemimpinan, dan pengabdian bertemu dalam kehidupan sehari-hari.

Dan mungkin, di situlah makna seorang pengasuh sebenarnya:

bukan sekadar menjaga santri agar mengikuti aturan,

tetapi ikut menjaga agar sebuah generasi tumbuh dalam lingkungan yang membuat mereka siap membawa ilmu, akhlak, dan amanah ketika kelak meninggalkan pesantren.

Artikel Lainnya

Oleh : Humas Persis Bangil

KUNJUNGAN PANITIA PEMILU

Oleh : Humas Persis Bangil

Manfaat Pelaksanaan Asesmen Madrasah

Oleh : Humas Persis Bangil

BERITA DUKA

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Flag Counter