Menu
Info Pesantren
Senin, 12 Okt 2026
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur

Belajar Menjaga Semangat di Tengah Kesibukan

Terbit : Selasa, 22 September 2026 - Kategori : Alumnus / Guru / Kegiatan / PSB / Santri / walisantri

Zeba dari Bandung: Belajar Menjaga Semangat di Tengah Kesibukan

Tidak semua perjuangan belajar berlangsung dalam suasana yang selalu bersemangat. Ada pagi ketika mata masih berat, ada waktu ketika tubuh mulai lelah, dan ada saat ketika keinginan untuk beristirahat terasa lebih kuat daripada membuka buku. Tetapi justru di situlah proses belajar menemukan maknanya. Bagi Biwi Zebba, atau yang akrab disapa Zeba, menjaga semangat untuk terus belajar adalah bagian dari perjalanan menjadi santri.

Mojang Bandung ini memilih Bangil sebagai tempat untuk menimba ilmu. Kini ia bersama teman-temannya duduk di kelas 4 Pesantren PERSIS Bangil. Jarak antara Bandung dan Bangil bukan sekadar jarak geografis, tetapi juga menjadi bagian dari keberanian seorang pelajar untuk meninggalkan lingkungan asalnya dan tumbuh dalam suasana pendidikan yang baru.

Dari Kota di Cekungan Bandung ke Bangil

Bandung merupakan ibu kota Jawa Barat yang secara geografis berada di kawasan Cekungan Bandung. Kota ini berada pada ketinggian sekitar 791 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi kawasan pegunungan; bagian utaranya memiliki elevasi yang lebih tinggi dibandingkan bagian selatan. Luas Kota Bandung sekitar 167,31 kilometer persegi. (Badan Pusat Statistik Kota Bandung)

Bandung juga memiliki karakter sebagai kota pendidikan, kebudayaan, dan kreativitas. Karakter tersebut menjadi bagian dari lingkungan tempat Zeba tumbuh sebelum kemudian memilih Bangil sebagai tempat melanjutkan perjalanan pendidikannya.

Dari Bandung ia datang ke Bangil, sebuah kota di Jawa Timur yang juga memiliki hubungan penting dengan sejarah pendidikan dan dakwah Persatuan Islam. Maka, tanpa disadari, perjalanan Zeba mempertemukan dua ruang yang memiliki jejak penting dalam sejarah PERSIS: Bandung sebagai tempat lahirnya Persatuan Islam dan Bangil sebagai salah satu pusat penting perkembangan pendidikan serta dakwah PERSIS.

Bandung dan Bangil dalam Jejak Persatuan Islam

Persatuan Islam (PERSIS) secara resmi berdiri di Bandung pada 12 September 1923, berawal dari kelompok penelaahan agama yang dipimpin K.H.M. Zamzam dan K.H.M. Yunus. Sejak awal, pendidikan dan dakwah menjadi bagian penting dari gerakannya. (Portal Persatuan Islam (PERSIS))

Bandung kemudian menjadi salah satu pusat penting tradisi intelektual PERSIS. Pesantren PERSIS pertama juga didirikan di Bandung pada 4 Maret 1936, sebagai bagian dari upaya menjadikan pendidikan sebagai sarana dakwah dan kaderisasi. (Portal Persatuan Islam (PERSIS))

Sementara itu, Bangil memiliki jejak yang tidak kalah penting. Kota ini sangat erat dengan perjalanan A. Hassan, salah satu ulama utama PERSIS yang dikenal pula dengan sebutan Hassan Bandung dan Hassan Bangil. Perjalanan A. Hassan kemudian menjadikan Bangil sebagai salah satu tempat penting dalam sejarah dakwah dan pendidikan PERSIS. (Portal Persatuan Islam (PERSIS))

Bahkan, sejarah PERSIS mencatat Muktamar ke-7 berlangsung di Bangil pada 2–5 Agustus 1960. Catatan sejarah tersebut menunjukkan bahwa Bandung dan Bangil bukan sekadar dua kota yang secara geografis berada di provinsi berbeda. Keduanya memiliki mata rantai dalam perjalanan intelektual, dakwah, dan pendidikan Persatuan Islam. (Portal Persatuan Islam (PERSIS))

Karena itu, ketika seorang santri dari Bandung belajar di Bangil, ada sebuah kesinambungan simbolik yang menarik: dari kota tempat PERSIS lahir menuju salah satu kota yang kemudian menjadi penting dalam perjalanan dakwah dan pendidikan PERSIS.

