
Di dunia pendidikan, ada pengabdian yang diwariskan bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai panggilan hati. Demikian pula perjalanan Ustadzah Rifi Dewi Sulufiah, S.Pd., yang kini mengabdikan dirinya sebagai guru di Pesantren PERSIS Bangil.
Beliau merupakan putri dari Ustadz Arief Sujitno, M.M., yang pada masanya pernah mengajar Bahasa Inggris di Pesantren PERSIS Bangil. Kini, estafet pengabdian itu berlanjut melalui putrinya yang memilih jalan yang sama: mendidik generasi santri di almamater yang telah menjadi bagian dari sejarah keluarganya.
Latar belakang akademik beliau berasal dari Institut Pertanian Bogor (IPB), salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia yang dikenal dengan keunggulannya dalam bidang pertanian, sains hayati, dan ilmu lingkungan. Bekal keilmuan tersebut menjadikan beliau akrab dengan dunia Biologi, ilmu yang mempelajari kehidupan dalam segala kompleksitasnya. Untuk memperkuat kompetensinya sebagai pendidik profesional, beliau kemudian menempuh pendidikan keguruan sehingga memenuhi standar akademik sebagai seorang guru.
Di Pesantren PERSIS Bangil, Ustadzah Rifi mengampu mata pelajaran Biologi. Melalui pelajaran ini, beliau mengajak para santri memahami keajaiban makhluk hidup, keseimbangan ekosistem, serta keteraturan ciptaan Allah yang dapat diamati melalui pendekatan ilmiah. Setiap sel, tumbuhan, hewan, hingga tubuh manusia menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan dan keimanan dapat berjalan beriringan.
Selain mengajar, beliau mendapat amanah sebagai Wali Kelas 6 Putri. Pada jenjang akhir ini, seorang wali kelas tidak hanya mendampingi proses belajar, tetapi juga membantu mempersiapkan santri menghadapi ujian, menyusun rencana masa depan, dan menumbuhkan kedewasaan sebelum mereka melangkah ke jenjang berikutnya. Beliau juga dikenal aktif membina dan mendampingi santri dalam berbagai aspek kehidupan di pesantren.
Bertempat tinggal di Bangil, Ustadzah Rifi menjalankan perannya sebagai guru dengan semangat yang lahir dari perpaduan antara tradisi keluarga, bekal akademik, dan kecintaan terhadap dunia pendidikan.
Perjalanan beliau menunjukkan bahwa ilmu akan terus hidup ketika diwariskan.
Dari seorang ayah yang dahulu mengajar di ruang kelas yang sama.
Kepada seorang putri yang kini melanjutkan amanah itu dengan bidang ilmu yang berbeda.
Karena sesungguhnya, warisan terbesar seorang pendidik bukanlah jabatan ataupun penghargaan.
Melainkan lahirnya generasi berikutnya yang bersedia meneruskan pengabdian demi mencerdaskan umat dan menebarkan manfaat melalui ilmu.
Tinggalkan Komentar