
KETIKA KEBENARAN DIANGGAP ANEH SAAT AKHIR ZAMAN
Karnan Baiduri Akbar, Lc., Bidang Sosial Ekonomi PW PERSIS Jawa Timur
Islam Akan Kembali Dianggap Asing
Hadits Nabi ﷺ
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.”
(HR. Muslim)
Dalam hadits ini terkandung sejumlah poin diantaranya:
Adapun relevansi dengan situasi hari ini:
Kebenaran tidak berubah, tetapi persepsi manusia berubah.
Standar Moral Akan Terbalik
Ayat Al-Qur’an mengungkapkan:
أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ • مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ
“Apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa? Mengapa kamu berbuat demikian? Bagaimana kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam: 35–36)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah membedakan antara yang taat dan yang menyimpang. Namun di akhir zaman, batas itu dikaburkan.
Hadits Nabi ﷺ menyebutkan:
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الْقَابِضُ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
“Akan datang suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti menggenggam bara api.”
(HR. Tirmidzi)
Makna dalam hadits ini yaitu:
Kebenaran Dianggap Kebohongan, Kebatilan Dianggap Kebenaran
Hadits Nabi ﷺ menyebutkan:
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya; pendusta dipercaya, orang jujur didustakan; pengkhianat diberi amanah, orang amanah dianggap pengkhianat.”
(HR. Ahmad)
Relevansi:
Ini adalah krisis epistemologi: kebenaran tidak lagi diukur dengan wahyu, tetapi dengan tren.
Penyebab Kebenaran Dianggap Aneh
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ
“Apakah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Dampak terhadap Islam dan Kaum Muslimin
Sisi Positif: Kualitas Mengalahkan Kuantitas
Walaupun jumlah orang yang teguh mungkin sedikit, nilainya sangat tinggi di sisi Allah.
Di dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala berfirman:
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)
Dalam sejarah:
Kuantitas bukan ukuran kebenaran.
Sikap yang Harus Diambil
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ
“Maka tetaplah engkau istiqamah sebagaimana diperintahkan.”
(QS. Hud: 112)
Kesimpulan Utama
Ketika kebenaran dianggap aneh:
Orang beriman tidak menyesuaikan wahyu dengan tren,
melainkan menilai tren dengan wahyu.
Justru di masa seperti inilah derajat orang yang teguh menjadi tinggi. Mereka mungkin tampak asing di dunia, tetapi mulia di sisi Allah.
Kebenaran tidak pernah berubah. Yang berubah hanyalah keberanian manusia untuk mengikutinya.
Tinggalkan Komentar