
Malam itu di asrama Pesantren PERSIS Bangil, lampu sudah redup. Beberapa santri masih terjaga. Di sudut ruangan, Faris rebahan sambil menatap langit-langit.
“Kayaknya aku ini termasuk santri paling malas deh,” gumamnya.
Tiba-tiba terdengar suara aneh, seperti dengungan halus.
“Pernyataanmu belum tentu akurat.”
Faris langsung bangkit.
“Siapa itu?!”
Di depannya muncul sosok hologram biru transparan.
“Aku adalah sistem prediksi masa depan berbasis kecerdasan kuantum. Kamu bisa memanggilku A.M.A.L.”
Faris mengernyit.
“Ini mimpi ya?”
“Tidak. Ini simulasi kemungkinan hidupmu.”
Faris tertawa kecil.
“Kalau begitu, jawab deh. Kalau aku malas sekarang, masa depanku pasti jelek kan?”
Hologram itu berpendar.
“Tidak sesederhana itu. Masa depan tidak ditentukan oleh satu variabel saja.”
“Variabel?” tanya Faris bingung.
“Ada banyak faktor: niat, lingkungan, titik balik, dan keputusan kecil yang diambil di waktu tertentu.”
Tiba-tiba muncul beberapa gambar di udara.
Pada satu layar, terlihat Faris tetap malas, mengabaikan semua nasihat. Wajahnya tampak lelah di masa depan.
Di layar lain, terlihat Faris yang sama—tetapi suatu hari ia tersentuh oleh nasihat ustadz, lalu mulai berubah sedikit demi sedikit.
“Lihat,” kata A.M.A.L.
“Kamu memang bukan santri paling rajin sekarang. Tapi ada potensi perubahan.”
Faris menatap serius.
“Jadi… aku masih punya peluang?”
“Selama kamu hidup, peluang itu selalu ada.”
Faris terdiam sejenak.
“Berarti santai saja dong? Toh masih bisa berubah nanti.”
Hologram itu tiba-tiba meredup lalu menyala lebih terang.
“Itu kesimpulan yang salah.”
“Kenapa?”
“Semakin lama kamu menunda perubahan, semakin kecil probabilitas keberhasilanmu. Sistem ini mencatat: banyak yang berniat berubah ‘nanti’, tetapi gagal karena tidak pernah memulai.”
Faris menelan ludah.
“Jadi… malas sekarang itu tetap berbahaya?”
“Benar. Namun tidak berarti masa depanmu pasti gelap. Yang menentukan adalah apakah kamu memulai perubahan atau tidak.”
Tiba-tiba layar lain muncul. Terlihat Faris dewasa, sedang mengajar anak-anak, wajahnya tenang.
“Itu… aku?” tanya Faris pelan.
“Itu salah satu kemungkinan terbaikmu.”
Faris tersenyum tipis.
“Berarti kuncinya bukan ‘aku malas atau tidak’, tapi ‘aku mau berubah atau tidak’.”
“Analisis tepat,” jawab A.M.A.L.
Suara adzan Subuh mulai terdengar dari kejauhan.
Hologram itu perlahan menghilang.
“Sesi simulasi selesai. Keputusan ada padamu.”
Faris berdiri. Untuk pertama kalinya, ia bangun lebih cepat tanpa disuruh.
Sambil berjalan menuju masjid, ia bergumam,
“Mungkin aku belum rajin… tapi aku tidak mau tetap seperti ini.”
Langit mulai terang.
Dan di antara langkah-langkah kecil itu,
masa depan perlahan mulai ditulis ulang.
Tinggalkan Komentar