
Langit Bangil sore itu kelabu. Hujan turun perlahan ketika Muizza, Ihintza, Wafda, Miftahul Jannah, Sabila, Ilmi, dan Rachel bersiap berangkat menuju kegiatan Camp Tahfidz Remaja Masjid An Nuur Muhammadiyah Sidoarjo pada 6–8 Maret 2026.
“MasyaAllah… berangkat saja sudah disambut hujan,” kata Wafda sambil tersenyum.
Muizza menimpali, “Mungkin ini hujan keberkahan.”
Perjalanan mereka terasa ringan meski cuaca basah. Setibanya di kompleks Masjid An Nuur Muhammadiyah Sidoarjo, mereka terpukau. Masjid itu berdiri megah dengan halaman luas. Di depannya tampak bangunan Rumah Sakit Umum Sidoarjo, sementara di sekeliling kawasan berdiri lembaga pendidikan seperti SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo dan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
“Lingkungannya benar-benar pusat pendidikan,” kata Ilmi kagum.
“Masjid, sekolah, rumah sakit… semuanya berdekatan,” tambah Rachel.
Di tempat yang sama, para santri putra—Adib, Panji, Royyan, Arga, Zulfikar, Hirata, Akbar, dan Ramadhan—telah bersiap menjalankan tugas mereka sebagai musyrif.
Panji berkata kepada teman-temannya, “Kita di sini bukan sekadar menyimak hafalan. Kita sedang membantu orang lain menjaga Al-Qur’an.”
Ramadhan mengangguk. “Ternyata ilmu yang kita pelajari di pesantren benar-benar dipakai.”
Selama tiga hari itu, para santri putri menjadi musyrifah bagi peserta perempuan, sedangkan santri putra menyimak hafalan peserta laki-laki. Kegiatan dipisahkan dengan tertib untuk menjaga adab-adab Islami.
Di sela kegiatan, Ihintza berkata kepada teman-temannya, “Awalnya aku kira ini cuma kegiatan biasa. Tapi ternyata banyak peserta yang benar-benar butuh bimbingan.”
Miftahul Jannah menambahkan, “Ada yang baru mulai menghafal. Mereka sangat senang ketika kita bantu memperbaiki tajwid.”
Sementara di sisi lain masjid, Royyan berbincang dengan Arga.
“Sekarang aku baru paham kenapa guru kita selalu menekankan tajwid dan ketelitian hafalan,” kata Royyan.
Arga tertawa kecil. “Iya, kalau kita tidak serius belajar dulu, mungkin sekarang kita juga bingung membimbing.”
Pada malam terakhir kegiatan, Kak Anisa—pembina kegiatan—mengumpulkan mereka.
Ia tersenyum bangga.
“Kalian semua bekerja dengan sangat baik. Kinerja kalian luar biasa. Peserta merasa terbantu, dan suasana camp menjadi hidup.”
Para santri saling berpandangan dengan rasa haru.
Saat mereka pulang, hujan kembali turun. Bahkan lebih deras dari saat berangkat.
Rachel berkata pelan di dalam perjalanan, “Hujan lagi…”
Sabila tersenyum. “Mungkin ini cara Allah mengingatkan kita bahwa setiap langkah khidmah tidak pernah sia-sia.”
Adib yang duduk di kendaraan lain berkata kepada teman-temannya, “Sekarang aku benar-benar sadar. Ilmu yang kita dapat di pesantren bukan hanya untuk kita sendiri.”
Ramadhan mengangguk mantap.
“Ilmu itu untuk umat.”
Di tengah derasnya hujan perjalanan pulang, mereka membawa satu kesadaran yang sama:
apa yang mereka pelajari di pesantren—Al-Qur’an, tajwid, adab, dan disiplin—ternyata sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
Dan khidmah kecil mereka di Masjid An Nuur hanyalah awal dari perjalanan pengabdian yang lebih panjang.
Pulang mengendarai sepeda motor, Adib dan Ramadhan menghadapi ujian. Perjalanan masih menyisakan beberapa kilometer ban motor mereka meletus. Waktu itu tak satu pun bengkel atau tambal ban yang buka. Al hasil mereka menuntun motor hingga tiba di rumah. Ia tetap bersemangat, melanjutkan kegiatan di Masjid Manarul Islam Bangil.
Tinggalkan Komentar