Menu
Info Pesantren
Jumat, 10 Apr 2026
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur

Tembok yang Bicara

Terbit : Kamis, 12 Maret 2026

Tembok yang Bicara

Sebuah Fiksi Santri 

Sore itu beberapa santri putra Pesantren PERSIS Bangil berkumpul di halaman terbuka dekat asrama. Adib menunjuk sebuah tembok yang penuh coretan spidol dan goresan tak jelas.

“Lihat ini,” kata Adib sambil menggeleng. “Siapa ya yang melakukan ini?”

Fatih menatap sekilas lalu berkata santai, “Ah, cuma coretan. Nanti juga dicat lagi.”

Adil langsung menimpali, “Justru karena dianggap sepele, akhirnya banyak yang ikut-ikutan.”

Falih mendekat dan memperhatikan tulisan di tembok. “Ini bukan sekadar coretan. Ini fasilitas pesantren. Barang milik bersama.”

Amir menambahkan, “Kalau satu orang mulai, yang lain merasa boleh melakukan hal yang sama.”

Fatih masih terlihat santai. “Tapi kan temboknya tidak rusak parah. Kenapa harus dibesar-besarkan?”

Hirata yang sejak tadi diam akhirnya bicara pelan.

“Coba bayangkan kalau semua santri berpikir begitu. Lama-lama pesantren kita penuh coretan.”

Jihad menunjuk salah satu tulisan di tembok.

“Ini bahkan ada yang menulis nama sendiri. Seolah-olah ingin meninggalkan jejak.”

Zain tersenyum tipis. “Padahal kalau mau meninggalkan jejak, harusnya dengan prestasi atau karya, bukan dengan coretan.”

Suasana menjadi lebih serius.

Adib kemudian bertanya, “Menurut kalian, kalau ada santri yang ketahuan mencoret fasilitas pesantren, sanksi apa yang pantas?”

Adil menjawab cepat, “Yang paling logis: dia harus membersihkan dan mengecat ulang tembok itu.”

Falih menambahkan, “Bukan hanya itu. Dia juga harus ikut kerja bakti merawat fasilitas pesantren.”

Amir mengangguk. “Supaya dia merasakan bahwa merusak itu mudah, tapi memperbaiki itu butuh tenaga.”

Fatih yang tadi meremehkan mulai berpikir.

“Iya juga ya… kalau kita sendiri yang harus membersihkan, pasti kapok.”

Hirata lalu memberi ide baru.

“Tapi selain sanksi, kita juga harus mencari solusi.”

“Solusi apa?” tanya Jihad.

Hirata menunjuk papan kosong di dekat ruang kegiatan santri.

“Bagaimana kalau dibuat papan curhat atau papan kreasi santri?”

Zain tertarik. “Maksudnya tempat khusus untuk menulis?”

“Iya,” jawab Hirata. “Kalau ada yang ingin menulis pesan, motivasi, puisi, atau sekadar curhat, mereka bisa menuliskannya di sana. Bukan di tembok.”

Amir tersenyum.

“Itu ide bagus. Jadi kreativitas tetap tersalurkan, tapi fasilitas pesantren tetap terjaga.”

Fatih akhirnya mengangguk setuju.

“Kalau begitu, tembok tetap bersih, tapi santri tetap punya ruang berekspresi.”

Adib menatap kembali tembok yang penuh coretan itu.

“Pesantren ini milik umat,” katanya pelan. “Kalau kita sebagai santri tidak menjaganya, siapa lagi?”

Mereka semua terdiam sejenak.

Angin sore berhembus lembut di halaman pesantren. Di depan mereka, tembok yang penuh coretan seakan menjadi pengingat bahwa menjaga amanah bukan hanya tentang belajar kitab, tetapi juga tentang merawat apa yang dimiliki bersama.

Dan sore itu, para santri sepakat: tembok boleh dibersihkan, tetapi ide baik harus terus dituliskan—di tempat yang benar.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Flag Counter