
Bangil, Rabu, 22 Juli 2026 — Pesantren PERSIS Bangil menerima kunjungan silaturahim dari rombongan Pimpinan Wilayah PERSIS Jambi yang dipimpin oleh Ustadz Fayzal Chakiem Abdillah, Ketua Pimpinan Wilayah PERSIS Jambi. Kunjungan tersebut berlangsung dalam suasana hangat penuh ukhuwah, meskipun diawali dengan kabar duka yang membawa rombongan ke Jawa Timur.
Ustadz Fayzal hadir bersama Ustadz Musta’in Darsuki, Mudir Pesantren Al Manar Jambi sekaligus alumnus Pesantren PERSIS Bangil angkatan 1992, Ustadz H. Gunawan, Lc., Pembina Pesantren Al Manar, serta Ustadz Hamdan, Wakil Kepala Bidang Kesiswaan Pesantren Al Manar. Sebelumnya, rombongan berada di Surabaya untuk bertakziyah atas wafatnya salah seorang asatidz Pesantren Al Manar.
“Ustadz Ahmad Hassan, salah satu asatidz kami di Pesantren Al Manar Jambi, berpulang pada Sabtu, 18 Juli 2026 di Surabaya,” ungkap Ustadz Fayzal.
Almarhum meninggalkan keluarga yang memiliki ikatan erat dengan Pesantren PERSIS Bangil. Menurut putra beliau, Ahmad Fathullah, alumnus Pesantren PERSIS Bangil tahun 2011, rumah duka berada di Jl. Sidotopo Gang V No. 12 B, Surabaya. Ahmad Fathullah bersama kedua adiknya, Nabilah Sari dan Nadiyah Sari, juga merupakan alumnus Pesantren PERSIS Bangil.
Di kampus Pesantren PERSIS Bangil, rombongan disambut oleh Mudir Pesantren, Ustadz Hefzi, Lc., bersama Ustadz Suud Hasanudin, M.Phil. Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh keakraban, mempererat hubungan antarlembaga yang selama ini telah terjalin melalui jejaring alumni dan dakwah pendidikan.
Salah satu sosok yang menjadi jembatan ukhuwah tersebut adalah Ustadz Musta’in Darsuki. Putra asli Bancar, Tuban, itu telah mengabdikan diri selama bertahun-tahun di Provinsi Jambi. Setelah menamatkan pendidikan di Pesantren PERSIS Bangil pada tahun 1992, beliau memilih jalan pengabdian di dunia pendidikan hingga kini dipercaya memimpin Pesantren Al Manar Jambi.
Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa ikatan sebuah pesantren tidak berhenti ketika santri dinyatakan lulus. Nilai-nilai yang ditanamkan selama masa pendidikan terus hidup melalui para alumnus yang mengabdi di berbagai daerah di Indonesia. Dari Bangil hingga Jambi, dari ruang-ruang kelas hingga mimbar-mimbar dakwah, terjalin satu benang merah: semangat menebarkan ilmu, menguatkan ukhuwah, dan melanjutkan perjuangan pendidikan Islam.
Di balik suasana duka yang mengiringi perjalanan rombongan, tersimpan hikmah tentang kuatnya persaudaraan. Silaturahim ini bukan sekadar kunjungan, melainkan penegasan bahwa keluarga besar pesantren akan selalu dipersatukan oleh ilmu, pengabdian, dan doa yang terus mengalir lintas generasi.

Tinggalkan Komentar