
Ramadhan tahun ini menjadi pengalaman yang berbeda bagi Bintang Auliya Rizki dan Dafa Maulana. Jika biasanya mereka menjalani ibadah di lingkungan rumah, kini keduanya terbang jauh ke Kota Tarakan, Kalimantan Utara—sebuah kota kepulauan di utara Pulau Kalimantan yang berbatasan dekat dengan Malaysia.
Perjalanan mereka bukanlah perjalanan singkat. Dari Jawa, mereka menempuh penerbangan sekitar 2,5–3 jam menuju Balikpapan atau langsung ke Tarakan (jika tersedia rute langsung), lalu melanjutkan perjalanan hingga tiba di lokasi tugas. Secara geografis, Tarakan adalah kota pulau seluas kurang lebih 250 km², dikelilingi laut dan dikenal sebagai kota minyak sejak masa kolonial. Udara pesisir yang lembap dan suasana kota yang tenang menyambut langkah dakwah mereka.
Di sana, telah lebih dahulu bertugas dua alumnus: Fayyasy Mubarok Azamy dan Yusuf Surya Wibawa, yang mengabdikan diri di Yayasan Al Marhamah Indonesia—sebuah lembaga sosial dan pendidikan yang fokus pada pembinaan lansia, anak-anak, serta remaja.
Suatu sore, Bintang memandang halaman yayasan yang dipenuhi para lansia duduk melingkar.
“Yas, suasananya berbeda ya,” bisiknya kepada Fayyasy.
Fayyasy tersenyum, “Di sini kita belajar lebih banyak mendengar daripada berbicara.”
Yayasan Al Marhamah Indonesia memang memiliki kekhasan. Selain kegiatan pendidikan untuk anak-anak dan remaja, pembinaan lansia menjadi bagian penting aktivitas harian. Mereka tidak sekadar dirawat, tetapi diajak berinteraksi, mengaji, berdzikir, dan menghidupkan hari-hari dengan kebersamaan. Sejumlah alumnus Pesantren PERSIS Bangil memang sudah malang melintang di lembaga ini, seperti Ustadz M. Dzul Irfan, Ustadz Muhammad Dzul Funun, Ustadz Abdunnuur Razaqi, dan lainnya.
Dafa suatu pagi membantu seorang nenek mengambilkan mushaf.
“Nenek masih ingin menghafal surat pendek,” ujar sang nenek pelan.
Dafa menahan haru. “Masya Allah, semoga kami bisa menemani, Nek.”
Ramadhan benar-benar menjadikan mereka murabbi—pembimbing ruhani bagi lingkungan sekitar. Mereka mengisi kultum, membimbing tadarus, mengajar anak-anak, bahkan dipercaya menjadi imam dan khatib dalam shalat gerhana.
Seusai shalat gerhana, Yusuf menepuk bahu Bintang.
“Bagaimana rasanya jadi khatib di tanah seberang?”
Bintang tersenyum, “Deg-degan… tapi terasa sekali amanahnya.”
Menjadi imam dan khatib bukan sekadar tampil di depan. Itu adalah simbol kepercayaan umat. Dan kepercayaan itu dijaga dengan kesungguhan.
Secara geografis, Tarakan memang jauh dari Jawa—lebih dari 1.500 kilometer terbentang memisahkan. Namun jarak tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti berdakwah.
Pengabdian ini penting karena:
Yayasan Al Marhamah Indonesia menjadi contoh bagaimana lembaga sosial mampu memadukan pendidikan, kepedulian sosial, dan pembinaan ruhani dalam satu atap.
Suatu malam selepas tarawih, mereka duduk di serambi.
“Jaraknya jauh dari pesantren,” kata Dafa pelan.
Yusuf menjawab, “Justru karena jauh, kita belajar berdiri sendiri.”
Fayyasy menambahkan, “Dan kita belajar bahwa umat ini luas. Dakwah tidak boleh berhenti di satu kota.”
Di bawah langit Tarakan yang berbatas laut, para santri itu sedang menulis sejarah kecil mereka sendiri—sejarah tentang keberanian melangkah, tentang menguatkan yang lemah, dan tentang menghadirkan cahaya Ramadhan di ujung utara negeri.
Dari Jawa ke Kalimantan Utara, dari ruang kelas ke medan pengabdian—mereka membuktikan bahwa santri bukan hanya penuntut ilmu, tetapi pembawa rahmat bagi sekitar.
Tinggalkan Komentar