Menu
Info Pesantren
Selasa, 19 Mei 2026
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur

Di Antara Lembar Soal dan Lembar Doa

Terbit : Senin, 13 April 2026

“Di Antara Lembar Soal dan Lembar Doa”

Suasana kamar asrama malam itu terasa sedikit berbeda. Buku-buku terbuka, catatan berserakan, dan wajah-wajah yang biasanya santai kini terlihat lebih serius. Ujian akhir madrasah sudah di depan mata.

Farhah menutup bukunya pelan. “Zahra, kamu ngerasa nggak sih… makin dekat ujian, makin banyak yang harus dipelajari?”

Zahra tersenyum tipis. “Iya. Kadang bukan cuma soal pelajarannya, tapi juga rasa takutnya.”

Mumtazah yang sejak tadi menghafal, ikut menoleh. “Takut kenapa?”

Farhah menjawab pelan, “Takut nggak maksimal. Takut hasilnya nggak sesuai harapan.”

Zahra mengangguk. “Aku juga ngerasa gitu. Tapi aku mulai mikir… mungkin ujian ini bukan cuma tentang nilai.”

Mumtazah mengangkat alis. “Maksudnya?”

Zahra menarik napas sejenak. “Tentang seberapa jujur kita belajar. Seberapa sungguh-sungguh kita berusaha.”

Farhah tersenyum kecil. “Dan mungkin… seberapa kita bergantung sama Allah.”

Suasana hening sejenak. Kata-kata itu terasa menenangkan.

Mumtazah menutup bukunya. “Aku kemarin dengar ustadzah bilang, ujian itu sebenarnya latihan hidup. Nanti di luar sana, kita juga akan diuji, cuma bentuknya beda.”

“Berarti,” kata Farhah, “yang kita pelajari sekarang bukan cuma jawab soal, tapi juga cara menghadapi tekanan.”

Zahra tertawa kecil. “Dan cara tetap tenang walaupun panik.”

Mereka bertiga tertawa, mencairkan suasana.

“Kalau kamu sendiri, Mumtazah,” tanya Zahra, “targetmu apa di ujian ini?”

Mumtazah berpikir sejenak. “Jujur ya… aku pengen hasil terbaik. Tapi sekarang aku lebih pengen… keluar dari ujian ini dengan perasaan sudah berusaha maksimal.”

Farhah mengangguk. “Iya. Karena hasil itu urusan Allah, tapi usaha itu tanggung jawab kita.”

Zahra menambahkan, “Dan mungkin yang paling penting, jangan sampai ujian bikin kita jauh dari ibadah.”

“Setuju,” kata Mumtazah. “Justru harus makin dekat. Doa, shalat, semuanya harus lebih dijaga.”

Angin malam masuk perlahan dari jendela. Suasana terasa lebih tenang.

Farhah berkata pelan, “Kita ini lagi nulis cerita… bukan cuma di kertas ujian, tapi juga di hidup kita.”

Zahra tersenyum. “Semoga ceritanya baik.”

Mumtazah menutup dengan lembut, “Dan semoga yang kita dapat bukan cuma nilai tinggi… tapi juga ridha Allah.”

Mereka saling berpandangan. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorakan. Hanya keyakinan sederhana—bahwa di balik setiap ujian, ada proses yang membentuk mereka menjadi lebih kuat.

Dan malam itu, di antara lembar soal yang belum dikerjakan, mereka telah menuliskan satu hal penting:
bahwa ujian bukan hanya tentang apa yang diketahui, tetapi tentang siapa diri mereka sebenarnya.

Artikel Lainnya

Oleh : Humas Persis Bangil

TURUT BERDUKA

Oleh : Humas Persis Bangil

BANTUAN KURMA

Oleh : P4P PUSZIE

EKSIS II FINISH

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Flag Counter