Belajar Sebelum Pelajaran Dimulai

Di lingkungan pesantren, Zeba menjalani hari-harinya sebagai pelajar sebagaimana santri lainnya. Namun ada satu kebiasaan yang menarik: ia dan teman-temannya berusaha mempelajari materi sebelum pelajaran dimulai.

Kebiasaan sederhana itu sesungguhnya memiliki nilai pendidikan yang besar.

Belajar tidak lagi hanya berarti menunggu guru menjelaskan. Ada usaha untuk datang ke kelas dengan persiapan, membaca terlebih dahulu, mencoba memahami pokok persoalan, kemudian mengikuti penjelasan guru dengan bekal pengetahuan awal.

Dengan cara seperti itu, kelas dapat menjadi ruang untuk memperdalam pemahaman, bukan sekadar tempat pertama kali mengenal materi.

Tugas-tugas pun berusaha diselesaikan dengan baik. Ada tanggung jawab yang dibangun sedikit demi sedikit melalui rutinitas: membaca, memahami, mengerjakan, mengevaluasi, dan memperbaiki.

Namun tentu saja, menjadi santri tidak selalu mudah.

Ada saat ketika tubuh merasa lelah. Ada kantuk yang datang di tengah aktivitas. Ada kejenuhan yang sesekali muncul ketika jadwal belajar dan kegiatan pesantren berjalan padat.

Zeba pun mengalaminya.

Tetapi di tengah kondisi itu, ia berusaha menjaga semangat tetap terbangun.

Ketika Semangat Menjadi Kebiasaan

Barangkali di sinilah cerita Zeba menjadi menarik.

Prestasi belajar tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang ia bermula dari kebiasaan yang sangat sederhana: membuka buku sebelum pelajaran, berdiskusi dengan teman, menyelesaikan tugas tepat waktu, dan berusaha tetap belajar meskipun sedang lelah.

Teman-teman di sekitarnya juga menjadi bagian dari proses tersebut. Belajar bersama membuat beban terasa lebih ringan. Ketika seseorang mulai kehilangan semangat, teman dapat menjadi pengingat. Ketika sebuah materi sulit dipahami, diskusi dapat membuka sudut pandang baru.

Dengan demikian, proses belajar Zeba bukan perjalanan individual sepenuhnya. Ada lingkungan yang ikut membentuknya.

Pesantren pada akhirnya bukan hanya tempat seseorang menerima pelajaran dari guru. Ia juga menjadi ruang tempat santri belajar mengatur diri, membangun kebiasaan, bekerja bersama, dan bertanggung jawab terhadap pilihan belajarnya.

Dari Bandung, Menjaga Api Belajar di Bangil

Zeba mungkin datang dari Bandung dengan membawa banyak hal dari rumah: pengalaman, kebiasaan, kenangan, dan budaya tempat ia tumbuh. Di Bangil, semua itu bertemu dengan pengalaman baru sebagai santri.

Ia belajar bahwa menuntut ilmu membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan. Diperlukan kedisiplinan, kesabaran, ketekunan, dan kemampuan menjaga semangat ketika keadaan tidak selalu ideal.

Perjalanan Zeba juga seolah mempertemukan dua kota dalam satu cerita pendidikan PERSIS. Bandung mengingatkan pada tempat lahirnya sebuah gerakan pendidikan dan dakwah. Bangil mengingatkan pada jejak panjang tokoh dan tradisi pendidikan PERSIS yang berkembang di Jawa Timur.

Di antara keduanya, ada seorang santri kelas 4 bernama Zeba yang sedang menjalani prosesnya sendiri.

Tidak selalu dengan langkah besar.

Kadang hanya dengan membuka buku sebelum pelajaran dimulai.

Kadang dengan menyelesaikan tugas ketika rasa kantuk mulai datang.

Kadang dengan duduk bersama teman, saling bertanya, lalu mencoba memahami pelajaran yang terasa sulit.

Sebab menjadi santri bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang telah dikuasai, tetapi juga tentang bagaimana seseorang belajar bertahan dalam proses untuk mendapatkannya.

Dan dari Bandung ke Bangil, Zeba sedang menapaki proses itu—belajar dengan sungguh-sungguh, bertumbuh bersama teman-teman, dan menjaga semangat agar cita-cita ilmu tetap menyala.

Artikel Lainnya

Oleh : Humas Persis Bangil

IMAN KEPADA TAKDIR

Oleh : Humas Persis Bangil

BERMAIN DI ASRAMA

Oleh : Humas Persis Bangil

ASESMEN MADRASAH ALIYAH

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Flag Counter