Menu
Info Pesantren
Jumat, 23 Okt 2026
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur

Dari Bandung, Mengabdi untuk Putri-Putri Bangil

Terbit : Minggu, 23 Agustus 2026 - Kategori : Alumnus / Da'wah / Guru / Santri / walisantri

Ustadzah Imas Masyitoh

Dari Bandung, Mengabdi untuk Putri-Putri Bangil

Dari Bandung, kota yang sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan dan pergerakan intelektual di Jawa Barat, lahir sosok Ustadzah Imas Masyitoh. Perjalanan hidupnya kemudian membawa beliau jauh ke Jawa Timur, hingga Bangil menjadi tempat beliau menunaikan pengabdian.

Beliau merupakan alumnus Pesantren PERSIS Bangil era 1990-an. Setelah menyelesaikan pendidikan, beliau memilih untuk tetap berada di lingkungan pesantren sebagai tenaga pengajar. Beberapa tahun terakhir, amanah beliau berkembang menjadi Kepala Pengasuh Asrama Putri—sebuah tugas yang menuntut kehadiran, kesabaran, ketegasan, sekaligus kemampuan membangun komunikasi yang baik.

Sebagai Ibu Asrama, tanggung jawab beliau tidak sederhana. Bersama jajaran pengasuh, beliau mengawal kedisiplinan santri, pendidikan keseharian, kegiatan organisasi santri, pembinaan ibadah, hingga komunikasi dengan para wali santri. Semua membutuhkan koordinasi dan konsolidasi yang terus-menerus.

Dalam menjalankan amanah tersebut, beliau didampingi oleh Wakil Kepala Pengasuh Asrama Putri, Ustadzah Mumtazah, serta para staf pengasuh. Beberapa tahun terakhir, pembinaan juga mendapat dukungan dari Kafilah Du’at PP PERSIS yang mengabdi sebagai full timer di asrama putri. Tahun ini, dua orang kader, Teh Syifa dan Teh Sri, turut mendampingi kehidupan santri putri.

Ada sisi lain yang membuat pengabdian Bu Imas semakin berarti. Dalam kondisi fisik yang tidak selalu berada dalam keadaan prima, beliau tetap berusaha hadir menjalankan amanah. Bukan karena tugas itu ringan, tetapi karena pendidikan santri membutuhkan orang-orang yang bersedia bertahan ketika keadaan tidak selalu mudah.

Di samping mengurus asrama, beliau tetap mengajar Nahwu, sesuai dengan bidang keahliannya. Dengan demikian, peran beliau tidak hanya sebagai pengasuh yang mengawal kehidupan santri di asrama, tetapi juga sebagai guru yang hadir dalam proses pembelajaran.

Dukungan keluarga tentu menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Ustadz Selamet Junaidi, suami beliau, memberikan dukungan penuh terhadap amanah yang dipikulnya. Beliau juga merupakan da’i dan alumnus Pesantren PERSIS Bangil, sehingga memiliki kedekatan pengalaman dan pemahaman terhadap dunia pesantren serta perjuangan dakwah. Dukungan tersebut menjadi kekuatan tersendiri bagi Bu Imas dalam menjalankan tugasnya.

Tempat tinggal beliau yang relatif dekat dengan kompleks Pesantren PERSIS Putri Bangil juga menjadi kemudahan tersendiri untuk menjalankan tugas kepengasuhan. Kedekatan itu memungkinkan beliau untuk lebih mudah hadir, berkoordinasi, dan merespons berbagai kebutuhan asrama.

Pada akhirnya, perjalanan Ustadzah Imas Masyitoh memperlihatkan bagaimana seorang alumnus dapat kembali kepada tempat yang dahulu mendidiknya, lalu mengambil peran untuk mendidik generasi setelahnya.

Bandung adalah kota kelahirannya. Bangil adalah rumah pengabdiannya.

Dari santri era 1990-an, beliau kemudian tumbuh menjadi guru dan kini menjadi sosok yang ikut menjaga kehidupan ratusan santri putri setiap hari.

Menjadi Ibu Asrama berarti bersedia hadir ketika santri membutuhkan arahan, ketika aturan harus ditegakkan, ketika persoalan harus diselesaikan, dan ketika seorang santri membutuhkan seseorang untuk sekadar didengarkan.

Itulah pengabdian Bu Imas: mengawal, mendampingi, mengajar, dan bertahan—demi memastikan pendidikan para santri tetap berjalan dengan nilai, kedisiplinan, dan kasih sayang.

Artikel Lainnya

Oleh : Humas Persis Bangil

AKSI PEDULI ALUMNUS 1989

Oleh : Humas Persis Bangil

Bekerja dalam Diam, Memberi Arti

Oleh : Humas Persis Bangil

PERAN TEMAN

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Flag Counter