Menu
Info Pesantren
Sabtu, 11 Apr 2026
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur

Jejak Digital dan Dosa Jariyah

Terbit : Jumat, 27 Februari 2026

Jejak Digital dan Dosa Jariyah

Sore itu, di selasar asrama Pesantren PERSIS Bangil, Nabila menatap layar ponselnya dengan ragu.

“Ini lucu sih,” katanya pelan. “Tapi kayaknya agak nyindir orang…”

Athyrah mengangkat wajah dari bukunya. “Nyindir siapa?”

“Ya… ada teman yang lagi salah. Banyak yang repost. Aku takut kalau ikut-ikutan, malah jadi dosa jariyah.”

Naila menyahut, “Dosa jariyah itu kan dosa yang terus mengalir, ya? Selama kontennya masih ada dan dilihat orang?”

Hana mengangguk. “Iya. Kadang kita cuma pencet ‘share’. Tapi efeknya bisa panjang.”

Nasywa yang sejak tadi diam akhirnya bicara, “Masalahnya, banyak orang nggak sadar. Mereka pikir cuma hiburan. Padahal bisa jadi ghibah, fitnah, atau mempermalukan orang.”

Suasana hening sejenak.

Tak lama, datanglah Kak Salsabila, kakak kelas yang masih mondok dan dikenal bijak. Ia duduk bersama mereka.

“Kalian lagi bahas apa?”

“Etika media sosial, Kak,” jawab Nabila. “Takut salah posting.”

Kak Salsabila tersenyum. “Takut itu bagus. Itu tanda hati masih hidup.”

Ia melanjutkan dengan tenang, “Di pesantren kita belajar menjaga lisan. Tapi sekarang, jempol juga bagian dari lisan. Bedanya, kalau lisan salah, mungkin didengar sepuluh orang. Kalau jempol salah, bisa sepuluh ribu.”

Athyrah terlihat berpikir. “Berarti standar kehati-hatian harus lebih tinggi ya, Kak?”

“Betul. Dalam Islam, menyebarkan aib itu dilarang. Apalagi kalau kita tidak tahu kebenarannya. Sekali unggah, jejak digitalnya bisa bertahan lama.”

Beberapa hari kemudian, dalam forum daring alumni, hadir Kak Nadia—alumni yang kini kuliah di jurusan komunikasi.

Ia memberi perspektif lebih luas. “Secara akademik,” katanya, “media sosial itu ruang publik. Apa yang kita unggah membentuk citra diri dan institusi. Kalian santri. Orang akan melihat perilaku kalian sebagai representasi pesantren.”

Nasywa bertanya, “Tapi kadang sulit menahan diri, Kak. Apalagi kalau lagi emosi.”

Kak Nadia menjawab tegas, “Karena itu etika lebih penting dari ekspresi. Kebebasan tanpa tanggung jawab melahirkan kerusakan. Dalam teori komunikasi, ada prinsip think before posting: apakah ini benar? apakah ini baik? apakah ini bermanfaat?”

Hana menambahkan, “Kalau tidak memenuhi tiga itu?”

“Lebih baik tidak diunggah,” jawab Kak Nadia. “Diam di dunia maya kadang lebih menyelamatkan daripada aktif tanpa arah.”

Kak Salsabila menutup diskusi dengan kalimat yang membuat mereka terdiam, “Bayangkan kalau setiap postingan kita menjadi saksi di akhirat. Apakah kita siap mempertanggungjawabkannya?”

Nabila mematikan layar ponselnya.

“Aku hapus saja,” katanya mantap.

Athyrah tersenyum. “Lebih aman.”

Naila menambahkan, “Kalau mau viral, mending viral karena kebaikan.”

Mereka tertawa kecil, tetapi kali ini dengan kesadaran baru.

Di pesantren, mereka belajar bahwa amal jariyah bukan hanya membangun masjid atau menyebarkan ilmu. Di era digital, membagikan nasihat yang baik, ilmu yang benar, dan konten yang menenangkan juga bisa menjadi pahala yang terus mengalir.

Sebaliknya, satu unggahan yang merendahkan, satu komentar yang memicu kebencian, atau satu repost yang belum jelas kebenarannya—bisa menjadi dosa yang tak terputus.

Sore itu, di bawah langit Bangil yang mulai meredup, para santri itu belajar satu hal penting: menjaga etika bermedia sosial bukan sekadar soal sopan santun, tetapi soal tanggung jawab iman.

Karena setiap jejak digital adalah jejak amal.

Artikel Lainnya

Oleh : Humas Persis Bangil

MEMORI UJIAN DAUR ERA ’90

Oleh : Humas Persis Bangil

BUKA PUASA SUNNAH

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Flag Counter