Menu
Info Pesantren
Sabtu, 02 Mei 2026
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur

Jejak Kata yang Memudar: Menyusuri Kosa Kata Lama dalam Bahasa Indonesia

Terbit : Kamis, 30 April 2026 - Kategori : Alumnus / Guru / plkj / PSB / Santri

Bahasa adalah makhluk hidup: ia tumbuh, berubah, dan kadang meninggalkan sebagian “anggota tubuhnya” yang dulu begitu akrab di telinga. Dalam khazanah bahasa Indonesia, kita menemukan banyak kosa kata lama yang kini mulai jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kata-kata seperti pandir, papa, dan tabiat perlahan tergeser oleh padanan yang dianggap lebih modern, lebih ringkas, atau lebih populer di kalangan generasi baru. Namun, di balik keterasingannya, kata-kata ini menyimpan kekayaan makna dan nuansa yang tidak selalu tergantikan.

Ambil contoh kata pandir. Dahulu, kata ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang bodoh atau kurang cerdas, tetapi dengan nuansa yang lebih halus dibandingkan kata-kata kasar yang sering kita dengar sekarang. Dalam sastra lama, penggunaan kata pandir terasa lebih beradab, seakan memberi kritik tanpa harus menjatuhkan martabat secara langsung. Kini, kata tersebut hampir tidak terdengar dalam percakapan sehari-hari, digantikan oleh istilah seperti “bodoh” atau bahkan ungkapan slang yang jauh lebih keras.

Demikian pula dengan kata papa. Dalam bahasa Indonesia lama, papa berarti miskin atau kekurangan harta. Kata ini sering muncul dalam karya sastra klasik atau terjemahan lama, seperti dalam ungkapan “hidup papa dan sengsara”. Namun, seiring waktu, maknanya bergeser dalam pemahaman masyarakat modern yang lebih akrab dengan kata “miskin” atau “kurang mampu”. Bahkan, bagi sebagian orang, papa kini lebih dikenal sebagai sapaan untuk ayah, yang tentu sangat berbeda maknanya.

Kata tabiat juga mengalami nasib serupa. Kata ini merujuk pada watak atau sifat dasar seseorang. Dalam teks-teks lama, kita sering menemukan ungkapan seperti “tabiat buruk” atau “tabiat mulia”. Sekarang, kata “sifat” atau “karakter” lebih umum digunakan, terutama dalam bahasa formal maupun pendidikan. Padahal, tabiat memiliki nuansa yang lebih dalam, seolah menggambarkan sesuatu yang melekat kuat dan sulit diubah.

Selain ketiga kata tersebut, masih banyak kosa kata lain yang mulai jarang terdengar. Misalnya uzur (tua atau lemah), latah (reaksi spontan yang berlebihan terhadap rangsangan tertentu), cengeng (mudah menangis), atau permai (indah dan menenangkan). Kata-kata ini dahulu lazim digunakan dalam percakapan maupun tulisan, tetapi kini mulai tergeser oleh istilah yang dianggap lebih “kekinian”.

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari perkembangan zaman, pengaruh media, serta perubahan gaya komunikasi. Bahasa yang digunakan generasi muda cenderung lebih singkat, praktis, dan dipengaruhi oleh bahasa asing maupun slang. Akibatnya, kosa kata lama perlahan tersisih karena dianggap kurang relevan atau terasa kaku.

Namun, hilangnya penggunaan bukan berarti hilangnya nilai. Kosa kata lama tetap penting sebagai bagian dari warisan budaya dan identitas bahasa. Dalam karya sastra, pidato, atau tulisan reflektif, penggunaan kata-kata seperti pandir, papa, dan tabiat justru dapat menghadirkan keindahan dan kedalaman makna yang khas. Ia memberi rasa “rasa bahasa” yang lebih halus, lebih berlapis, dan kadang lebih menyentuh.

Oleh karena itu, menjaga keberadaan kosa kata lama bukan berarti menolak perubahan, melainkan merawat kekayaan bahasa agar tetap utuh. Kita tidak harus selalu menggunakannya dalam percakapan sehari-hari, tetapi setidaknya memahami maknanya dan sesekali menghidupkannya kembali dalam tulisan atau kesempatan tertentu. Dengan begitu, bahasa Indonesia tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga cermin sejarah dan peradaban yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Artikel Lainnya

Oleh : Humas Persis Bangil

RAIH PRESTASI DI SILAT PANTAI

Oleh : Humas Persis Bangil

Motivasi untuk Para Orang Tua

Oleh : Humas Persis Bangil

BELAJAR EKONOMI SYARIAH

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Flag Counter