
Pagi itu seperti biasa, langit Bangil masih gelap ketika para santri Pesantren PERSIS Putra bergegas menuju Masjid Manarul Islam. Tahun-tahun 1990-an, suasana masih sederhana. Lampu masjid tidak terlalu terang, tapi cukup untuk melihat saf yang mulai terisi.
“Cepat, nanti ketinggalan takbir pertama,” bisik seorang santri sambil menarik sarung temannya.
Shalat Subuh pun berlangsung khusyuk. Setelah salam, para santri tidak langsung bubar. Mereka duduk rapi untuk menyimak kajian yang biasanya diisi oleh para asatidz seperti Ustadz Muammal Hamidy, Ustadz Hud AM., atau guru-guru lainnya.
Hari itu, suara kajian mengalun tenang. Udara dingin, perut masih kosong, dan mata yang belum sepenuhnya terbuka menjadi kombinasi yang… berbahaya.
Di barisan tengah, beberapa santri mulai menunjukkan tanda-tanda klasik.
Kepala mengangguk pelan.
Tubuh sedikit miring.
Lalu kembali tegak…
lalu miring lagi.
“Eh, jangan tidur,” bisik temannya pelan.
“Iya… iya…” jawabnya, sambil tetap terpejam.
Kajian terus berjalan.
Satu per satu santri yang “berjuang” akhirnya kalah. Mereka tertidur dengan posisi yang unik—ada yang tetap duduk, ada yang hampir rebah, bahkan ada yang masih memegang kitab tapi sudah tidak tahu halaman berapa.
Sementara itu, kajian selesai. Para santri lain perlahan keluar dari masjid. Suasana menjadi sepi.
Tiba-tiba…
“Eh?!”
Seorang santri terbangun dengan kaget.
Ia melihat sekeliling.
Sepi.
“Lho… sudah selesai?”
Ia berdiri cepat, masih setengah sadar. Langkahnya sedikit sempoyongan. Matanya belum sepenuhnya terbuka.
“Wah, saya ketinggalan!”
Ia pun berjalan cepat menuju pintu masjid.
Dan… duk!
Ia menabrak pintu kaca yang ternyata sudah tertutup.
“Aduh!” katanya sambil memegangi dahi.
Dari luar, beberapa temannya yang belum jauh pergi menahan tawa.
“Makanya, jangan tidur!” teriak salah satu dari mereka.
Tidak lama, kejadian serupa terulang di sudut lain.
Seorang santri lain bangun dengan ekspresi bingung.
“Ini masih kajian atau sudah kiamat kecil?” gumamnya.
Ia berjalan pelan, lalu—tanpa sadar—hampir mengulang kejadian yang sama. Untung kali ini ada yang mengingatkan.
“Pintunya ditarik, bukan ditabrak!” teriak temannya.
Suasana pagi itu pun dipenuhi tawa kecil para santri.
Meski tampak jenaka, kejadian-kejadian seperti itu menjadi cerita yang tidak pernah habis dikenang. Di balik kantuk dan kelelahan, mereka belajar satu hal sederhana: menuntut ilmu itu butuh perjuangan… bahkan melawan rasa ngantuk.
Dan bagi santri era 1990-an di Pesantren PERSIS Bangil, Subuh bukan hanya waktu ibadah dan kajian, tetapi juga waktu di mana antara pahala, kantuk, dan pintu kaca—semuanya bisa bertemu dalam satu cerita.
Tinggalkan Komentar